Doel Sumbang: Pop Sunda Bisa Mendunia BICARA tentang perkembangan musik pop Sunda kekinian, ”haram” hukumnya jika tidak menyebut nama Doel Sumbang. Doel bukan hanya musisi yang sukses eksis di panggung pop Sunda, merengkuh popularitas, dan menikmati kenyamanan hidup sebagai selebritis. Doel merupakan salah satu ikon musik Sunda yang lewat talenta bermusiknya, mampu memberi napas panjang bagi kelangsungan industri musik di tatar Priangan. Jika ada bertanya, siapa musisi yang saat ini paling produktif mencipta dan menyanyikan lagu-lagu Sunda, dengan mudah orang akan menjawab, ”Doel Sumbang.”
Sudah hampir tiga dekade Doel Sumbang berkiprah di panggung musik. Bisa disebut, dalam rentang perjalanannya yang begitu panjang, Doel sudah melewati tiga periode kehidupan bermusik, yang tergambar dari lirik-lirik lagu yang diciptakannya. Periode pertama adalah masa awal Doel berkiprah di dunia musik yang ditandai dengan lirik-lirik nakal, tengil, dan nyeleneh yang terkemas dalam irama balada. Periode kedua saat Doel bertransformasi menjadi musisi dengan hasrat cinta yang menggelora dan romantis. Sementara periode ketiga adalah ketika Doel kian dewasa dan menjadi pribadi yang kental dengan pesan-pesan humanis, agamis, dan kritis terhadap lingkungan sekitar. Doel mengawali kariernya dari dunia teater di kota kelahirannya, yakni dengan terlibat di teater Remy Silado. Dari sanalah ia mendapatkan nama julukan ”Doel” dan “Sumbang” yang dikait-kan dengan lirik-lirik lagunya yang terkesan nakal, nyeleneh, tetapi juga jenaka. Pengaruh Remy Silado cukup memberi warna dalam setiap lirik lagu yang diciptakan Doel, terutama pada periode awal kariernya. Lagu debutnya berjudul ”Perkawinan Jang Karim dan Nyi Imas” dirilis pada 1981. Selama sepuluh tahun di dekade 1980-an, Doel malang melintang di industri musik lewat lagu-lagu berbahasa Indonesia. Dalam periode ini, Doel beberapa kali mencetak lagu hit seperti ”Kalau Bulan Bisa Ngomong” saat berduet dengan Nini Carlina atau ”Arti Kehidupan” yang kerap dijadikan lagu wajib bagi orang yang tengah jatuh cinta. Beralihnya ke jalur pop Sunda pada awal dekade 1990-an, terjadi tanpa sengaja. Saat itu, film ”Si Kabayan Saba Kota” (1989) dengan bintang Didi Petet dan Paramitha Rusady mencapai box office. Memanfaatkan popularitas Paramitha Rusady sebagai Nyi Iteung, pihak Billboard Record meminta Doel menciptakan lagu, khusus untuk dinyanyikan Paramitha. Awalnya cuma minta satu lagu, akhirnya malah satu album. Sejak saat itulah, Doel terus meniti karier di jalur pop Sunda. Tak kurang dari sebelas album ia hasilkan, termasuk album terakhir ”Jek-jek Nong.”Lagu-lagu pop Sunda ciptaan dan dinyanyikan Doel banyak yang mencetak hit di pasar, sebut saja “Pangandaran,” “Somse,” “Ai,” dan “Bulan Batu Hiu.” Butuh inovasi Doel sendiri mengaku tidak malu dengan identitikasi atau label dirinya sebagai ikon pop Sunda, meskipun hingga sekarang musik Sunda kerap dipandang sebelah mata atau sebagai musik berkelas dua. Sebaliknya, musisi bernama lengkap Wahyu Affandi yang lahir di Kota Bandung, 16 Mei 1963 itu, merasa bangga menyanyikan lagu-lagu pop Sunda. Menurut dia, pop Sunda itu istimewa dan punya potensi mendunia. ”Kenapa mesti malu? Saya mah ginding (bangga) menyanyikan lagu-lagu Sunda,” kata Doel, dalam salah satu obrolan di studionya di Kompleks Mekar Wangi, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Namun demikian, untuk saat ini Doel merasa prihatin dengan perkembangan musik Sunda yang stagnan, bahkan cenderung menurun. Menurut dia, ada beberapa alasan kemunduran tersebut. Salah satunya adalah sikap para musisi Sunda sendiri yang sebagian besar kurang inovasi, tanpa konsep, dan lebih suka menjadi pengekor saat menggarap karya lagu-lagu pop Sunda mereka. Akibatnya, panggung musik pop Sunda memang semarak, tetapi kurang kualitas karena digarap asal-asalan. Doel memang tak menampikan kenyataan bahwa untuk menghasilkan satu karya yang baik dan bermutu, dibutuhkan biaya yang besar. Sementara itu, kemampuan para musisi pop Sunda tak sama, termasuk soal pendanaan. Ketimpangan seperti ini terjadi, salah satunya dikarenakan oleh sistem di industri rekaman yang cenderung merugikan musisi dan menguntungkan produser/label rekaman. ”Selama ini penyanyi dan pencipta lagu selalu menjadi pihak yang dirugikan. karena terdesak kebutuhan, master album atau lagu-lagu ciptaan kita dijual putus ke pihak label. Akibatnya, saat lagu booming di pasar, yang untung hanya label, kita hanya gigit jari,” kata musisi yang punya rencana tampil selama 200 menit di panggung, saat peringatan dua ratus tahun Kota Bandung. Oleh karena itu, kini tengahberusaha menciptakan sistem industri rekaman sehat dan adil. Untuk mengatasi masalah keterbatasan dana, Doel mencoba menawarkan solusi melalui pola investasi bersama. ”Ketiadaan uang, kan bisa diatasi dengan investasi suara. Ini mungkin bentuk pemberontakan saya terhadap major label,” katanya. Jika semua itu bisa tercipta dan terlaksana, Doel yakin kualitas lagu-lagu pop Sunda bakal terangkat dan kepercayaan publik juga berubah. Lagu-lagu pop Sunda pun tak sulit diterima di tempat-tempat elite dan berkelas. ”Saya punya mimpi, musik Sunda tak hanya diputar di angkot, tetapi juga di pesawat, hotel, mal, atau jadi musik pengiring kegiatan resmi pemerintahan. Semua itu akan bisa terlaksana, jika musik Sunda digarap dengan aransemen yang apik dan inovatif,” kata peraih penghargaan bidang musik dari Pemprov Jabar pada 2009 ini. Untuk merealisasikan mimpinya, Doel kini tengah sibuk mengaransemen ulang lagu-lagu terbaiknya seperti ”Pangandaran” dalam kemasan irama jazz dan Latin. Rencananya, lagu-lagu hasil aransemen ulang itu bakal ditawarkan ke pasar global pada klasifikasi world music (musik dunia) dengan tarif luks. Selain itu, lagu-lagu aransemen ulang juga bakal dinyanyikan oleh Nining Meida.”Sebagai orang Sunda, saya hanya ingin tunjukkan bahwa Sunda memang ada,” kata Doel. (Muhtar Ibnu Thalab/ ”PR”)*** Web: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=122027

