Assalamulaikum
keur ngulik 2 quran sim kuring mendakan fenomena jumlah keluarga na para nabi
(aLi-basa arab artina kulawarga) jumlahna aya 12 tanpa (ali fir'aun) teras we
simkuring teh ngulik2 deui nu sanesna,,, pas kitu neangan search ka internet,
ternyata geus aya makalahna di website Fatimah anu 12 teh bahkan lain ngan
saukur ALi (keluarga) tapi nu sejenna oge samisal, khalifa, imam, maksum...
sok geura taliti heula bener henteuna... mangga...
tapi sok taliti heula ... sim kuring oge geus naliti ...
(tapi ulah ngabayang2 anu sanes2 ... pikeun renungan jeung panilitian we mangga)
sumber : www.fatimah.org
Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw.
Kaum muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa
Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12
orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di
dalam shahihnya, pada awal Kitab Kitab Al – Ahkam, bab Al – Umara min Quraysi
(para Pemimpin dari Quraysi), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam,
halaman 153, sedangkan dalan shahih muslim disebutkan di awal Kitab Al-Imarah,
juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-shahhah dan Ashhab
Al-sunan, bahwasannya diriwayatkan dari Rasulullah saw :
Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin
oleh 12 khalifah, semuanya dari Quraysi.
Diriwayatkan dari jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw.
bersabda : ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu
yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda : ‘Ayahku semuanya dari
Quraysi’.”
Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah
para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah
Nuqaba bani Israil; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s.
Dalam Al – Qur’an ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan
berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam
kaum muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada
ayat-ayat berikut:
1. Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi
seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.”
Allah berfirman : “Janji-Ku (ini) tidak lagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah:
124)
2. … Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum
Al-Qur’an itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama) dan rahmat …
(Hud: 17)
3. ... Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa.
(Al-Furqan: 74)
4. Dan sebelum Al- Qur’an itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam)
dan rahmat … (al-Ahqaf: 12)
5. … Maka kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua kota benar-benar
terletak di jalan umu (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)
6. … Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab induk (Imam) yang
nyata. (Yasin: 12)
7. (Ingatlah) suatu hari yang (di Hari itu) Kami panggil setiap umat
dengan pemimpinnya (imammihim). (Al-Isra : 17)
8. … Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena
sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya,
agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12)
9. Kami telah menjadikan mereka sabagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang
memberi petunjuk dengan perintah Kami … (Al-Anbia: 73)
10. … Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) dan
menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia)
ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41)
12. Dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimipin (aimmah) yang
memberi petunjuk dengan perintah Kami … (Al-Sajdah: 24)
Ayat Keduabelas
Saya berpendapat bahwa dalam jumlah para Imam itu sama dengan jumlah para
Nuqaba Bani Israil, yaitu sebanyak 12 orang baqib. Di antara yang menarik
perhatian ialah ketika Nuqoba itu berjumlah 12, ia pun disebutkan pada ayat
keduabelas dari surat Al-Maidah, yaitu ketika Allah berfirman:
Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah
Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin (naqib) … (Al-Maidah: 12)
Duabelas Khalifah Rasul saw.
Kata khalifah dan turunan kata isim-nya, yang digunakan untuk memuji,
diesbutkan sebanyak 12 kali. Di dalamnya dijelaskan mengenai Khilafah dari
Allah SWT, yaitu pada ayat-ayat berikut ini:
1. Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi …” (Al-Baqarah: 30)
2. Hai Daud, sesunguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka
bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu .. . (Shad: 26)
3. Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (Khalaif) di bumi …
(Al-An’am: 165)
4. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti mereka (khalaif) sesudah
mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat … (Yunus: 73)
5. … Dan Kami jadikan mereka pemegang kekuasaan (khalaif) dan Kami
tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami … (Yunus: 73)
6. Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa
yang kafir maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri … (Fathir:
39)
7. Dan ingatlah oleh kami sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai
pengganti-pengganti (khulafa) yang berkuasa setelah lenyapnya Nuh … (Al-a’raf:
69)
8. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu sebagai
pengganti-pengganti (khulafa) setelah lenyapnya ‘Ad dan memberikan tempat
bagimu di bumi … (Al-A’raf: 74)
9. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan
apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang
menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah-khalifah (khulafa) di muka bumi …”
(Al-Nur: 55)
10. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu
dan yang mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sesungguhnya akan
menjadikan mereka berkuasa (layastahklifannahum) di muka bumi … (Al-Nur: 55)
11. … Sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa (istakhlafa) orang-orang
sebelum mereka … (Al-Nur: 55)
12. … Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan
kamu khalifah di bumi …” (Al-A’raf: 129)
Duabelas Washi
Termasuk yang ditegaskan oleh jumlah ini (12) ialah wasiat Rasulullah saw.
