Pilm Apatar, ayeuna keur payu. Loba jelema anu nongton eta pilm. Kaasup 
kuring he..he..he.. jeung deuih, kabeneran kuring nongtona teh di bumi 
khatulistiwa, Pontianak. Tanah Kalimantan, anu kai jeung batu bara na di 
keruk pikeun kauntungan pausahaan-pausahaan. Cocog pisan jeung carita 
dina pilm Apatar.

kuring tulas-tulis ngeunaan eta pilm yeuh, hampura teu disundakeun.

-----------------------------------------


Omaticaya, demikianlah mereka menyebut ras mereka sendiri. Mereka adalah 
salah satu mahluk hidup yang menghuni Pandora, sebuah benda angkasa 
sejenis bulan yang mengorbit sebuah planet. Planet tersebut berada tidak 
jauh dari tatasurya kita, tempat planet bumi yang dihuni oleh manusia. 
Omaticaya adalah Ras Fiksi yang hidup dalam film berjudul Avatar karya 
sutradara James Cameron.

Ketika kita menonton film Avatar, kita akan disuguhi keindahan 
pemandangan yang sangat warna-warni. Kita akan melihat berbagai macam 
mahluk hidup yang menghuni pandora, tanaman-tanaman yang memendarkan 
cahaya indah di malam hari, hewan mirip badak tapi kepalanya mirip 
kepala ikan hiu martil, pohon raksasa setinggi gedung pencakar langit, 
dan tentu saja pemandangan langit Pandora yang berhiaskan Planet 
induknya dan dihiasi dua saudara pandora, sama-sama satelit yang 
mengorbit planet.

Keasyikan menonton film yang satu ini, sepertinya sulit untuk 
digambarkan dengan kata-kata. Seperti kata pepatah, gambar itu bisa 
bicara berjuta bahasa. Jadi mendingan lihat filmnya daripada baca 
ringkasannya. Adapun yang ingin saya sampaikan disini adalah, pesan 
moral yang saya tangkap dari cerita film ini.

Cerita utama dari film ini adalah kisah penduduk asli (Ras Omaticaya) 
yang berjuang mempertahankan diri dan lingkungannya dari upaya 
penjarahan dan pengrusakan yang dilakukan oleh pendatang (Ras Manusia). 
Manusia atau lebih tepatnya sebuah perusahaan tambang milik manusia, 
berusaha mengusir para Omaticaya dari tempat tinggal mereka, karena di 
dalam tanah di bawah tempat tinggal mereka itu, terdapat bahan tambang 
yang sangat berharga.

Sebagai penonton, yang tentu saja Ras Manusia, kita tetap membela Ras 
Omaticaya ini, kita berada di pihak mereka. Kita membenci Ras Manusia 
yang serakah dan tidak berperasaan. Kita tidak setuju dengan upaya para 
manusia mengusir Omaticaya dari tanah tempat tinggal mereka.

Padahal, hello... kita manusia kan? Kenapa kita harus memihak Omaticaya? 
apa yang menyebabkan kita berpihak pada mereka? jawaban sederhananya 
adalah karena Omaticaya berada di pihak yang benar. Kita akan dengan 
mantap menjawab bahwa kita memihak kebenaran. Omaticaya, meski mereka 
itu alien, mahluk asing yang tidak ada hubungan apapun dengan kita, 
tetap kita bela, karena mereka berada dipihak yang benar.

Hebat bukan ?

Sekarang mari kita bertanya lagi, apakah semangat membela pihak yang 
benar itu selalu kita terapkan dalam kehidupan kita? Bagaimana dengan 
nepotisme yang menjamur dimasyarakat kita. Banyak yang lebih 
mendahulukan keluarga dan saudara untuk menduduki suatu jabatan atau 
diangkat menjadi PNS misalnya, daripada orang lain. Meskipun orang lain 
tersebut lebih kompeten dibanding saudaranya itu. Atau ketika anak kita 
bertengkar dengan anak tetangga, kita pasti membela anak kita, tidak 
peduli apakah anak kita berada di pihak yang benar atau salah.

Jadi, kalau film itu fiksi apakah keberpihakan kita pada kebenaran juga 
fiksi?

Kirim email ke