Hilal Awal Syawal

Oleh Moedji Raharto

Kalender Islam merupakan sistem kalender Bulan, fenomena perubahan
penampakan wajah sabit bulan menjadi acuan untuk menetapkan selang
waktu satu bulan dalam kalender Islam. Ketentuan hadis dan sains
kalender Islam menjadi landasan yang kuat, satu bulan Islam paling
sedikit 29 hari dan paling banyak 30 hari. Ketentuan dasar dalam
kalender Islam setiap awal bulan Islam ditentukan dengan adanya hilal,
fenomena penampakan sabit bulan yang sangat tipis di langit dan masih
memungkinkan untuk diamati dengan mata bugil manusia. Ada dua
pandangan keberadaan hilal tersebut cukup dilihat dari perhitungan dan
keberadaan hilal selain dihitung masih perlu diverifikasi dengan
pengamatan hilal.

Model perhitungan juga bermacam-macam, menggunakan tabulasi, tanpa
kriteria atau memperhitungkan posisi bulan dan matahari dan kriteria
visibilitas hilal. Pengamatan kehadiran awal bulan Islam dengan
mengamati hilal, bila indikator lainnya misalnya fenomena kehadiran
air pasang (siang/sore hari) dipergunakan maka bisa jadi terdapat
hasil penentuan yang berbeda. Secara operasional, penentuan awal bulan
Islam masih beragam. Penggunaan tabulasi dalam menentukan awal bulan
Islam seperti dalam sistem hisab urfi, memanfaatkan statistik
perata-rataan siklus sinodis bulan. Perbedaan antara sistem tabulasi
dan perhitungan hakiki posisi bulan dan matahari bisa terjadi karena
periode sinodis bulan berkisar antara 29,3 hingga 29,8 hari, rata-rata
29,53 hari.

Untuk mendapatkan keberhasilan itu perlu persiapan yang sangat serius,
memastikan lokasi hilal, karena umumnya kesempatan melihat hilal hanya
sedikit. Hilal yang tertangkap pada medan pandang teleskop akan
memandu pengamatan dengan mata bugil. Kondisi kaki langit dekat
horizon/ufuq barat perlu dipastikan arah pemandangan ke matahari
terbenam dengan radiusnya sekitar 10 derajat tidak terhalang tanaman,
bukit, bangunan, dan sebagainya. Untuk mengomunikasikan hasil pengamat
hilal secara langsung dipergunakan teleskop yang dilengkapi dengan
detektor dan ditransmisikan ke pusat informasi untuk diolah dan
disebarluaskan momen kondisi pengamatan hilal. Pengamatan hilal dalam
kalender Islam umumnya dipergunakan acuan sidang itsbat.

Ijtimak akhir Ramadan 1430 H bertepatan dengan Sabtu, 19 September
2009, pukul 01:44 WIB. Kedudukan bulan pada saat matahari terbenam
pada 19 September 2009, sekitar 4 hingga 5 derajat di atas ufuq.

Sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama RI dan rukyatulhilal
nasional direncanakan pada 19 September 2009. Sidang itsbat penetapan
1 Syawal 1430 H perlu disimak dan hasilnya dijadikan acuan umat Islam
di wilayah Indonesia, karena sidang tersebut melibatkan berbagai ahli
hisab dan rukyat dari komponen dan lembaga yang berkompeten dalam
penetapan awal bulan Islam. Rukyatulhilal nasional melibatkan beberapa
ahli astronomi tersebar di beberapa titik pengamatan di seluruh
wilayah Indonesia (Kupang, Ternate, Semarang, Ujung Pandang,
Condrodipo, Lhok Nga Aceh, dan Observatorium Bosscha) serta
rukyatulhilal para ahli rukyat dari ormas Islam maupun pemburu hilal.
Hasil pengamatan hilal mereka menjadi pertimbangan dalam menetapkan
awal Syawal 1430 H.

Pada 19 September 2009 secara umum di wilayah Indonesia, bulan
terbenam beberapa menit setelah matahari terbenam. Di Palabuhanratu
misalnya pada 19 September 2009, bulan terbenam pada pukul 18:17 WIB
dan matahari terbenam 26 menit sebelumnya yaitu pada 17:51 WIB.
Ijtimak berlangsung 16 jam 7 menit sebelum matahari terbenam atau 16
jam 33 menit sebelum bulan terbenam, (ijtimak pukul 1:44 WIB dan
matahari terbenam pukul 17:51 WIB). Pada 19 September 2009 tinggi
bulan mencapai 5 derajat 22 menit pada saat matahari terbenam pukul
17:51 WIB dan luas sabit bulan hampir mencapai 1 persen, sedangkan
pada 20 September 2009 tinggi bulan menjadi 17 derajat 41 menit (lebih
dari 15 derajat) dan luas sabit bulan telah mencapai 4 persen.

Akankah pemburu hilal berhasil memperoleh citra hilal awal Syawal 1430
H pada 19 September 2009? Usia sabit bulan pada waktu matahari
terbenam sudah mencapai 16 jam dari waktu ijtimak. Pengamatan hilal
termuda mempunyai usia 15 jam 33 menit. Berarti kandidat hilal awal
Syawal 1430 H (dengan usia 16 jam 7 menit) juga merupakan kandidat
hilal muda di kawasan Indonesia dengan usia lebih tua hampir sejam
dari umur hilal termuda hasil pengamatan Pierce: 25 Februari 1990,
pertama terlihat pukul 23:55 UT. Jadi kesimpulan hilal awal Syawal
1430 H walaupun sulit masih mempunyai kemungkinan untuk bisa dirukyat
dari wilayah Indonesia. Bulan mempunyai posisi beda deklinasi lebih
dari 5 derajat dari matahari, jarak busur bulan dan matahari cukup
besar dan berpeluang untuk bisa dirukyat.

Hasil pengamatan hilal 19 September 2009 akan ikut menentukan apakah
Ramadan 1430 H terdiri atas 29 hari atau 30 hari. Bagi yang
berpandangan posisi bulan sudah cukup memenuhi kriteria tanda awal
Syawal 1430 H maka awal Syawal 1430 H jatuh pada 19 September 2009
setelah magrib dan salat Id 1430 H pada Ahad, 20 September 2009. Dalam
penanggalan taqwim standar, libur nasional Idulfitri jatuh pada 21 dan
22 September 2009, mengesankan seolah Idulfitri 1430 H jatuh 21
September 2009, padahal hal itu hanya ketentuan hari libur nasional.

Jadi dapat disimpulkan, (1) awal Syawal 1430 H kemungkinan bisa
bertepatan dengan 19 September 2009 setelah Magrib. (2) Tarawih
kemungkinan berakhir pada 19 September 2009. (3) Kemungkinan salat Id
1430 H hari Ahad, 20 September 2009. (4) Kepastian awal Syawal 1430 H
bisa mengikuti sidang itsbat 19 September 2009.

Selamat menunaikan ibadah saum Ramadan 1430 H, semoga menjadi ibadah
yang terbaik dalam hidup kita, semoga mencapai puncak-puncak takwa,
semoga sukses dunia dan akhirat. Selamat Idulfitri 1430 H. Mohon maaf
lahir batin.***

Penulis, anggota Kelompok Keahlian (KK) Astronomi FMIPA ITB.

Cite: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=98338

Kirim email ke