Dear Saderek dulur,

Mohon ijin sharing update artikel terbaru dari Indonesian Peacekeepers.
Cerita dari staff PBB Indonesia yang bertugas pada misi Pemulihan Perdamaian
PBB di Port Au Prince, Haiti.

Memperkenalkan Eno Thamrin yang kini bertugas dibawah naungan
MINUSTAH<http://unmissions.minustah.org/>,
cerita lengkapnya boleh ditengok di --->
http://pralangga.org/articles/bertemunya-si-anak-hilang

Juga kami mengundang rekans untuk dapat meramaikan komunitas Indonesian
Peacekeepers <http://www.facebook.com/group.php?gid=5057875788> pada halaman
facebook kami, dengan demikian updates dan ragam kegiatan anak bangsa pada
kancah multilateral seperti United Nations Peacekeeping Operations
senantiasa menjadi maklum dan faham.

Salam hangat dari afrika barat, semoga email undangan ini berkenan.
-- 
Luigi Pralangga
c/o. United Nations Mission in Liberia (UNMIL)
Procurement Section,  Via Diplomatic Mail
PO Box 4677 Grand Central Station
New York, NY 10163-4677, USA
Web - http://pralangga.org


---------- Forwarded message ----------

   PRALANGGA.ORG - Our Peacekeeping Journey <http://pralangga.org/>
 <http://fusion.google.com/add?source=atgs&feedurl=> [image: Link to
PRALANGGA.ORG - Articles] <http://pralangga.org/>
------------------------------

Bertemunya si anak
hilang<http://pralangga.org/articles/bertemunya-si-anak-hilang>

Posted: 09 Sep 2009 10:57 AM PDT

Beberapa saat yang lalu melalui jaringan facebook, berkenalan lah saya
dengan Mas Tri <http://www.facebook.com/ambarnugroho> yang notabene salah
satu teman dari teman baik
saya<http://www.facebook.com/profile.php?id=701041938>yang dulu
sama-sama pernah bekerja di Aceh setelah pasca Tsunami. Sebenarnya
Mas Tri bukan profile baru bagi saya…, dari cerita-cerita
Marion<http://www.facebook.com/profile.php?id=701041938>(teman saya
yang pernah bertugas di Aceh) yang saat itu bertugas di Liberia,
dia selalu bercerita tentang kedekatannya dengan orang-orang Indonesia yang
bertugas di Liberia, boleh dibilang karena Marion bisa berbahasa Indonesia
(maklum dia separuh indonesia separuh *londo*), dari ceritanya lah saya
mengetahui bahwa ada kontingen militer Indonesia dan Military Observer yang
bertugas di Liberia.

[image: Eno Thamrin] <http://www.flickr.com/photos/pralangga/3903711087/>

Oh ya sebelum lanjut ceritanya,mending saya memperkenalkan diri dulu deh…,
teman-teman disekeliling saya lebih mengenal saya dengan nama Eno,nama
lengkap saya sebenarnya *Endang Dwi Satriyani*, nama yang cukup panjang tapi
untuk lebih simplenya cukup panggil saja Eno,sekarang saya bertugas di
MINUSTAH, Haiti <http://unmissions.minustah.org/>, sebagai UNV Finance
Advisor, bertugas di bawah UNPOL yang khususnya bekerja sama dengan Haitian
National Police <http://en.wikipedia.org/wiki/Haitian_National_Police>.

Lanjut cerita..,mulai dari facebooklah saya mulai mengenal teman-teman dari
misi yang lain, Kang Lui <http://www.facebook.com/pralangga> yang sebenarnya
dari dulu, saya suka membaca cerita-cerita singkat
beliau<http://pralangga.blogspot.com/>mulai dari yang
*konyol* sampai laporan pandangan mata tentang kegiatan-kegiatan Pasukan
Penjaga Perdamaian Indonesia <http://pralangga.org/articles> diberbagai misi
di bawah naungan PBB.

Tentu saja perkenalan saya berlanjut dengan acara telepon-telepon antar
mission yang notabene gratis.. *Heheheheh…*, untuk memperkenalkan diri
dengan teman-teman di mission lain. Ibaratnya ini…saya anak yang hilang…
trus bertemu dengan keluarga… pastilah saya senangnya bukan main bisa
berbagi cerita dengan saudara2 yang bertugas di Mission yang lain.

