Aya artikel menarik, pakait isu sengketa Indonesia-Malaysia.
mh

====
Jurnalisme Kuning dan Isu Malaysia

Oleh Giri Ahmad Taufik

Kurang lebih seratus tahun lalu, rakyat Amerika berang dengan tenggelamnya
USS Maine yang menewaskan seluruh awaknya di lepas Pantai Kuba. Rakyat
Amerika menuduh Spanyol menyerang kapal tersebut yang menyebabkan pecahnya
perang Spanyol-Amerika. Ironisnya, setelah perang usai diketahui USS Maine
tenggelam karena kecelakaan di kapal tersebut, yang pada awal permulaan
konflik diberitakan oleh media massa Amerika, dengan sensasionalitas yang
luar biasa, karena diledakkan Spanyol. Untuk pertama kalinya kekuatan media
unjuk gigi dalam memengaruhi kebijakan pemerintah untuk berperang dengan
mempraktikkan apa yang disebut yellow journalism.

Berjarak seratus tahun dari peristiwa Spanish-America War, di belahan dunia
lain, Indonesia dan Malaysia, dua negara serumpun terlibat ketegangan akibat
salah satunya mengabaikan prinsip bertetangga yang baik. Klaim terhadap
wilayah teritorial, penggunaan ikon pariwisata Indonesia yang tidak
semestinya, dan perlakuan kasar warga negara Indonesia oleh Malaysia,
menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi berang. Keberangan itu bereskalasi
menjadi dendam dan kebencian mendalam terhadap Malaysia. Ekspose media
terhadap persoalan ini menjadi demikian hebat dengan sensasionalitas luar
biasa.

Persoalan klaim budaya pun merembet ke isu lain yang tidak relevan, seperti
mempersoalkan kehadiran mahasiwa Malaysia di Indonesia. Penyikapan pun
menjadi semakin irasional dan tidak proposional, diiringi dengan pemberitaan
yang sensasional dan berlebihan. Dengan derajat pemberitaan seperti ini,
banyak media di Indonesia terindikasi mempraktikkan jurnalisme kuning.

Jurnalisme kuning

Pada dasarnya, jurnalisme kuning (yellow journalism) merupakan fenomena
jurnalisme yang melanda AS di era akhir 1800-an dan awal 1900-an. Persaingan
untuk meningkatkan penjualan oplah, atau dalam era sekarang untuk mendorong
klik (dalam media dotcom) atau rating dalam media TV, membuat media di New
York pada saat itu memberitakan skandal-skandal dan mengemas pemberitaan
secara sensasional.

Jurnalisme kuning, tentu bukan fenomena baru dan bahkan tidak asing lagi
bagi masyarakat kita. Dengan mudah kita akan mengidentifikasi sejumlah media
yang terkategori media hiburan sebagai pengamal setia jurnalisme kuning di
Indonesia. Terkait isu Malaysia misalnya, bagaimana Manohara tiba-tiba
menjadi "pahlawan nasional" yang ditindas penguasa Malaysia, tanpa
mempertimbangkan aspek-aspek lain untuk menciptakan proporsionalitas
pemberitaan.

Pengamalan jurnalisme kuning tidak selamanya dimonopoli oleh media tidak
serius, seperti media massa. Dalam derajat tertentu, media yang terkategori
serius pun sering mengamalkan jurnalisme kuning, terutama media-media yang
memiliki agenda tertentu dan berafiliasi terhadap garis pemikiran tertentu.
Salah satu contoh, media-media yang bermunculan pada konflik Maluku di awal
masa reformasi yang secara sensasionalitas mengumbar gambar-gambar vulgar
disertai analisis-analisis dangkal dengan penyebutan kelompok agama tertentu
sebagai musuh yang harus dibasmi.

Namun demikian, selalu terdapat dua sisi dalam mata uang. Jurnalisme kuning
pada satu sisi, dapat mendorong dan menjadi alat efektif dalam mendorong
perubahan. Namun dalam sisi lain, Jurnalisme kuning dapat pula memicu
kekerasan dan radikalisasi.

Isu Malaysia

Indikasi menggejalanya jurnalisme kuning dalam isu Malaysia, secara masif
dan sistemik dapat dilihat dalam isu "klaim tari pendet". Salah satu media
elektronik di Indonesia memproduksi gambar secara berulang-ulang diikuti
dengan narasi persuasif dengan mengulang-ulang kalimat "Malaysia kembali
mengklaim". Dalam isu lainnya, yakni pemberitaan media lain di Indonesia
tentang dilecehkannya lagu "Indonesia Raya". Dengan analisis spekulatif,
pewarta media itu menyimpulkan, pelecehan lagu tersebut berasal dari
Malaysia karena dibuat dalam style bahasa Malaysia dan dalam forum Malaysia.
Dua contoh tadi, mengindikasikan dua hal. Yang pertama, pengejaran pada
sensasi/berlebihan dan contoh yang kedua adalah pendasaran yang tidak
reliabel dan kredibel yang masuk dalam karekteristik jurnalisme kuning.

Praktik jurnalisme kuning tersebut ditambah dengan kurangnya pemberitaan
terhadap counter argument yang proposional terhadap versi lain dari isu
Malaysia membuat banyak masyarakat Indonesia menarik kesimpulan, Malaysia
adalah musuh dan pencuri. Labelisasi dan eksploitasi kebencian secara
berulang-ulang dan massif ini akhirnya dapat menumbuhkan bibit radikalitas
di kalangan masyarakat Indonesia, bukan tidak mungkin dapat mengaktifkan
individu radikal frustrasi melakukan tindakan-tindakan kontraproduktif atau
dalam teori paling konspiratif, membuka kemungkinan dimanfaatkan oleh
kelompok kepentingan yang menginginkan destabilisasi.

Pertanyaan yang tersisa adalah apakah eksploitasi isu demi klik dan rating
merupakan tawaran sesungguhnya dari komunitas pers Indonesia, dengan kedok
kebebasan pers. Atau fenomena ini merupakan fenomena insindental yang
berdiri sendiri dan tidak merefleksikan praktik jurnalistik Indonesia atau
hal ini merupakan problematisasi penulis saja yang menafsir fenomena ini
secara berlebihan. Jika kemudian jawaban yang benar adalah dua yang
terakhir, sudah sewajarnya kita mengucap syukur mengingat kerusakan yang
ditimbulkan oleh jurnalisme kuning dalam kesejarahannya.***

Penulis, Postgraduate Student Law Faculty University of Melbourne dan
pengajar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.

cite:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=95739

=====
On Wed, Sep 2, 2009 at 7:54 AM, mj <[email protected]> wrote:

> Negri jiran keur resep ngaku produk budaya indonesia, kamari tari pendet
> ayeuna maranehna ngaku deui yen orangutan teh sabenerna.....penduduk asli
> negeri eta. Haha
> sent by strob...@cihideung bandung :)
>
>
> ------------------------------------
>
>

Kirim email ke