bahwasannya Imam sesudah itu berjumlah 12 Imam, sama dengan jumlah wasiat Allah
kepada makhluk, yaitu sebanyak kata wasiat dan bentuk turunanya dari Allah
kepada makhluknya sebagaimana terdapat pada ayat-ayat berikut :
1. Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan yang telah diwahyukan kepadamu … (Al-Syura: 13)
2. … Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan (washsha) ini
bagimu … (Al-An’am: 144)
3. … Demikian itu yang diperintahkan di waktu Allah menetapkan
(washshakum) supaya kamu memahami (nya) … (Al-An’am: 151)
4. … Yang demikian itu diperintahkan Allah (washshakum) kepadamu suapaya
kamu ingat … (Al-An’am: 153)
5. Yang demikian itu diperintahkan Allah (washshakum) kepadamu agar kamu
bertaqwa … (Al-An’am: 153)
6. … Dan sesungguhnya Kami telah memerintahkan (washshaina) kepada
orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan (juga) kepadamu: “Bertakwalah
kepada Allah.: (Al-Nisa: 131)
7. dan kami wajibkan (washshaina) manusia untuk (berbuat) kebaikan kepada
kedua ibu-bapaknya … (Al-Ankabut: 8)
8. Dan kami perintahkan (washshaina) kepada manusia untuk berbuat baik
kepada kedua ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah lemah … (Luqman: 14)
9. … Dan apa yang telah Kami wasiatkan (washshaina) kepada Ibrahim, Musa
dan Isa, yaitu: “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu terpecah belah tentangnya
… (Al-Syura: 13)
10. Kami perintahkan (washshaina) kepada manusia untuk berbuat baik kepada
kedua ibu-bapaknya … (Al-Ahwaf: 15)
11. … Dan Dia memerintahkan (ausha) kepadaku untuk mendirikan shalat dan
menunaikan zakat selama aku hidup … (Maryam: 31)
12. … Syariat (washiyyatan) dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Penyayang. (An-Nisa: 12)
Para Imam Ma’shum
Kata kerja ma’shum (memelihara kesucian) berikut turunan katanya dalam
Al-Qur’an disebut 12 kali, dan itu sesuai dengan banyaknya Khalifah Rasulullah
saw. yang terpelihara serta benar-benar disucikan oleh Allah dari segala noda.
