Dorongan Untuk Para Peminum

Makanan atau kuliner memiliki cerita sejarahnya tersendiri, tak lepas
dari lingkup sosial yang melahirkannya. Pedesan Enthog yang pertama
muncul di Indramayu, juga tak lepas dari setting (situasi-red) sosial
dan sejarah, di mana dan mengapa makanan itu ada.

Ide daging entok yang dimasak dengan bumbu-bumbu pedas, datang dari
para tamu lelaki ke Blok "D" Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, Kab.
Indramayu. Mereka berasal dari desa sekitar datang ke blok itu, wanita
pekerja seks komersial (PSK), yang sebelumnya banyak mangkal di tempat
itu.

Seiring waktu dan perkembangan masyarakat, kesan mesum Blok "D" kini
lenyap. Tidak ada lagi wanita pekerja seks, yang mangkal di tempat
terkucil dan kumuh itu. Kini, rumah-rumah itu dihuni warga biasa
dengan kehidupan khas perkampungan miskin para buruh tani.

Sebab, para lelaki sering datang kendati terdiri dari deretan rumah
semipermanen, blok itu selalu ramai. Suasana kampung itu pun
hingar-bingar tak peduli siang ataupun malam.

Tape-recorder yang memutar lagu-lagu khas tarling dangdut, dinyalakan
keras-keras. Bercampur suara tawa wanita penggoda, serta lelaki hidung
belang yang mabuk kepayang, berjoget ria dalam udara yang pengap oleh
alkohol, dan kepulan asap rokok.

Seperti gambaran umumnya lokalisasi. Aroma mesum selalu ditandai
alunan musik, minuman keras, dan rokok. Para lelaki itu membutuhkan
makanan sebagai camikan untuk menetralisasi rasa pahit dari minuman
keras, yang menempel di lidah dan tenggorokan.

Diistilahkan dengan sebutan "dorongan". Yakni makanan yang bisa
mengusir rasa pahit dan sebal, sekaligus sebagai pendorong agar lebih
banyak menikmati minuman keras.

Warung milik Wares yang terletak di tengah pemukiman itu, tak luput
menjadi tempat tongkrongan. Dari situ, para lelaki itu minta Wares
(kini berusia sekitar 65 tahun dan menyerahkan pengelolaan warung
Pedesan Enthog ke anaknya, Tamiyah,34 tahun), membuat masakan yang
bisa menjadi "dorongan".

"Di daerah lain, biasanya dorongan masakan daging anjing yang pedas.
Sebab, mereka tidak suka daging anjing, lalu ibu saya (Wares-red)
mengganti dengan daging entok. Setelah dimasak, ternyata rasanya
sangat enak," kata Tamiyah.

Sejak saat itu, di antara para peminum Pedesan Enthog menjadi
pelengkap bila mereka menggelar pesta minuman keras. Rasanya, tidak
lengkap bila minum minuman keras tanpa ada "dorongan" berupa Pedesan
Enthog.

**

Pada perkembangannya, seiring bubarnya Blok D sebagai tempat mangkal
wanita pekerja seks, lenyap pula para lelaki yang datang menggelar
pesta minuman keras. Sejak itu, Pedesan Enthog seperti kehilangan
konsumen setianya. Wares mengalami penurunan omzet dagangan. "Saat
lagi ramai sehari bisa lima puluh ekor entok," kata Tamiyah.

Ketika itu, Wares sempat putus asa. Namun, di luar dugaan. Sebab,
sudah terlanjur menjadi klangenan, Pedesan Enthog ternyata tetap
banyak penggemar.

Dari semula hanya sebagai "dorongan", kini menjadi lauk untuk makan.
Di luar dugaan pula, peminatnya bertambah. Bukan lagi para peminum
minuman keras, tetapi warga biasa, bahkan sampai ibu-ibu dan
anak-anak.

"Para pejabat di Indramayu juga suka memesan. Mereka kalau mau memesan
sampai seratus porsi. Terutama ibu-ibu PKK. Malah Pak Yance (Bupati
Indramayu H. Irianto M.S. Syafiuddin-red.) sering nyuruh orang untuk
membeli pedesan di sini," kata Tamiyah.

Sampai sekarang, Pedesan Enthog Wares masih dicari orang. Hanya tidak
sebanyak dulu. Sekarang, maksimal menghabiskan tiga puluh ekor.
Tamiyah yang melanjutkan usaha ibunya (Wares), juga membuat pedesan
ayam kampung sebagai pilihan bagi para pengunjung warung kecilnya.

"Tetap saja, pertama yang dicari Pedesan Enthog," katanya.

Sejak Pedesan Enthog muncul dan kini berkembang pesat, secara tidak
langsung telah membuka peluang usaha bagi masyarakat banyak, terutama
pemilik warung makan. Tidak sedikit warung yang mau bangkrut, bangkit
kembali setelah menyediakan menu Pedesan Enthog.

"Saya ikut bangga kalau melihat itu. Tidak menyangka, ibu saya telah
menolong banyak orang," katanya, yang rela meninggalkan warung tegal
(warteg) di Jakarta hanya untuk meneruskan usaha ibunya di Nunuk,.

Meski demikian, kata Tamiyah , bukan tanpa risiko. Sebab, banyak
warung pedesan, kini entok mulai susah dicari.

Dulu entok dianggap hewan tak banyak berguna. Sekarang, malah menjadi
rebutan. Harganya tiap saat naik. Yang muda Rp 30.000,00 hingga Rp
40.000,00 per ekor. Kalau yang besar malah harganya mencapai Rp
70.000,00 per ekor. (Agung Nugroho/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=110245

Kirim email ke