Menanam untuk Sempurnakan Hari

Senin, 19 Januari 2009 | 00:45 WIB

Oleh Ratih P Sudarsono

”Untuk menanam pohon itu, terutama yang diperlukan adalah niat
orangnya. Di mana saja, sebenarnya kita dapat menanam. Perhatikan
sekitar rumah atau lingkungan kita, pasti ada tempat untuk ditanami
pohon,” kata Badri Ismaya.

Badri Ismaya adalah pelopor penghijauan di lereng- lereng bukit di
kawasan Puncak yang rusak akibat penjarahan besar- besaran pada awal
era reformasi tahun 1998. Warga Kampung Caringin, Desa Tugu Utara,
Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini nyaris setiap hari
ke luar dari rumah. Ia berkelana dari satu lereng ke lereng lain untuk
menanam pohon.

Bagi laki-laki berkulit gelap ini menanam adalah hal yang mudah. Ia
hanya perlu berbekal ”senjata” kecil yang disebutnya coredan. Dengan
coredan, Badri membuat lubang kecil di tanah dan merobek kantung
plastik (polybag) berisi bibit. Bibit pohon itu lalu ditekannya hingga
melesak masuk ke dalam lubang. Tangan sedikit kotor, tetapi itu juga
bagian dari asyiknya menanam. ”Sehari saya menanam sepuluh pohon,
lama-lama lahan terbuka itu ketutup juga,” katanya.

Demikianlah yang dipraktikkan Badri dalam keseharian hidupnya. Dia
terus menanam pohon sejak 1975. Badri akan merasa pusing dan tak
sempurna menjalani hari jika ia tidak menanam pohon. Bahkan, ketika
dia benar-benar sakit, menanam pohon adalah obatnya.

Ke mana pun pergi, ketika diundang desa tetangga atau institusi lain
sebagai pembicara, Badri sengaja membawa bibit pohon untuk ditanam di
tempat itu. Ia bahkan memiliki peta kawasan penanaman pohon, hasil
dari penjelajahannya di sekitar Puncak saat menghijaukan lahan rusak.

”Semoga Allah memberi saya panjang umur dengan badan sehat. Masih
banyak lokasi di Cisarua ini yang ingin saya tanami. Anak bungsu saya
kayaknya mengikuti jejak saya, dia suka menanam. Dia suka menemani
saya menanam. Kadang dia pergi sendiri membawa bibit, entah menanam di
mana,” katanya.

Ia merasa bersyukur, masalah penghijauan tidak asing lagi bagi
masyarakat meski tingkat partisipasinya masih rendah. Menurut Badri,
pada acara seremonial gerakan menanam akan lebih bermakna jika para
tokoh panutan masyarakat benar-benar memperlihatkan cara menanam,
mulai dari menggali lubang sampai menutup bibit pohon dengan tanah.

”Kalau sekarang kan lubang sudah disediakan, bahkan sekitar lubang
diberi karpet agar sepatunya tidak kotor. Bukan begitu mencontohkan
cara menanam,” katanya.

Namun, Badri tak mau menyalahkan. Ia justru berusaha memahami dengan
berpikir mungkin proses kesadaran menanam saat ini baru sebatas
seremonial. Ia yakin suatu saat nanti menanam akan menjadi kebiasaan
masyarakat.

Ini sama seperti proses panjang yang Badri alami sampai dia dikenal
sebagai penyelamat lingkungan hulu Sungai Ciliwung dan mendapat
berbagai penghargaan atas usahanya melestarikan lingkungan.

Ditegur pohon

Badri bertutur, ia pernah jadi perusak hutan kawasan Puncak. Dulu,
demi menghidupi keluarga, ia bersama beberapa teman suka masuk hutan
dan menebangi pohon untuk dicuri kayunya. Semua itu dilakoninya tahun
1975-1979 sehingga ratusan pohon musnah di tangannya.