Inilah sekilas catatan perjalanan dari saya yang sekarang bertugas di Haiti.

*September 2007*

Setelah hampir dua tahun lebih berkerja di Aceh pasca Tsunami dan beberapa
bulan bekerja di Atambua (perbatasan antara Indonesia dengan RTL), dengan
berat hati ibu saya mengizinkan saya untuk berangkat dan bertugas ke Haiti.
Layaknya semua ibu…, ibu saya mulai memberikan wanti-wanti dan wejangan
untuk berhati-hati di negeri orang. Terus terang saya pun yang pada saat itu
masih berada di Atambua masih agak sedikit ragu untuk mengambil assigment
ini (2 assignment yang pernah ditawarkan oleh UNV Headquarters di
Bonn<http://one.unv.org/main/?Lang=en>,
saya tolak dengan alasan keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan), setelah
melalui berbagai pertimbangan dan naluri petualangan untuk mencoba hal-hal
yang baru.

Akhirnya saya mantap untuk pergi. Bapak saya yang tau betul sifat saya,
akhirnya mendukung keputusan saya untuk berangkat dan bergabung dengan UN
Misssion di Haiti <http://unmissions.minustah.org/>.

Waktu yang sangat sempit yang di berikan oleh UNDP
Jakarta<http://www.undp.or.id/jobs>untuk berangkat tidak memberikan
saya banyak waktu untuk berkumpul dengan
keluarga yang notabene berada di Makassar, akhirnya disepakati bahwa tanggal
keberangkatan saya sekitar tanggal 19 September.

Tanggal 18 September, sehari sebelum hari keberangkatan yang ditentukan,
saatnya untuk mengambil tiket yang telah di janjikan oleh kantor
UNDPJakarta, setelah berbagai proses, akhirnya tiket telah ditangan…,
tapi ada
satu masalah besar yang ternyata kedepannya akan menjadi cerita yang
menarik…, karena satu dan lain hal,kantor UNDP Jakarta tidak dapat
menyediakan visa Amerika untuk saya, waktu yang sempit dan *“Political
Situation”*, katanya yang tidak memungkinkan untuk menyediakan visa buat
saya.

Akhirnya…setelah melalui berbagai diskusi diputuskan untuk mengubah rute
yang akan saya lalui, kali ini rutenya tidak akan melalui Amerika lagi…tapi
rutenya berubah…mulai dari Jakarta, Singapura, Bangkok, Swedia, Madrid,
Santo Domingo dan akhirnya Port Au Prince, Haiti.

[image: Bangkok Airport - Getty
Images]<http://www.flickr.com/photos/pralangga/3904550890/>

[image: Bangkok Airport - Getty
Images]<http://www.flickr.com/photos/pralangga/3903766719/>
Airport di Bangkok, Thailand.

Dalam hati saya: *“…haaaaaahhh…??”* saya harus berkeliling setengah dunia
dulu baru sampai ke Haiti, plus tanpa visa apapun di passport saya…. *”This
will be a trouble for me”…*.

Dari UNDP Jakarta mencoba meyakinkan saya, bahwa semua akan ok saja, karena
rute yang akan saya lalui tidak memerlukan visa buat saya….tetap saja dengan
nada kuatir saya tetap saja menanyakan hal-hal penting yang harus saya
ketahui, tentu saja dengan berbekal dengan dokumen-dokumen penting baik yang
dikirim dari Haiti maupun dari Bonn saya mantapkan hati untuk berangkat.

Dari Jakarta mulailah perjalanan saya, dengan pandangan yang agak sedih saya
melongok ke luar jendela pesawat, pesan ibu dan Tuan Baron (itu panggilan
sayang kami buat bapak….heheheheh) tergiang di telinga…, doa mulai
kupanjatkan agar perjalanan nantinya lancar sampai tiba ke tempat tujuan.
Dalam hati saya berkata, Insya Allah dalam waktu 6 bulan saya akan pulang ke
Indonesia…

*Ternyata jauh dari yang saya bayangkan, saya pulang setelah 1 tahun
bertugas di Haiti…*

Saya melongok sebentar kedalam ransel yang saya bawa…(ransel hijau butut
yang setia saya bawa kemana-mana dengan lambang tulisan *“Indonesia”* di
bagian depannya), di dalamnya ada dokumen2 penting dan ternyata Ibu saya
memasukkan 2 benda penting, yang tidak saya sangka sama sekali…, *satu
adalah boneka hasil jahitan tangannya* dan *satu bendera Indonesia berukuran
kecil*…., air mata saya sedikit jatuh….sedih mengingat semuanya….(mellow
mode on…!).