Keduabelas kata tersebut terdapat dalam ayat-ayat berikut :
1. Wahai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan
jika tidak kami kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak
menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara (ya’shimuka) kamu dari (gangguan)
manusia … (Al-Maidah: 67)
Sebab diturunkannya ayat ini pada waktu haji wada’, bahwa ketika Rasulullah
saw. kembali setelah ibadah haji, 18 Dzulhijjah, di Ghadir Khum, Allah menyuruh
beliau untuk menyampaikan pesan kepada manusia bahwa khalifah pertama
sepeninggal beliau adalah Imam Ali bin Abi Thalib a.s. Maka Rasulullah pun
menyampaikannya kepada seluruh umat. Antara lain, beliau bersabda: “Bukankah
aku lebih kamu utamakan ketimbang diri kamu sendiri?” mereka menjawab: “Tentu,
ya Rasulullah!” Beliau bersabda lagi: “Barang siapa yang memandang aku sebagai
pemimpinannya (maula), maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah, pimpinlah orang
yang menjadikannya pemimpin dan musuhilah yang memusuhinya; tolonglah orang
yang menolongnya dan hinalah orang yang menghinakannya.” Hadis ini jelas
Mutawatir, dan disepakati keshahihannya, di samping juga ada riwayat (lain)
dalan shahih Muslim yang menunjuk kepada fakta ini. Hanya saja dalam riwayat
Muslim, wasiatnya ditujukan kepada
Ahli Bait a.s. Shahih Muslim, Kitab Al-Fadha’il (ketamaan-keutamaan), bab
fadha’il Ali bin Abi Thalib (r.a.), halaman 362, terbitan Muhammad Ali Shahih:
Dari Zaid bin Arqam, dia berkata: “Rasulullah saw. pada suatu hari beridiri dan
berkhutbah kepada kami di tempat air yang disebut Khum, antara Makkah dan
Madinah. {Pembacaan shalawat yang benar ialah [semoga Allah melimpahkan
kesejaghteraan kepada Nabi “beserta keluarganya”, dan semoga memberikan
keselamatan], sesuai dengan sunah Rasul saw. yang melarang mebaca shalawat yang
terpotong [al-batra’], sebagaimana yang tercantum dalam Shahih Bukhari, Kitab
tafsir bab firman Allah SWT. “Sesungguhnya Allah beserta malaikat-Nya membaca
Shalawat kepada Nabi …” (V: 27), Dar al-Fikr, Mathabi’ Al-Sya’b; dan pada kitab
Da’wah bab shalawat kepada Nabi saw. (II:16), Syarikat Al-I’lanat, dan (I:45);
Sunan Ibn Majah (I:292), hadis nomor ke-976 dan 977; Musnad Ahmad bin Hambal
(II:47), cetakan
Maimuniah Mesir; Muwatha’ Malik yang dicetak berikut syarahnya, Tanwir
Al-Hawalik (I:179); Tafsir Qurthubi (XIV:233); Tafsir Ibn Katsir (III:507);
Tafsir Al-Razi (XXV:226), cetakan Al-Bahiah Mesir, dan (VII; 391), Cetakan Dar
al-Thaba’ah Mesir; dan banyak lagi. Semuanya meriwayatkan larangan Rasulullah
saw. mengenai pembacaan shalawat kepada beliau tanpa menyebutkan keluarganya.
Berikut ini adalah matan yang dikemukakan oleh Al-Bukhari setelah menyebutkan
maksud ayat mulia tadi, maka mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, telah kami
ketahui bagaimana kami harus mengucapkan salam kepadamu. Lalu, bagaimana kami
harus mengucapkan shalawat kepadamu?” Rasulullah saw. menjawab: “Katakanlah,
“Ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan kepada keluarga
Muhammad. Janganlah kalian mengucap shalawat kepadaku dengan shalawat
terpotong.” Ditanyakan: “Apakah shalawat terpotong itu ya, Rasulullah?” Rasul
menjawab: “Janganlah kalian
mengatakan: ‘Ya Allah limpahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad,’ lalu kalian
diam hingga di situ. Tetapi katakanlah: ‘Ya Allah, limpahkanlah kesejahteraan
kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad’.”
Hadis semacam ini dikemukakan dengan bermacam-macam matan yang berdekatan arti
dan maksudnya, dan seiring dengan adanya matan-matan mengenainya yang
mutawatir. Mengenai hal ini pula, kita sering mendapatkan kebanyakan kaum
muslim, ketika mnuturkan dan mengucapkan shalawat kepada Rasulullah saw. yang
mereka ucapkan adalah shalawat btra’ (buntung). Mereka mengucapkan kepada
Rasulullah saw. tanpa mengikutsertakan shalawat kepada keluarganya. Sehingga
saya tidak tahu, tradisi yang mana yang mereka ikuti? Jelas, seluruh matan
hadis yang mutawatir tadi melarang mengucapkan shalawat kepada Rasulullah saw.,
kecuali dengan mengikutsertakan shalawat kepada keluarganya}. Seraya beliau dan
mengagungkan Allah, serta memberi wejangan (dzikr). Lalu beliau bersabda: “Amma
ba’du. Ingatlah wahai manusia, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang
manusia. Segera utusan Tuhanku akan datang dan aku akan segera
menjawabnya(wafat). Aku tinggalkan pada kalian tsaqalain:
pertama, Kitab Allah yang berisi petunjuk dan cahaya, maka ambillah dan
peganglah erat-erat Kitab Allah itu, perhatikanlah dan cintailah ia.
