Ayeuna "jaman SMS" alias peSAN penDEK. Tapi kulnataran pondok, sagalana jadi 
disingket, eusi SMS jadi ngaharib-harib kode rahasia ..hehehehe. Komo di 
kalangan rumaja mah, ampir kabeh disingket, tepika nu teu biasa macana mah, 
moal ngarti. Tapi ceuk GM dihandap ieu, budaya SMS teh aya hadena, sabab budaya 
tulas-tulis, nu tadina ampir ditinggalkeun, ayeuna diramekeun deui. Nyanggakeun 
caping Tempo minggu ieu:  

Tempo, 12 APRIL 2010

San-Dek

LOL!

Saya bingung.

Dengan telepon genggam, sebuah teks berisi lelucon dikirim. Sebagai jawaban, 
tiga huruf itu yang muncul.

LOL? Baru kemudian seorang teman menjelaskan bahwa huruf-huruf itu berarti 
"laugh out loud". Artinya: si pengirim pesan ketawa terpingkal-pingkal.

Pelan-pelan saya belajar. Begitu banyak singkatan. Begitu banyak penanda yang 
direduksi dan lambang yang ganjil. Dengan setengah gagap saya memasuki samudra 
"short messages services", SMS, atau, dalam bahasa Indonesia, "san-dek" 
(ringkasan dari kata "pesan pendek"). Artinya saya jadi salah seorang dari tiga 
miliar manusia yang mengirim lebih dari satu triliun san-dek tiap tahun, dengan 
bahasa tersendiri.

Sekitar dua tahun lalu ada sebuah buku yang ditulis David Crystal, Texting: The 
Gr8 Db8. Ia mencoba menjawab kenapa orang gemar mengirim san-dek, yang 
sebenarnya tak lebih ringkas ketimbang tanda morse (yang mengganti huruf "s" 
dengan tiga pijitan tombol saja). Menurut Crystal, orang mengirim san-dek 
sebagai sukan, game. Orang mengirim SMS sebagaimana orang membuat gurindam: 
dalam sebuah bentuk yang ringkas-tak boleh lebih dari 140 bytes atau 160 
huruf-harus disampaikan sebuah isi yang kena. Ini tantangan keterampilan yang 
memikat.

Mungkin itu sebabnya san-dek jadi kaya dengan singkatan atau inisial. "LOL" 
hanya salah satunya. Ada "GBU" (God bless you) atau "OMG" (Oh, my God). Ada 
juga "IMHO": in my humble opinion. Lebih pintar lagi piktogram, dan tak boleh 
dilupakan: "emotikon", gambar-gambar yang menandai perasaan tertentu.

Tentu, seperti kata Crystal pula, menggunakan singkatan bukan hanya gejala 
zaman telepon genggam. Dalam surat resmi pun dari dulu sudah ada inisial 
"A.S.A.P." (sesegera mungkin), "R.S.V.P." (mohon jawaban), atau "cc" 
(tembusan). Dan dalam kata-kata bersuku banyak, peringkasan sering 
terjadi-sebuah gejala yang sulit dielakkan dalam bahasa Indonesia yang 
silabelnya berenteng itu: "se-a-kan-a-kan", "ter-go-poh-go-poh"....

Tapi berbeda dari zaman lampau, inilah zaman bermain-main kata dengan cara agak 
saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hanya dalam beberapa detik 
orang bisa saling menulis dan sampai serentak ke lima benua.

Dalam hal kecepatan ini bahasa Inggris memang punya kelebihan: rata-rata kata 
Inggris cuma terdiri atas empat huruf. Bahasa Indonesia lebih dari itu. Tapi 
seperti bahasa Inggris, bahasa kita punya keuntungan: hampir tak memakai tanda 
diakritik seperti misalnya bahasa Prancis, Portugis, atau, paling repot, bahasa 
Cek. Bahasa Cek hampir mustahil ditulis di SMS dengan telepon genggam yang kita 
kenal.

