--- On Tue, 10/6/09, DJODI ISMANTO <[email protected]> wrote:


From: DJODI ISMANTO <[email protected]>
Subject: [DJODI ISMANTO] Serigala Berbulu Ulama
To: [email protected]
Date: Tuesday, October 6, 2009, 8:43 PM


Sepasang merpati yang sedang bertengger di cabang pohon melihat seorang alim 
datang dengan sebuah buku yang dikepit di satu tangan dan tongkat di tangan 
yang lain.

Seekor merpati berkata pada yang lain, "Mari terbang, orang itu bisa membunuh 
kita."

Pasangannya menyahut, "Dia bukan pemburu. Dia seorang ulama, tidak akan 
membahayakan kita."

Sang ulama melihat keberadaannya dan seketika memukulkan tongkatnya ke merpati 
betina, lantas ia sembelih agar dagingnya menjadi halal.

Merasa dizalimi, pasangannya mengadu kepada Nabi Sulaiman.

Ulama itu pun dipanggil ke istana. 

"Kejahatan mana yang saya lakukan?" sanggahnya.
"Bukannya daging merpati itu halal," lanjutnya.

Merpati jantan menimpal, 

"Saya tahu bahwa hal itu halal bagimu.
Tetapi, jika datang untuk berburu, engkau semestinya mengenakan pakaian seorang 
pemburu. 

Engkau curang dan datang sebagai ulama."

----

Seorang ulama atau intelektual , seperti Abdi dan aparat negara , Hakim dan 
Pengacara , anggota DPRD bahkan Pimpinan perusahaan , memang telanjur 
dinisbatkan sebagai sosok pelindung kemaslahatan umum.


Nalarnya memberi lentera di kegelapan; nuraninya memberi oasis di tengah-tengah 
krisis keyakinan.
Tetapi, dalam realitas hari ini, banyak orang berpakaian ulama/ para 
intelektual seperti diatas tapi dengan peran yang telah ditanggalkan.

Begitukah ??



Djodi Ismanto

http://www.djodiismanto.blogspot.com/ 

--
Posted By DJODI ISMANTO to DJODI ISMANTO at 10/07/2009 10:09:00 AM


      

Kirim email ke