Nasdem Menolak Disebut Barisan Sakit Hati JAKARTA, (PR).- Puluhan politisi lintas partai politik, wartawan, mantan pejabat, dan akademisi mendeklarasikan Gerakan Nasional Demokrat (Nasdem). Para deklaratornya menegaskan bahwa Nasdem bukan embrio partai politik untuk bertarung dalam Pemilu 2014, melainkan untuk mewadahi gerakan sipil dan merestorasi tujuan politik Indonesia sesuai dengan cita-cita pembentukan negara. Hal itu ditegaskan akademisi Anies Baswedan, Ph.D. dalam konferensi pers Deklarasi Gerakan Nasdem di Istora Senayan, Jakarta, Senin (1/2).
Anies mengatakan bahwa dirinya dipercaya oleh para tokoh politik yang tergabung dalam Nasdem untuk membacakan Manifesto Nasdem dalam acara tersebut. Selain Anies, dari kalangan akademisi yang turut menjadi deklarator adalah Guru Besar Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Bahri Anwar, Guru Besar Universitas Cendana Prof. Dr. Fredrik L. Benu, Direktur Eksekutif CSIS Rizal Sukma, pengajar FISIP UI Eep Saefulloh Fatah, dan lainnya. "Ada akademisi lain, selain saya. Kami adalah orang-orang yang peduli. Karena ini bukan parpol, maka kami bersedia," ujarnya. Bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X, bos Media Group, Surya Paloh selaku inisiator pembentukan Gerakan Nasdem menolak tuduhan jika gerakan tersebut berisi barisan sakit hati dari Partai Golkar. Ia menegaskan, Gerakan Nasdem bukan partai, melainkan organisasi kemasyarakatan yang dipersatukan ide bahwa demokrasi bukan tujuan, melainkan alat untuk meraih kesejahteraan rakyat. "Fungsi lembaga negara belum berjalan optimal. Kita masih tertinggal jauh oleh bangsa lain. Contohnya, pertandingan apa pun hasilnya hampir pasti kita kalah. Ini tidak memberikan rasa optimisme. Sama halnya setelah kita reformasi tiga belas tahun. Era baru ini realitasnya jelas belum memperoleh adanya rasa keadilan, kenyamanan, kesejahteraan," ujar Paloh dalam orasinya. Dari kalangan tokoh nasional, turut hadir mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR Taufiq Kiemas, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, Ketua Dewan Penasihat Muhammadiyah Syafii Maarif, politisi Golkar Akbar Tanjung. Megawati mengatakan, pendirian Gerakan Nasdem sejalan dengan konstitusi PDIP. "Yang paling penting adalah Nasional Demokrat akan memantapkan Pancasila, NKRI, dan UUD 1945. Dengan demikian, saya sebagai Ketua Umum PDIP merasa hal ini sejalan dengan konstitusi PDIP," ujar Mega. Sementara dari kalangan anggota DPR turut hadir dari Fraksi PDIP Pramono Anung, Maruarar Sirait, Budiman Sudjatmiko, politisi Golkar Priyo Budi Santoso, dan Akbar Faisal dari Hanura. Dari kalangan profesional, hadir pengacara senior O.C. Kaligis, Presiden Kabinet Indonesia Muda Poempida Hidayatullah, Khofifah Indarparawangsa, dan lainnya. Di antara kerumunan deklarator dan tamu undangan, turut hadir Ketua DPP Partai Demokrat Ahmad Mubarok. Ia mengaku mendukung pembentukan gerakan tersebut. Meski hadir sendirian mewakili Partai Demokrat, Mubarok tak segan-segan mengklaim bahwa gerakan tersebut adalah "turunan" dari Partai Demokrat. "Saya juga ikut memelopori kok," katanya disambut derai tawa. Simpul di daerah Salah seorang deklarator, Ferry Mursyidan Baldan menjelaskan, Gerakan Nasdem juga akan dibentuk hingga struktur di desa-desa. Meski begitu, ia tak bisa memastikan waktu perluasan di daerah. "Kami mengalir saja. Tidak ditarget-target," tuturnya. Ferry membantah keras dugaan bahwa pembentukan Gerakan Nasdem ini terkait dengan wacana pemakzulan presiden/wapres yang kencang berembus akhir-akhir ini. "Jauh sebelum kasus Century, kami sudah bertemu dan membicarakan ini," ucapnya. (A-156)*** web: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=125316