Tapi tiap bahasa punya ringkasannya, demi kecepatan. Dalam bahasa Cek, "hosipa" 
berarti "Hovno si pamatuju" atau "aku tak ingat apa pun". Dalam bahasa Prancis, 
"ght2v1" berarti "J'ai achet� du vin", "aku sudah beli anggurnya".

Yang menarik kita dengar dari Crystal-ia seorang linguis profesional yang telah 
menulis sekitar 100 judul buku-ialah bahwa ia tak cemas. Ia tak waswas bahwa 
akan terjadi perubahan bahasa yang merasa harus makin pendek dan tergesa-gesa. 
Sebab, kata Crystal, satu triliun pesan pendek "tak lebih dari beberapa percik 
buih dalam samudra bahasa". Lagi pula, manusia bermain-main dengan bahasa sejak 
dulu, di era pra-HP, dan sampai sekarang kita masih saling bicara dengan enak.

Yang bagi saya tak kalah penting adalah kembalinya kesadaran dan keterampilan 
akan bahasa tulis dalam masa surat elektronik dan san-dek ini. Generasi kini 
hidup dikepung oleh gambar dan suara (dan di Indonesia, sembilan dari 10 rumah 
mempunyai pesawat TV) dan diberondong khotbah di rumah, di tempat ibadah, atau 
di televisi. Bahasa lisan menguasai ruang. Tapi untunglah tak selama-lamanya. 
Kini, seraya memegang erat telepon genggam yang dimiliki berjuta-juta orang 
Indonesia dari pelbagai kelas sosial, rakyat di seluruh penjuru tanah air 
melatih keterampilan menulis tiap jam, mungkin tiap menit. Lebih dahsyat 
ketimbang kursus pemberantasan buta huruf. Insya Allah, kemampuan baca tulis, 
biarpun sangat sederhana, akan meningkat di negeri ini.

Meskipun dalam san-dek, bahasa lisan praktis berbaur dengan bahasa tulis, masih 
ada ruang tempat kita mampu bersikap lebih analitis biarpun sejenak. Dengan 
tradisi bahasa tulis yang kuat, orang seakan-akan bisa meletakkan bahasa di 
atas meja, mencermatinya, dan mengurainya.

Bahkan sejak seseorang membubuhkan kata-katanya dalam huruf dan angka, ia harus 
cukup teliti. Satu hal yang agaknya dilupakan ialah bahwa di tengah kekacauan 
ejaan dalam bahasa kita, anak-anak muda memperkenalkan bahasa tulis yang justru 
mengharuskan mereka memperhatikan baik-baik tiap huruf; mereka menyebutnya 
"bahasa Alay". Bahasa ini juga ibarat sebuah sukan. Dari main-main ini 
kreativitas berkembang ke mana-mana. Bahkan di Internet saya temukan ada yang 
mampu menyusun program penyalin teks ke dalam "bahasa" yang mirip huruf paku 
itu: gabungan antara huruf dan angka yang harus pas. Agaknya ada konsensus: di 
kalangan Alay, salah eja bikin bengong. 54l4h 3j4, b1kin b3n60n6.

Setidaknya, bahasa tulis yang hidup dari pertukaran kata dengan tangkas dan 
cepat itu punya semacam dorongan demokratisasi dalam berkomunikasi. Saling 
berhubungan tanpa saling hadir, tiap "aku" hanya muncul di layar karena satu 
atau beberapa "kamu" juga muncul di layar yang sama. Tiap "aku" tak bisa 
mendorongkan dirinya sebagai pemberi makna yang tunggal. Tak ada pusat yang 
akan berdiri lebih dari beberapa jam.

Yang ada hanya teks yang berseliweran, mengalir, bercampur, tak permanen. D4l4m 
k34n3ka-r464m4n.

Goenawan Mohamad


Kirim email ke