‘Selanjutnya, beliau bersabda: ‘Dan, (kedua), Ahli Biatku. Semoga Allah
mengingatkan kamu kepada Ahl-Baitku’.” Secara maknawi, hadis Ghadir ini
diriwayatkan di dalam Sahih Al-Tirmidzi (V:297-379); Sunan Ibnu Majah
(I:94-95); Mustadarak Hakim (III:110); Musnad Ahmad bin Hambal (I:88); Tarikh
Kabir al-Bukhari (I:375); dan lain-lain.
Sebab turunnya ayat tersebut berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib (a.s),
sebagaimana banyak dikemukakan oleh para ulama, seperti Al-Wahidi dalam
Asbabun-Nuzul-nya, juga dalam tafsir Fakhrurrazi (XII:298), cetakan Beirut,
terbitan Mesir; dan lain-lain.
2. Katakanlah: “Siapa yang dapat melindungi kamu (ya’shimukun) dari
(takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu … (Al-Ahzab: 17)
3. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat
memeliharaku (ya’shimuni) dari air bah” … (Hud: 43)
4. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan
berpegang teguh (wa’tashimu) kepada (agama) Allah dan tulus ikhlas mengerjakan
agama mereka karena Allah … (An-Nisa: 146)
5. Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh
(wa’tashimu) kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam
rahmat-Nya yang besar … (An-Nisa: 175)
6. … Barangsiapa yang berpegang teguh (ya’tashim) kepada (agama) Allah,
maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Ali Imran:
101)
7. Dan berpeganglah kamu semua (wa’tashimu) kepada (tali) Allah dan
janganlah kamu bercerai berai … (Ali Imran: 103)
8. …, Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu
(wa’tashimu) kepada tali Allah. Dan adalah pelindungmu … (Al-Hajj: 78)
9. … dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya
(kepadaku) akan tetapi dia menolak (watashim) (Yusuf: 32)
10. … dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung
pun dari (azab) Allah (‘ashim) … (Yunus: 27)
11. … berkata: “Tidak ada yang melindungi (’ashim) pada hari ini dari azab
Allah kecuali diberi rahmat … (Hud: 3)
12. (yaitu) dari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu
seorangpun yang menyelematkan kamu (‘ashim) dari (azab) Allah … (Ghafir:33).
Duabelas Khalifah Dari Keluarga Muhammad saw.
Kata Ali (keluarga) yang disandarkan kepada nama-nama terpuji, seperti keluarga
Ibrahim, keluarga Imran tidaklah disandarkan kepada nama-nama jelek seperti
keluarga Fir’aun. Kata tersebut disebut sebanyak duabelas kali sesuai dengan
jumlah Imam dari keluarga Muhammad saw. yang diawali dengan Imam Ali a.s. dan
diakhiri dengan nama Imam Al-Mahdi a.s. Keduabelas kata tersebut adalah sebagai
berikut :
1. … Di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari
peninggalan keluarga (ali) Musa … (Al-Baqarah: 248)
2. … Dan keluarga (ali) Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat …
(Al-Baqarah: 248)
3. Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, dan keluarga (ali) Ibrahim
… (Ali Imran: 33).
4. … Dan keluarga (ali) Imran melebihi segala umat (di masa mereka
masing-masing). (Ali Imran: 33).
5. … Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga
(ali) Ibrahim … (Al-Nisa: 54)
6. … Dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga (ali)
ya’qub … (Yusuf: 6).
