hebat Kang Djodi. Nuhun Tantan
2010/3/13 Djodi Ismanto <[email protected]> > > > > > --- On *Sat, 3/6/10, suwandiahmad <[email protected]>* wrote: > > > From: suwandiahmad <[email protected]> > Subject: [airputih] Kisah Nenek dari Madura > To: [email protected] > Date: Saturday, March 6, 2010, 2:11 PM > > > > Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga > cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. > Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk > masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia > keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan > dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar > dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia > membersihkan halaman masjid dengan cara itu. > Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya > membasahi seluruh tubuhnya. > > Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid > memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. > Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia > ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun > terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia > mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. > Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "Jika kalian kasihan > kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk > membersihkannya. " > > Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti > biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu > mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu > mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang > mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia > masih hidup. > > Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. > > "Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya > yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin > selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali > saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. > Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua > daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya." > > Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk > saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan > cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, > kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia > juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan > amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi > rahmat semua alam selain Rasululloh saw? > > Di kutip dari buku : "Rindu Rosul - Meraih cinta ilahi melalui syafaat Nabi > Saw" hal 31-33 > Penulis: Jalaluddin Rakhmat, > penerbit: Rosda Bandung, . > September 2001. > > > > -- tantan hermansah | SM 1270 I 0818 800 528 I Untuk Kebebasan dan Kebahagiaan I Bogor

