> Ahmad Dimyati <a_dimya...@...> wrote: > Lepat tah do'ana, Kang. Kumaha mun engke digentosan ku teroris > lokal hasil alih ideologi sareng alih teknologi ti nu impor? Mugi > jempe wae > sagala rupi terorisme, sareng redup suasana sareng iklim > nu nyuburkeunana, > oge mugi ulah aya kaum nu miarana.
Leres Kang AD, sabab aya beja kieu cenah: Hilang Noor Din, Saefuddin Terbilang Jum'at, 18 September 2009 | 08:45 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta - Saefuddin Zuhri, Muhammad Syahrir, dan Bahrudin Latief alias Baridin, sekarang ini kemungkinan sedang mengendap-endap di tempat persembunyiannya. Di tempat yang sulit diketahui, boleh jadi mereka tengah menyusun taktik menyamar, mengatur logistik, hingga strategi merekrut anggota baru. Mereka adalah tersangka teroris yang lolos dalam penyergapan diberbagai tempat oleh tim Detasemen Khusus 88. Termasuk operasi di Mojosongo, Jebres, Solo, Jawa Tengah, pada Rabu dan Kamis (17/9). Saat polisi mengangkut empat jenazah dari Mojosongo menuju Rumah Sakit Kramatjati Jakarta, sempat beredar kabar bahwa salah satu mayat itu sosok Baridin. Ia adalah orangtua Arina Rahmah, yang kabur ketika polisi menggerebek jaringan Noor Din M. Top di Cilacap, Jawa Tengah, sebelum Pemilu 2009. Anita Rahmah, menurut keterangan polisi, adalah istri Noor Din M. Top yang menyamar dengan nama Ade Abdul Halim asal Makassar. Sarjana teknik lulusan Universiti Teknologi Malaysia ini juga pernah mengawini Munfiatun, wanita warga Pasuruan, Jawa Timur. Saat itu Noor Din memakai nama Abdurrahman Aufi. Di mana Baridin bersembunyi? Ia bagai ditelan bumi ketika jejaknya diincar polisi. Begitu pula dengan Saefudin dan Syahrir. kakak beradik perekrut Dani Dwi Permana dan Ikhwan Maulana, 'pengantin', pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Rizt Carlton Jakarta pertengahan Juli lalu. Ia belum terendus keberadaannya. Menurut Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri, di antara mereka tergolong pejabat jaringan Al-Qaidah Asia Tenggara. Perannya dalam mengacaukan keamanan --terutama teror bom-- levelnya sedikit di bawah gembong teroris asal Johor, Malaysia, Noor Din M Top. "Ini bisa diketahui dari dokumen yang tersimpan dalam laptop Noor Din," ungkap Bambang dalam jumpa pers. Artinya, walau mayat Noor Din segera dikubur oleh keluarganya di Malaysia, gerakan sisa-sisa komplotannya masih berbahaya. Elite Al-Qaidah lainnya, yaitu Ibrohim alias Boim, yang tewas dalam penggerebekan di Temanggung, 7-8 Agustus lalu. Baik Baridin, Saefudin Zuhri, Syahrir, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, dan Ario Sudarso alias Suparjo Dwi Anggoro alias Aji, merupakan paket teroris yang memang diburu Densus 88. Hasilnya baru bisa dipetik kemarin: semuanya ditumpas dalam penggerebekan di Mojosongo, di tambah satu orang anggota baru bernama Susilo. Pemberantasn terorisme memang belum diakhiri. Ini lantaran bangunan sel-sel mereka cukup banyak dan menyebar. Bukti adanya sel itu, belum lama ini Kepolisian menetapkan Al-Khalil Ali, warga Arab Saudi yang tinggal di Desa Cirendang, Kuningan, Jawa Barat, sebagai tersangka kasus pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. Sepintas, Ali, nama orang baru dalam kancah terorisme di negeri ini. Lama atau baru tidak penting. Yang penting, menurut polisi, ia merupakan kurir Al-Qaidah, organisasi yang dipimpin Usamah bin Ladin, untuk jaringan di Indonesia. "Bukan hanya kurir uang, juga kurir macam-macam," ujar Bambang Hendarso Danuri. Pria 51 tahun, yang di daerah tempat tinggalnya dikenal sebagai Ali Muhammad bin Abdulllah, itu dicokok petugas sebulan yang lalu. waktu itu, Densus 88 juga menahan Iwan Herdiansyah, warga Dusun Kliwon, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, dengan dugaan serupa, yakni menjadi kurir dana teroris dari luar negeri. Namun, tak berapa lama Iwan dibebaskan karena terbukti tak terlibat. Tapi, kepada polisi, Iwan mengaku mengenal Ali dan Saefuddin Zuhri, tersangka perekrut pengebom bunuh diri, yang keluarganya tinggal di Kuningan. Menurut sumber di Kepolisian, Ali adalah salah seorang yang menginap di Kamar 1621 Hotel Marriott menjelang pengeboman. Kamar itu adalah satu dari empat kamar di Marriott yang pernah berhubungan dengan kamar 1808, tempat menginap pelaku bom bunuh diri Dani Dwi Permana, via telepon internal. Di mata pengamat terorisme Negara Islam Indonesia, Al Chaidar, Saefuddin juga berperan sebagai penerima dana. "Ia adalah orang yang membuka hubungan dengan pihak luar terutama kalangan Arab untuk menerima pendanaan teroris ini," katanya dalam diskusi tentang terorisme di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Agustus lalu. Chaidar lebih detail mengatakan, semua pendanaan kegiatan terorisme diatur oleh Saefuddin. Pria yang biasa dipanggil Ustad Udin itu, kata dia, ditugaskan pimpinan untuk menggantikan penerima dana yang ditangkap polisi di Lampung beberapa tahun lalu. Ia menambahkan, Saefuddin pernah bersama-sama dengan Noor Din M. Top di Mindanao, Filipina Selatan, saat pelatihan militer di kamp milik Abu Sayaf. Kedua orang ini berteman dekat. "Masih satu jaringan, satu komplotan, satu kelompok, satu ring malah," ujarnya. . Ditegaskan oleh Wawan H. Purwanto, pengamat intelijen dari Lembaga Pertahanan Nasional. Ia menduga aliran dana itu melewati jalur tertutup secara bertahap dalam jumlah kecil dari kurir ke kurir di kawasan pedalaman. Misalnya, jalur lepas pantai atau hutan di perbatasan Indonesia-Malaysia. Dana dengan jumlah kecil dikirim via bank. "Modus ini sudah dipraktekkan pada proyek Bom Bali I," ucapnya kepada Tempo beberapa waktu lalu. ELIK SUSANTO

