--- On Tue, 1/5/10, Abbas <[email protected]> wrote:

From: Abbas <[email protected]>
Subject: Fwd:  Re: Koalisi Mulai Goyah
To: [email protected]
Date: Tuesday, January 5, 2010, 10:51 PM

--- In [email protected], "Abbas" <abas_ami...@...> wrote:

Si Ruhut ini seharusnya dikeluarkan dari Partai Demokrat !
Dia justru yang telah mencoren nama Baik Partai DEMOKRAT !
Kini malah menuduh yang tidak bERNILAI !
Pansus itu punya kebebasan; dan semua anggota ditunjuk
untuk kepentingan bngsa dan negara ! Kok bicara si RUHUR seperti di DPR yang 
bukan PANSUS !?
Dia tak bisa membedakan mana DPR mana PANSUS !
Benar2 memalukan !
Mestinya Ruhut masuk saja jadi pemain sintron saja; gak usah jadi
anggota DPR; atau jadi CLAWN.
Memang RUHUT lebih COCOK jadi BADUT !!!!


--- In [email protected], "sunny" <ambon@> wrote:
>
> http://www.mediaindonesia.com/read/2009/12/12/114220/70/13/Koalisi-Mulai-Goyah
>
>
> Koalisi Mulai Goyah
>
>
> Rabu, 30 Desember 2009 00:01 WIB
> KOALISI besar pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, belum apa-apa, 
> sudah ribut. Sepak terjang anggota koalisi dalam Pansus Angket Century adalah 
> pemicunya.
>
> Partai Demokrat, pemimpin koalisi, melalui anggotanya yang vokal, Ruhut 
> Sitompul, menuduh anggota koalisi bermain dua kaki dalam menentukan agenda 
> pansus. Partai Demokrat mulai merasa dikhianati.
>
> Salah satu yang memperkuat kecurigaan Demokrat adalah rekomendasi pansus agar 
> Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dinonaktifkan selama 
> masa pansus bekerja. Rekomendasi itulah yang mendorong Ruhut menuduh anggota 
> koalisi bermain dua kaki dengan agenda masing-masing.
>
> Tentu, tuduhan Ruhut ditampik. Anggota koalisi yang merasa jadi target 
> tudingan, Golkar, PKS, dan PAN, mengatakan tidak berniat untuk mengkhianati 
> koalisi. Pansus Angket Century, dengan Demokrat menjadi salah satu pendukung 
> kuat, adalah untuk membongkar setuntas-tuntasnya kebohongan dan menegakkan 
> setegak-tegaknya kebenaran. Ini juga posisi berdiri Presiden Yudhoyono.
>
> Sejak awal pembentukannya, koalisi besar seperti ini sudah dikritik secara 
> tajam. Dan, sudah diperkirakan jauh-jauh hari bahwa koalisi segemuk sekarang 
> hanya menunggu waktu untuk pecah. Dan, sekarang itu terlihat mulai rapuh.
>
> Inilah koalisi superkuat. Bila alokasi jabatan publik, entah menteri entah 
> pejabat lembaga tinggi negara lainnya, dipakai sebagai petunjuk komitmen 
> koalisi, hanya dua partai kecil, Hanura dan Gerindra, yang tidak menjadi 
> anggota. Sisanya, tujuh partai yang menguasai lebih dari 90% kursi di DPR 
> adalah mitra pemerintah.
>
> Jadi, tidak perlu heran kalau koalisi ini dalam perjalanan waktunya akan 
> tidak selamanya solid. Itu tidak hanya disebabkan belum terciptanya budaya 
> koalisi, tetapi juga disebabkan oleh koalisi itu sendiri dipaksakan seperti 
> mencampur minyak dengan air.
>
> Koalisi yang lazim adalah yang diikat oleh persamaan ideologi. Atau kalau 
> ideologi semuanya sama, yaitu Pancasila, harus ada kesamaan dalam platform.
> Dengan demikian, yang pantas berkoalisi sesungguhnya adalah antara Demokrat, 
> Golkar, dan PDIP yang sama-sama berwatak nasionalis. Di kubu yang satunya 
> adalah koalisi antara partai-partai berbasis Islam seperti PPP, PKB, PAN, dan 
> PKS.
>
> Tetapi dalam praktik, kelaziman ini dilanggar. Mengapa? Karena ternyata 
> politik di Indonesia adalah politik pragmatis. Demi kepentingan dekat dan 
> sesaat alur-alur kepantasan dan kepatutan dilanggar. Politik dilaksanakan dan 
> didikte oleh target-target jabatan semata.
>
> Dengan semangat pragmatisme seperti ini, koalisi pemerintahan SBY diramalkan 
> akan selalu gonjang-ganjing. Dengan demikian, koalisi besar yang semula 
> ditakutkan akan menimbulkan kartel politik mulai terlihat sebaliknya. Koalisi 
> besar ternyata mulai menimbulkan kerumitan, terutama dari seorang SBY untuk 
> menjaga soliditas.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

--- End forwarded message ---





      

Kirim email ke