Dimuat Kompas Jawa Barat Kamis 11 Februari 2010
Mencari Paris di Bandung
Oleh Jamaludin Wiartakusumah
.
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi Paris ibukota Perancis.
Sebuah kota di Eropa yang mengundang penasaran karena dijadikan julukan
untuk kota Bandung, Parijs van Java. Julukan yang muncul pada masa kolonial
Belanda dan tetap populer atau dikenang hingga kini. Tentu kunjungan singkat
pada musim dingin di kota itu dipergunakan untuk mengidentifikasi julukan
tersebut, dengan cara mencari kesamaan, kedekatan dan perbedaan antara Paris
dengan Bandung.
Dari segi geografis, ada dua kesamaan dalam skala yang berbeda. Pertama,
Paris dan Bandung berada di pedalaman, bukan di tepi pantai atau kota
pelabuhan. Meskipun begitu, keduanya berkembang seperti kota pelabuhan,
yaitu menjadi kota yang menarik untuk didatangi orang dari berbagai tempat
lain dan profesi termasuk seniman. Vincent Van Gogh dari Belanda atau Pablo
Picasso dari Spanyol misalnya, merintis karir, berkarya dan pernah mukim di
Paris. Demikian halnya Bandung, pernah menjadi tempat perintisan karir
seniman besar Indonesia seperti Affandi dan Hendra dan tempat domisili
banyak seniman ternama.
Namun, bila di Paris karya seniman tersebut dikoleksi berbagai museum negeri
seperti museum Louvre atau d'Orsay, sampai kini Bandung belum memiliki
museum negeri serupa. Di Bandung, beberapa seniman sendirilah yang membuat
museum karya-karyanya.
Kedua, adanya sungai yang melintasi kedua kota tersebut. Di tengah Paris
mengalir sungai Seine yang lebar dan dilalui perahu, sedang di Bandung ada
Cikapundung. Karena lebar, bersih dan di kedua sisinya terbentang jalan
raya, kehadiran sungai Siene sangat terasa dan menjadi bagian penting dari
kota Paris. Beberapa gedung penting berlokasi dekat sungai itu sehingga
paket wisata menyusuri Siene sebagian besar berisi informasi mengenai
gedung-gedung yang dilewati. Sementara Cikapundung yang mengalir di tengah
Kota Bandung, hanya tampak di beberapa kawasan saja seperti Viaduct dan di
samping Gedung Merdeka. Selebihnya tampak hilang terhalang pemukiman. Di
jembatan Jalan Suniaraja, wajah Cikapundung malah ditutup papan iklan besar
karena kondisinya tidak elok sebagai bagian dari panorama kota dan kita
belum cukup mampu membuatnya lebih baik. Sungai yang lebih mendekati ukuran
dan fungsi Siene di seputar Bandung adalah Citarum.
Tata Kota
Salah satu ciri Paris adalah desain jaringan jalan yang banyak menggunakan
sistem aksis atau sumbu yang memusat pada jalan melingkar seperti Bunderan
HI di Jakarta. Sebagian besar jalan utama, taman atau gedung penting
tertentu berada dalam satu garis lurus atau memusat pada suatu monumen atau
landmark kota.
Di Bandung sumbu aksis ini juga terlihat di sekitar Gedung Sate. Sebagian
jalan di kawasan itu melingkar atau mengarah pada Gedung Sate sebagai pusat
aksis. Sementara Jalan Oto Iskandardinata yang membentang dari selatan,
berujung di utara menghadap bangunan bekas pembesar Belanda kolonial yang
sekarang disebut Gedong Pakuan, rumah dinas Gubernur Jawa Barat.
Selain menggunakan bangunan besar sebagai titik pusat, aksis di Bandung juga
menggunakan landmark alam. Gedung Sate dan pendopo bekas kabupaten,
menghadap ke gunung Tangkubanparahu di utara. Gerbang Institut Teknologi
Bandung menghadap selatan dan kawasan tengah kampus dibiarkan terbuka
sehingga Gunung Tangkubanparahu di utara masih terlihat.
Transportasi umum Paris terdiri dari metro, bis kota, trem, RER dan taksi.