Membayangkan akan melalui puasa dan lebaran di negeri antah berantah…tanpa
keluarga: “*sedihh…!*“

Tidak memakan banyak waktu untuk tiba di Singapore, berganti pesawat menuju
Bangkok dan seterusnya. Disinilah mulai kesulitan yang saya hadapi tanpa
visa apapun di passport saya, pihak Airlines menolak untuk memberangkatkan
saya, dengan alasan mereka tidak mau menanggung akibat kalau saja pihak
negara yang saya singgahi menolak saya untuk transit. Negoisasi yang alot
dan tentu saja saya mulai mengeluarkan jurus-jurus sakti saya.. (Maksudnya
dokumen2 penting yang dikirim dari UNV Hq – Bonn dan MINUSTAH – Haiti), tapi
tetap saja mereka berkeras tidak mau memberangkatkan saya… tapi dengan gaya
yang optimis _(padahal dalam hati khawatirnya *minta ampuun* …deh..).

Saya menjelaskan kalau mereka bisa menghubungi pihak UNV – Bonn,
UNDPJakarta ataupun UN Mission di Haiti…
*(ribet kan…hehehehehe)*, akhirnya melihat saya yang ngotot….mereka akhirnya
merelease boarding pass buat saya…dengan hati saya agak sedikit
lega…akhirnya bisa boarding.

Perjalanan yang panjang pun dimulailah. Dari Singapore, Bangkok untuk
transit, kemudian ke Swedia, lalu Madrid…alhasil disetiap tempat transit
yang saya lalui, saya selalu mendapat kesulitan yang sama, berurusan dengan
petugas imigrasi menjadi hal yang harus saya antisipasi setiap kali saya
transit *(tidak mudah berurusan dengan petugas imigrasi!!)*, jangan tanya
pula masalah dengan bahasa, saya yang pada saat itu hanya bisa berbahasa
Inggris, kadang2 harus ber*Spanglish* (English campur Spanish…hehehe) dengan
petugas imigrasi yang bertugas, semisalnya pada saat transit di Madrid dan
Santo Dominggo, rata-rata mereka kurang bisa berbahasa Inggris, sementara
saya…..cuman ngerti sedikit…

Jadilah kami ber-Spanglish-ria. Kejadian lucu dan lumayan menjengkelkan pada
saat ternyata saya harus bermalam di Santo Dominggo, Republik
Dominica…karena ternyata jadwal penerbangan untuk saya di undur satu hari,
terpaksa saya harus bermalam di dalam airport dan tidak bisa keluar dari
area airport karena tidak ada visa, salah satu petugas imigrasi kemudian
menyediakan satu tempat kecil buat saya untuk beristirahat…, dengan
bersyukur dalam hati saya akhirnya bisa tertidur sedikit, yang tidak saya
antisipasi ternyata ada satu petugas imigrasi yang ditugasi diluar untuk
menjaga saya…(mungkin mereka pikir saya akan kabur…heheheh), petugas ini
mengikuti saya kemana-mana, alhasil saya pun protes kepada officer imigrasi
yang lain.

Masalahnya…coba bayangin saja: *orang ini juga mau mengikuti saya sampai ke
toilet..!!!*, dengan bahasa Inggris campur spanish yang tidak
karu-karuan…saya protes…kalau saya cuma mau ke toilet….!!, Nah si officer
ini ternyata mengerti protes saya, kemudian cuman berkata, bahwa itu adalah
tugas dia untuk mengawasi saya…(*ampuunnn….dehhh!!*).

Akhirnya, dia memberikan pengertian ke petugas itu kalau dia boleh
“mengawasi“ saya sampai ke pintu luar toilet….tentu saja saya akan teriak
kalau2 saja dia berani mengikuti saya sampai ke dalam ………!!

