http://www.tempointeraktif.com/hg/budaya/2009/05/23/brk,20090523-177742,id.h
tml
50 Jawara Cimande Bertarung di Pasireurih
Sabtu, 23 Mei 2009 | 16:11 WIB
TEMPO Interaktif, Bogor: Sebanyak 50 jawara Cimande yang tersebar di
Kabupaten Bogor, Sukabumi, dan Cianjur bertarung memperebutkan seeng (alat
menanak nasi yang terbuat dari tembaga), sebagai simbol pusaka dalam
pagelaran seni budaya Sunda bertema Adujaten Parebut Seeng, Sabtu (23/5), di
Kampung Budaya Sindangbarang Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari,
Kabupaten Bogor.

Dalam gelaran seni budaya itu, seeng diperebutkan pendekar utusan dari pihak
perempuan. Jika seeng itu bisa direbut dari pendekar laki-laki, maka
perempuan itu bisa menikahi laki-laki tersebut.

"Dalam adat Sunda, sejelek-jeleknya laki-laki masih ada harganya. Begitu
juga dengan seeng, sejelek-sejeleknya seeng banyak manfaatnya," kata Pupuhu
Kampung Budaya Sindangbarang Maki Sumawijaya.

Berbagai jurus dan ketangkasan jawara ditampilkan. Gerakan menyerang serta
bertahan diiringi irama Gendang Penca yang riuh menyedot pengunjung dari
berbagai wilayah di Bogor.

Dalam hal ini, ada empat kriteria yang harus menjadi perhatian para jawara
saat memperebutkan seeng, yaitu wirahma (penjiwaan), wiraga (gerakan),
wiracipta (kreativitas), dan wirasa (keindahan).

"Harapannya para jawara tampil lebih mengedepankan unsur keindahannya, namun
yang terjadi para jawara lebih mengedepankan unsur teknisnya," kata Wahyu
Affandi Suryadinata, salah satu tim penilai.

Ke depan, kata Wahyu, akan ada pembenahan dan perbaikan lagi supaya seni
Sunda yang digelar nanti lebih menitikberatkan pada keindahan.

Sementara itu, salah seorang tokoh budaya Sunda, Eman Sulaeman, mengaku
bangga dengan digelarnya acara Adu Jaten Parebut Seeng. Menurutnya, kegiatan
tersebut akan lebih mendekatkan seni Sunda dengan generasi muda.

"Ini akan membangkitkan kecintaan generasi muda terhadap seni Sunda," ujar
Eman. 

DIKI SUDRAJAT 

Kirim email ke