Dia berhenti merusak alam setelah mendapat teguran halus dari
”korbannya”, sebatang pohon yang ditebangnya pada Jumat, 6 Oktober
1979. Pada tengah hari bolong itu, Badri seharusnya melaksanakan
shalat Jumat, tetapi ia justru sibuk menebang pohon.

”Setetes air jatuh di kepala saya. Hanya setetes, tetapi membuat badan
saya segar. Keletihan saya menebang dan memikul kayu langsung hilang.
Saya cari-cari dari mana asal tetes air itu, ternyata dari akar pohon
yang saya tebang. Saya terkejut. Saya duduk terdiam, merenungkan tetes
air itu,” tuturnya.

Sejak Jumat itu dia menjadi gundah. Selama satu tahun kemudian, Badri
masuk-keluar hutan sekadar membuktikan bahwa pohon benar-benar
menyimpan air. Ia korek bagian bawah pohon untuk menemukan akarnya.
Dia potong sedikit akar itu untuk melihat air yang keluar dari ujung
akar yang terpotong.

”Akar-akar itu memang mengeluarkan air. Ada yang sedikit, ada yang
banyak. Saya tampung air yang keluar dari akar dengan kantung plastik.
Sejak tahun itu pula saya berjanji tidak lagi menebang pohon dan akan
terus menanam pohon sampai ajal menjemput,” kata laki-laki yang
memiliki empat anak dan tiga cucu ini.

Keputusan Badri itu tentu saja mendatangkan masalah. Dahlia, sang
istri, sempat marah karena penghasilan Badri menjadi tak efektif untuk
membiayai rumah tangga. Bukan itu saja, Badri juga kerap dianiaya
biong (spekulan) tanah dan para penjaga keamanan vila-vila di kawasan
Cisarua. Sebab, dia akan menanam pohon apa saja di lahan kosong atau
telantar yang ternyata ”milik” atau diincar biong tanah. Bahkan, Badri
pernah disekap di pos keamanan sebuah vila.

Namun, Badri tak kapok. Lambat laun, setiap orang di sekitar dia, yang
dulu memusuhi dan keberatan dengan pilihan hidupnya, belakangan ini
justru menggebu-gebu dukungannya.

Ia sering mendapat kiriman buah yang ternyata hasil dari pohon yang
bertahun-tahun lalu ditanamnya. Dari menanam jamur merang, ia mendapat
kucuran rezeki. Kebahagiaan pada usia senjanya ini ditambah dengan
lulusnya dua dari empat anaknya sebagai sarjana komputer dan sarjana
kimia.

”Saya tidak pernah memaksa orang lain untuk menanam pohon. Saya hanya
ingin menanam pohon sebab saya yakin pohon adalah sumber kehidupan.
Saya ingin menyempurnakan hari-hari yang saya jalani ini dengan
menanam pohon, sesuai janji kepada Tuhan,” katanya.

Sumur resapan

Selain menjadi pelopor penanam pohon di lahan kritis sekitar Cisarua,
Badri juga yang memulai pembuatan dan penggunaan sumur resapan di
kawasan itu. Sekitar 1985, saluran air yang berada di sisi jalan di
atas kampung tersumbat. Airnya membanjiri rumah Badri.

Ia lalu berinisiatif membuat lubang di halaman rumah dan diisinya
dengan bebatuan, ijuk, dan material lain. Air buangan selokan dia
arahkan masuk ke sumur resapan tersebut. Setelah itu, banjir tak
datang lagi.

”Sejak itu mulailah para tetangga ikut membuat (sumur resapan). Saya
juga sering dipanggil ke daerah lain, seperti Jakarta sampai
Palembang. Saya diundang untuk bicara di Malaysia dan Singapura tahun
2001, juga ke Filipina pada 2005,” kata Badri yang senang berbagi
pengalaman dengan siapa pun yang menginginkannya. (NELI TRIANA/ J
WASKITA UTAMA)

Cite: 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/01/19/0045082/menanam.untuk.sempurnakan.hari

Kirim email ke