Baraya,
Bangsa Indonesia, ayeuna geus jadi bangsa kacida konsumtif-na. Ka uyah 
uyah, meuli. he..he..he..
tapi ternyata di bangsa deungeun, di negara maju jeung beunghar, 
berkembang hiji gaya hidup anu sabalikna tina konsumtif. Maranehna 
nyebut gaya hirupna teh "freeganism".

websitena : www.freegan.info

gaya hirup ieu pernah dibahas oge dina acara talkshow Oprah.

dihandap aya rangkumanna :

http://semuainibikin.dagdigdug.com/2009/01/24/contoh-rumah-tangga-hijau/

Ada yang ingat The Oprah Winfrey Show 7 November 2008 di Metro TV yang 
membahas freeganism? Sampai sekarang saya gak tahu apakah gaya hidup 
freeganism diakui dalam ‘klan’ gaya hidup ramah lingkungan (menurut saya 
pribadi sih, iya).

Secara singkat, gaya hidup freeganism itu adalah mengurangi atau bahkan 
memotong banyak konsumsi dalam keseharian (bisa makanan, pakaian, dsb.). 
tetapi orang-orang freegan dianggap ekstrim karena kebanyakan mengurangi 
pembelian barang dengan cara mencari barang yang sama ke tempat lain, 
yaitu… tempat sampah.

Dalam episode tersebut, diulas sepasang pengantin baru, Daniel dan 
Amanda, yang masing-masing suami dan istri adalah seorang dokter dan 
engineer. Secara pendidikan dan profesi, pendapatan mereka besar, tetapi 
mereka memutuskan untuk hidup sangat sederhana. Sebelum menikah pun 
mereka sudah terbiasa untuk mencari makanan dan barang-barang lainnya 
(yang mereka perlukan saja) di tempat sampah. Bukan sembarang tempat 
sampah, tentunya, melainkan tempat-tempat sampah besar di rumah makan 
dan/atau supermarket.


Saya sendiri kaget banget bagaimana mereka bisa dapat beberapa furnitur 
dan banyak makanan yang masih layak pakai hanya dari tempat sampah (dan 
juga kaget betapa mudahnya orang-orang membuang barang-barang layak 
pakai tersebut ke tempat sampah).

Intinya, pasangan ini (dan para freegans lainnya) mencoba menjalani gaya 
hidup yang jauh dari sifat konsumtif. Kalo kita mungkin gak bakalan rela 
makan makanan yang berasal dari tempat sampah, tapi intinya ya memang 
bukan tentang itu, tetapi bahwa lebih baik hidup dengan memprioritaskan 
kebutuhan kita dulu.

Hal lain yang membuat saya terkejut (sekaligus kagum) dari gaya hidup 
freeganism ini adalah bahwa ada orang-orang yang rela meninggalkan gaji 
jutaan dolar mereka ‘hanya’ untuk hidup sebagai freegan dan lebih 
memilih menjadi relawan organisasi-organisasi (dan tanpa dibayar).

Mereka mengajak kita merenungkan pikiran (ekstrim sekaligus realistis) 
mereka, apa sih tujuan kita bekerja? Cuma untuk memenuhi kebutuhan dan 
keinginan kita? Seberapa banyakkah sebetulnya hal-hal yang kita butuhkan 
itu? Buat apa sih, kita sampai punya dua bahkan tiga pekerjaan? Padahal 
kalo kita mengurangi apa yang kita butuhkan dan yang kita inginkan, maka 
satu pekerjaan pun cukup. Karena bukankah semakin keras kita bekerja dan 
semakin banyak uang kita, maka semakin banyak pula yang kita inginkan?

Sewaktu istri engineer yang saya sebut di atas tadi ditanya oleh 
reporter Lisa Ling, apakah mereka tidak malu disebut sebagai pengais 
sampah, jawaban yang diberikan membuat saya menangis secara harfiah:
"Lebih baik disebut sebagai pengais sampah, daripada disebut sebagai 
pembeli barang-barang tak berguna."

Mampukah saya se-humble mereka, para freegans? Mampukah kita?


------------------------------------

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke