Bapa-bapa, ibu-ibu,
akang-akang, teteh-teteh
punten tulisan ieu teh sanes ditulisa ku basa sunda. Kusabab, bahasa sunda abdi
kirang sae. hehehe. Mangga dibaca:
Geowisata Bandung Selatan
Oleh Mahanagari
Jalan-jalan. Tema yang sedang jadi tren hampir dua tahun belakangan ini di
Bandung. Tema jalan-jalan yang saat ini sedang berlangsung di Bandung adalah
Geowisata karena perdua-bulannya diselenggarakan oleh TRUEDEE, sebuah Penerbit
di Bandung. Loh kok penerbit? Iya. Mereka adalah penerbit buku berjudul Wisata
Bumi Cekungan Bandung (WBCB) yang jadi pedoman jalan-jalan yang bertemakan
GEOTREK. Jalan-jalannya dipandu oleh penulis buku tersebut, yaitu T. Bachtiar
(TB) dan Budi Brahmantyo (BB). Keduanya adalah dedengkot geografi, geologi, dan
budaya di Bandung. Sebenarnya masih banyak yang jadi ahlinya kedua bidang
diatas, hanya saja bapak-bapak tersebutlah yang aktif mendekati masyarakat umum
melalui acara jalan-jalan.
Geotrek adalah rute perjalanan menyusuri beberapa kawasan tertentu yang saling
terhubung satu sama lain. Lintasan yang dilalui mengandung unsur sejarah
hunian dan budaya kawasan, asal usul kawasan, serta bentukan geologi dan
geografi. Wisata geotrek ini bernama Geowisata. Selain menggunakan kendaraan
umum, hampir setengahnya dari Geotrek dilakukan dengan berjalan kaki. Karena
itu, kondisi tubuh yang sehat itu syarat mutlak kalau ikutan jalan-jalan model
gini.
Buku ini memuat sembilan trek Geowisata. Truedee mengajak masyarakat umum untuk
cicip jalur Geotrek yang terdapat dalam buku berhalaman 276 ini. Geowisata
geotrek I dilakukan pada bulan Agustus 2009. pada akhir tahun 2009, Truedee
kembali menyelenggarakan geowisata geotrek II. Tujuannya adalah Bandung
selatan, yaitu kawasan Gunung Puntang di lereng Gunung Malabar dan Pangalengan.
Pagi pukul 6.28 jalan Ganesa depan kampus ITB sudah ramai oleh kerumunan orang.
Salah satunya kelompok Geotrek II. Kami diminta kumpul setengah tujuh pagi.
Keberangkatan menuju Pangalengan dijadwalkan pukul 7 pagi. Jumlah pesertanya
mencapai 60 orang dan dua minibus siap mengangkut kami menuju tempat lokasi.
Bandung hari sabtu pagi, tidak terlalu ramai. Bahkan terusan Buah Batu juga
bisa dilewati dengan cukup mulus. Salah satu biangnya kemacetan di Bandung
Selatan, perbaikan Jembatan Citarum, juga lancar dilalui. TB sempat cerita
sedikit tentang sungai Citarum. Tahun 2005 Pemerintah kota merubah aliran
sungai Citarum di daerah Dayeuh Kolot ini. Tujuannya untuk mencegah agar luapan
airnya di kala hujan tidak membanjiri kawasan Banjaran. 15 miliar terpakai
percuma karena hasilnya sekarang sama saja, yaitu banjir.
Sekitar satu setengah jam kemudian, bis berbelok ke kiri menuju kaki Gunung
Puntang (lereng gunung Malabar). Lereng Gunung Malabar adalah daftar kunjungan
pertama Geotrek II. Kami akan lihat puing-puing kompleks stasiun radio Malabar
dan sungai Ci geureuh. Pada jaman kolonial, karena alasan tertentu tahun 1918
Belanda pernah membangun stasiun radio di kawasan lereng ini, namanya Stasiun
Radio Malabar. Stasiun radio pertama di Hindia Belanda ini adalah yang terbesar
dan tercanggih pada jamannya. Pintu komunikasi Bandung dengan dunia
internasional dilakukan melalui radio ini. Disamping stasiun radio, Belanda
juga membangun kota satelit sebagai sarana pelengkap fasilitas stasiun radio.
Call sign terkenal pada masa itu adalah “Hallo (disini) Bandung!”. Namun
sayangnya, kobaran api pada peristiwa Bandung Lautan Api tidak hanya
membumihanguskan kota Bandung, tapi juga stasiun radio Malabar. Beberapa
pejuang BLA membom kawasan kompleks. Sekarang ini kita
hanya bisa menyaksikan puing-puingnya saja. Sisa gedung radio Malabar entah
disebelah mana, tapi rumah-rumah yang dulu ada di kompleks ini jejaknya masih
bisa dilihat. Beberapa puing bahkan ada papan nama pemiliknya, seperti
Marsongko dan Soeganda. (gambar di kanan adalah narasumber Geotrek, sedang
menerangkan tentang areal pegunungan)
Diantara puing-puing bangunan, TB bercerita asal usul nama gunung Malabar.
Menurutnya dahulu terdapat sebuah kampung bernama Maleber. Maleber artinya air
yang selalu meleber. Dalam bahasa Sunda, Ma = seperti, dan bar, Ber, Bur = air
yang moncor banyak dan meleber kemana-mana. Malabar adalah daerah yang airnya
meleber kemana-mana.
ImageKami berjalan kembali meninggalkan reruntuhan bangunan kompleks perumahan
Malabar usai mendengar cerita mengenai Gunung Malabar dan stasiun radio
Malabar. Sungai Ci geureuh yang bening nan cantik itu menunggu. Kami berjalan
kira-kira 10-15 menit menuju sungai. Air sungainya bening dan segar luar biasa.
kami berjalan menyusuri sungai tersebut. Meskipun dingin, sayang sekali kalau
tidak nyemplung di sungainya. Dalamnya sungai tidak lebih dari tinggi paha
orang dewasa. Arus sungai cukup deras, terutama di setiap jeramnya. Kami
berjalan berlawanan arah dengan arus sungai, dari bawah merangkak ke atas.
Sekitar 1 km saja jarak yang kami lalui. Kalau sedang berada di sungai jenis
seperti ini, jangan lupa tangkupkan air sungai di tangan lalu basuhkan ke
wajah. Sejuknya hampir bikin melayang-layang saking senangnya. Sampailah kami
di bagian atas yang lebar sungainya lebih luas. Latar belakangnya adalah
gunung, besar kemungkinan itu Gunung Haruman dan
Puntang.
Beberapa batu di sungai bisa dijadikan sandaran untuk duduk. Semua peserta
nampaknya senang juga kayak saya. Selesai bermain dengan air, kami naik ke
darat. Kembali, duet TB dan BB bercerita mengenai ilmu kebatuan. Bebatuan yang
berada di sungai ternyata sangat bagus untuk memecah derasnya air sungai. Jenis
batunya bisa bermacam-macam, dari yang paling besar sampai yang terkecil.
batu-batu tersebut berasal dari letusan gunung. Mereka terbawa lava yang
mengalir.
ImageKami kembali ke parkiran bis. Beberapa peserta kepincut kolam cinta yang
tertera di papan petunjuk. Sebagian mengusulkan untuk pergi melihat kolamnya.
Jadi lah kami beranjak lagi, demi kolam cinta. Dinamakan kolam cinta karena
bentuk kolamnya menyerupai hati, sepertinya begitu. Kolam berada di lembah
pegunungan. Bisa saja ya orang Belanda, bikin kolam di tempat seperti ini.
Bayangkan, duduk di tepi kolam sambil menikmati pemandangan gunung, kabut,
awan, langit, dan pepohonan. Bisa jadi dahulu kala mereka suka bikin garden
party disini atau sekedar makan pagi yang indah. Sekarang kolamnya hanya
sekedar nempel, tidak dirawat dan tidak dibikin menarik.
Karena terbentur dengan jadwal kunjungan, kami harus segera pergi meninggalkan
kawasan Gunung Puntang. Jadwal berikutnya adalah makan siang di areal kompleks
perkebunan teh Malabar. Menuju ke kompleks tersebut, bis melaju lewat daerah
pasar Pangalengan dan rumah penduduk. Masyarakat Pangalengan sedang membangun
rumahnya. Kebanyakan mulai beralih ke bahan bangunan dari bambu. Pasca gempa
bulan September, bambu mulai diminati karena tahan goncangan gempa. Sayangnya
harga bambu di Pangalengan sedang tinggi.