Metro adalah sistem mass rapid tranport berupa kereta di dalam kota yang
sebagian besar berada di bawah tanah (terowongan). Kereta ini memiliki
jalur rel dengan panjang keseluruhan sekitar 221 km dan jumlah stasiun 380.
Dari stasiun bawah tanah ke permukaan kota, dihubungkan dengan tangga yang
muncul di sekitar perempatan jalan, trotoar atau di tengah komplek
perkantoran. Jalur pertama Metro ini mulai dibangun pada tahun 1900 dan
selesai pada 1939. Perpindahan penumpang dari satu stasiun ke stasiun
jurusan lain dilakukan di bawah tanah melalui terowongan penghubung. Metro
adalah sistem transportasi yang efisien, mengantar penumpang, warga Paris
atau turis, ke dan dari penjuru kota Paris.
Trem adalah kereta listrik antar kawasan pinggiran Paris sementara kereta
RER melayani tujuan Paris dan kota-kota di sekitarnya. Dengan trem,
bepergian dari satu kawasan pinggiran ke pinggiran lain, tidak perlu masuk
ke tengah Paris dahulu.
200 Tahun
Di banding dengan Paris yang konon berumur lebih dari dua ribu tahun,
Bandung sebagai kota tahun ini baru akan genap 200 tahun. Tentu usia Bandung
bisa lebih dari itu bila melihat laporan Julian da Silva bahwa pada 1614 ada
sebuah perkampungan bernama Bandung yang dihuni sekitar 25-30 rumah dan jauh
lebih tua lagi bila merujuk pada temuan arkeologi yang menunjuk pada angka
tahun 1488.
Sebagai kota yang dibangun Belanda pada masa kolonial, Bandung memiliki
warisan khas berupa jejak desain awal. Mulai dari sebagai kota kecil tempat
para preanger planter (londo pemilik perkebunan di sekeliling Bandung)
berakhir pekan, dengan kawasan Braga sebagai pusat hiburan dan belanja.
Sementara itu, di tengah kota banyak kawasan pemukiman satu lantai khas
rumah model pedesaan Belanda jaman dahulu dan masih ada hingga sekarang.
Kondisi ini menjadikan kota Bandung sebagai kota dengan nuansa pedesaan yang
kental. Ini, saya kira, salah satu yang membuat Bandung menjadi kota yang
khas pulau Jawa dan Indonesia umumnya.
Kondisi ini berbeda dengan Paris atau kota-kota Eropa lainnya karena desain
hunian di sana seluruhnya model apartemen atau flat. Kepadatan populasi kota
Bandung telah mulai diantisipasi. Para pengembang dewasa ini, yang
sebelumnya mengikuti model hunian model pedesaan warisan Belanda, mulai
membangun hunian model apertemen atau rumah susun.
Perbedaan skala kota terletak pada kondisi Paris yang ibukota sebuah negara
dengan kondisi ekonomi, politik dan budaya yang mapan, sedang Bandung ibu
kota provinsi negara dengan kondisi yang masih bergerak tumbuh. Meskipun itu
bukan halangan untuk membangun Bandung menjadi kota yang lebih nyaman
dihuni, lebih indah dinikmati.
Paris sejak lama dikenal dengan cafe-cafenya. Bandung sebagai kota tempat
plesiran di akhir pekan sebagaimana jadi ciri khas Bandung tempo dulu, masih
berlaku hingga sekarang. Bedanya kalau dulu pendatangnya adalah para juragan
perkebunan, sekarang warga Jakarta dan kota di sekitar Bandung. Kondisi ini
menumbuhkan bermacam kegiatan ekonomi terutama wisata belanja termasuk
kuliner dalam bentuk rumah makan dan cafe. Tinggal bagaimana membuat solusi
dari konsekuensi itu karena pada akhir pekan sering terjadi kemacetan luar
biasa.
Sebagai Paris di pulau Jawa, tentu Bandung tidak harus meniru Paris, namun
memang masih diperlukan lebih banyak upaya untuk membuatnya lebih terasa
sebagai rumah yang nyaman bagi warganya dan ramah pada mereka yang datang
untuk berakhir pekan.
.
Jamaludin Wiartakusumah
Dosen Desain Itenas