Saya yang sudah capek dengan panjangnya perjalanan mulai dari Jakarta sampai
ke Santo Domingo (3 hari perjalanan yang membuat badan saya rasanya
patah2…,dan tentunya tidur yang tidak teratur..), mulai tidak tidak
sabar…dan mulai memplototin petugas itu…..

Akhirnya setiap kali mau ke toilet, saya cuma menunjuk toilet yang jauhnya
kira2 sekitar 10 meter dari tempat dia…tentunya dengan mata yang agak
sedikit melotot dalam hati si petugas pasti berpikir: “*Wahhh, sangar juga
nihh cewek, artinya awass ngga usah ngikutin saya….*“ Begitulah kira-kira
arti mata melotot saya…_hehehehe_.

Perjalanan dari Santo Domingo, esok harinya tidak memakan waktu yang banyak
hanya sekitar 45 menit melalui udara. Siang hari tibalah saya di Port Au
Prince, Haiti… Matahari Port Au Prince yang ternyata sangat menyengat
membuat saya membuat tambah lebih capek!..…

[image: Haiti view from
Heli]<http://www.flickr.com/photos/pralangga/3903713353/>

[image: View from the Heli]<http://www.flickr.com/photos/pralangga/3904495250/>

Penderitaan ini tidaklah usai sampai disitu, ternyata petugas yang
seharusnya menjemput saya di airport terlambat datang…, wajah-wajah yang
tidak jelas mulai mengerubungi saya, mereka mulai berbicara dalam bahasa
yang sama sekali tidak saya mengerti…kadang ada terselip bahasa prancis dan
selanjutnya saya tidak dapat menangkap apa yang mereka katakan (ternyata
yang mereka pakai adalah *Bahasa Creole*…).

Dari lagaknya mereka menawarkan/memaksa saya untuk memakai telepon, mungkin
karena melihat tampang saya yang asing, mulailah mereka mengerubungi saya
berteriak-teriak: “…Philipino…Philipino…komos taka??…”. Mereka berpikir saya
dari Philiphines. Kemudian dari roman muka yang agak terkejut, lalu
tersenyum dan setelah itu mulai deh pasang tampang sedikit masam, saya
akhirnya kembali ke dalam ruangan airport. Sambil berpikir… kalau sampai 30
menit penjemput saya tidak datang, maka saya harus mencari jalan lain.

Tunggu punya tunggu…akhirnya 30 menit sudah lewat…., akhirnya saya
memberanikan diri keluar lagi…, melongok dari pintu mencoba melihat
kalau-kalau si penjemput saya sudah tiba *(biasanya sih datang membawa papan
nama dengan bertulis nama org yang di tunggu…)*, akhirnya setelah beberapa
menit saya melihat beberapa mobil UN yang terparkir di luar airport.

Melihat saya yang melongok kesana kemari, saya akhirnya dihampiri oleh salah
satu UNPOL yang dari lambang bendera dibahu kanan-nya ternyata dari
Philiphines, sambil menyapa saya dia mulai berbicara dalam *Bahasa Tagalog*,
dimana sedikit-sedikit mengerti, tapi untuk lebih memperjelas diri akhinya
sambil tersenyum saya bilang bahwa saya bukan dari Philiphines, tetapi dari
Indonesia. Guna lebih memperjelas lagi, saya memperlihatkan ransel hijau
butut saya yang bertuliskan *Indonesia*….*heheheheheh*.

Alhasil dengan bantuan si abang yang dari Philiphines ini…akhirnya saya bisa
sampai ke Logistic Base…*hhmmm perjalanan yang melelahkan……!*

Tidak terasa bulan September 2009 ini genap 2 tahun saya bergabung dengan UN
Mission di Haiti. Cerita selanjutnya mengenai pengalaman saya selama
bertugas akan saya ceritakan di lain waktu……..terima kasih …..ciaooo…
  You are subscribed to email updates from PRALANGGA.ORG -
Articles<http://pralangga.org/>
Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA
60610






-- 
Luigi Pralangga
c/o. United Nations Mission in Liberia (UNMIL)
Procurement Section,  Via Diplomatic Mail
PO Box 4677 Grand Central Station
New York, NY 10163-4677, USA
Web - http://pralangga.org

Kirim email ke