Bis langsung menuju ke rumah Bosscha. Arena makan siang dilakukan di hall
samping rumah Bosscha. Menunya soto, tempe, ayam goreng, telor, perkedel, dan
kerupuk melinjo. Ada juga teh tawar hangat dan buah pisang. Usai memenuhi
piring dengan menu tersebut (minus ayam, kerupuk, dan telur), kami duduk di
depan taman, lalu makan. Enak sekali, ulangi: ENAK!. Pemandangan oke, makanan
oke. Sebelum makan, kami disuguhi makanan pembuka oleh BB dan TB. BB bercerita
tentang gempa dan TB mendongeng asal usul Gunung Wayang.
Wayang adalah gabungan bahasa Sanskerta, Wa = angin, Hyang = dewa. Angin Dewa.
Angin yang lembut dan permai, sungguh sesuai dengan semilir angin yang menerpa
wajah saya saat itu. “Tapi ada pula versi lain dari asal usul gunung Wayang”,
cerita TB. Dan bercelotehlah bapak beranak tiga ini tentang kisah seorang
pemuda pemudi, urban legend ceritanya. Kisahnya persis Sangkuriang dan Dayang
Sumbi.
Berikutnya menuju Tugu/makam Bosscha. Kabut mulai menyelimuti gunung Nini,
gunung yang aslinya adalah bukit ini merupakan puncak tertinggi di kompleks
Malabar. Kami naik bis disertai gerimis. Menuju makam Bosscha, bis dua kali
berhenti untuk menurunkan peserta. Yang pertama untuk mendengarkan penjelasan
dari TB dan BB tentang Gunung Bedil, Gunung Windu, dan Gunung Wayang serta
tentang energi Geothermal alias energi panas bumi. Perjalanan dilanjut dan
berhenti lagi areal kebun teh paling tua yang ada di kompleks. Disini pohon
tehnya tinggi-tinggi, tidak kerdil seperti yang kita lihat pada umumnya. Konon
pohon teh tersebut adalah pohon teh tertua di kawasan kompleks.
Makam Bosscha adalah tujuan berikutnya. Bosscha adalah pengusaha perkebunan teh
di Bandung. Pak Upir, penjaga makam ini cerita banyak soal Juragan Bosscha.
Diantaranya adalah betapa dermawannya jutawan Bosscha, atau ketika Bosscha
jatuh dari kuda yang tumpanginya serta kemunculan Bosscha di rumahnya sendiri
setiap diatas pukul 11 malam.
Cerita selesai dan kami secara beriringan naik lagi ke bis. Rumah Jerman,
sebuah rumah dengan gaya arsitektur Eropa dan berada di antara hamparan kebun
teh yang ada di pintu gerbang perkebunan Cukul adalah tujuan akhir dari Geotrek
II. Disebut Rumah Jerman karena gaya arsitekturnya yang menyerupai rumah-rumah
di Jerman sana. Jarum jam mengarah ke angka setengah 5. sekitar pukul 5 kami
berhenti di Situ Cileunca (situ = danau, sundanese). Danau buatan ini dibangun
oleh Belanda. Air dari danau ini menggerakkan beberapa turbin pembangkit tenaga
listrik di tiga tempat. Air inilah yang jadi konsumsi penduduk di daerah
selatan.
Pukul 5 lebih 5, dalam mendung, kabut, dan hujan, rumah Jerman mau tidak mau
sebaiknya memang harus dikunjungi. Hasilnya, luar biasa, rumah peninggalan
Belanda yang luar biasa cantik ini ternyata sudah tidak ada. Ambruk. Rata
dengan tanah. Konon katanya karena gempa. Tapi disinyalir rumah belanda ini
sengaja diruntuhkan karena kepentingan perusahaan tertentu.
Pulang ke Bandung. Geotrek II berakhir di rumah sejarah yang sudah tidak ada
lagi. Kabut tebal secara perlahan menghinggapi semua puncak kebun teh yang jadi
pemandangan kami sore itu. Hujan turun lagi.
Kami pulang kembali ke Bandung dengan perasaan masing-masing. Entah senang,
entah capek, entah sedih, entah campur sari semua rasa ada. Selalu ada yang
baru dalam acara jalan-jalan. Bertemu teman baru, cerita baru, dan suasana alam
yang belum tersentuh teknologi dan bangunan modern.
Terima kasih untuk TB dan BB yang bikin buku Wisata Bumi Cekungan Bandung.
Keren! Juga Truedee yang jadi penerbitnya. Alus!
-ulu-
www.mahanagari.com