7. Kecuali keluarga (ali) Luth beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya
Kami akan menyelematkan mereka semuanya. (Al-Hijr: 59)
8. Maka tatkala datang para utusan kepada kaum (ali) Luth (Al-Hijr: 61)
9. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga (ali) Ya’qub;
dan jadikanlah ia, ya! Tuhanku, sebagai orang yang diridhai. (Maryam: 6)
10. … “Usirlah Luth beserta keluarganya (ali) dari negeri; sesungguhnya mereka
itu adalah orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih. (Al-Naml: 56)
11. … Bekerjalah hai keluarga (ali) Daud agar (kamu) bersyukur (kepada Allah)
dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang beriman besih. (Saba’: 13).
12. Sesungguhnya kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa
batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga (ali) Luth. Mereka Kami
selamatkan waktu fajar belum menyingsing. (Al-Qamar: 34).
Bintang-Bintang Keluarga Muhammad Ada Duabelas
Mengenai hal ini, terdapat sebuah hadis yang dikemukakan oleh banyak penulis
kitab shahih, yaitu sabda Rasulullah saw.: “Bintang-Bintang adalah pengaman
bagi penduduk bumi dari permusuhan, dan ahli Baitku adalah pengaman bagi umatku
dari keterpecah-belahan; dan apabila satu qabilah Arab menentangnya, maka
mereka akan berpecah-belah dan mereka akan menjadi partai Iblis.” Hadis ini
dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, (II:448; III:457); dalam shawa’iq
Al-Muhriqah, Ibn Hajr: 150, 185, 233, 234 terbitan Muhammadiyah Mesir; dan
dalam Kanz al-“Ummal, Musnad Ahmad bin Hambal (V:92).
Ibn Hajr Al-Syafi’i, mengomentari hadis “ahli Baitku adalah keamanan bagi
umatku”, berpendapat: “Mungkin yang dimaksudkan dengan ‘Ahli Baitku adalah
pengaman bagi umatku’ adalah para ulama mereka, sebab mereka yang memberikan
petunjuk kepada semua bagaikan bintang gemintang, dan jika mereka lenyap, maka
penduduk bumi akan menemui apa (ayat-ayat) yang dijanjikan kepada mereka. Hak
itu terjadi ketika datangnya Al-Mahdi, berdasarkan berbagai hadis bahwa Isa
a.s. akan shalat di belakang (Al-Mahdi) dan akan membunuh Dajjal.”
Dalam Al-Qur’an, kata naim (bintang) dan nujum disebut sebanyak duabelas kali,
yakni pada ayat-ayat :
1. Dan Dia ciptakan tanda-tanda (petunjuk alam). Dan dengan
bintang-bintang (najmi) itulah mereka mendapat petunjuk. (An-Nahl: 16)
2. Demi bintang (wannajmi) ketika terbenam … (An-Najm: 1)
3. … (yaitu) bintang (najmu) yang cahayanya menembus … (Ath-Thariq: 3)
4. Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang (nujum) bagimu … (Al-An’am:
97).
5. … dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang
(nujuum), masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. (Al-A’raf: 54)
6. Dan bintang-bintang (nujuum) itu ditundukkan (untukmu) dengan
perintah-Nya (An-Nahl: 12)
7. … Kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari,
bulan, bintang-bintang (nujuum), gunung, pohon-pohonan … (Al-Hajj: 18).
8. Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang (nujuum).
(As-Shaffaat: 88)
9. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di
waktu terbenam bintang-bintang (nujuum) di waktu fajar. (At-Thur: 49)
10. Maka aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Qur’an (mawaqi’
al-nujum). (Al-Waqi’ah: 75)
11. Maka apabila bintang-bintang (nujuum) dihapuskan. (Al-Mursalat: 8)
12. Dan apabila bintang-bintang (nujuum) berjatuhan. (Al-Takwir: 2)
Kata najm ini terdapat pula di dalam firman Allah: “Dan tumbuh-tumbuhan (najmi)
dan pohon-pohonan, kedua-duanya dengan najm di sini bukan bintang yang ada di
langit, melainkan najm dalam arti tumbuhan