Baraya,

Kahaturkeun di handap ieu seratan kang Adit dina FB-na:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=377113878137

Ka baraya sadaya, hayu urang ngarojong ieu rencana ngajengkeun "Bujangga
Manik" jadi MOW (Memmory of the World). Diantos saran kanggo lengkah-lengkah
gawena.

Nuhun.

manar


#Bujangga Manik dan Ingatan Dunia
Share<http://www.facebook.com/ajax/share_dialog.php?s=4&appid=2347471856&p[]=1114480586&p[]=377113878137>
 Monday, April 12, 2010 at 3:24pm
Aditia Gunawan

Sejak ditemukan dan kemudian diserahkan ke Perpustakaan Bodleian, Oxford
pada tahun 1627 oleh Saudagar Andrew James, seorang Saudagar asal Newport,
naskah ‘Bujangga Manik (BM)’ sempat ‘terlupakan’ selama kurun waktu tiga
abad lamanya. Barulah kemudian pada tahun 1968 (341 tahun kemudian!),
seorang peneliti Sunda asal Belanda, Jacobus Noorduyn, memanfaatkan data
yang terdapat dalam naskah BM. Dan hanya seorang Noorduyn pula, yang selama
berpuluh-puluh tahun mengabdikan dirinya bergelut dengan naskah ini.
Upayanya berujung pada artikel singkatnya "Bujangga Manik Journeys through
Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source" (BKI, 138:413-42).

Sayangnya, Noorduyn berpulang sebelum sempat mengumumkan penelitiannya yang
menyeluruh atas naskah ini. Untunglah, seorang sahabat yang juga peminat
budaya Sunda dan Nusantara berkebangsaan Belanda, A. Teeuw melengkapi
kajian-kajian Noorduyn atas tiga puisi Sunda kuna (termasuk Bujangga Manik)
dan kemudian diterbitkan dalam bukunya ‘Three Old Sundanese Poem’ (2006).
Noorduyn dan A Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik
berlangsung (atau ditulis?) pada masa Kesultanan Malaka masih menguasai
jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511.
Seperti umum diketahui, bahwa Malaka menguasai jalur perniagaan sejak tahun
1440. Dalam rentang waktu itulah kiranya, perjalanan suci Bujangga Manik
berlangsung.

Dari hasil-hasil penelitian itulah kita bisa memperoleh gambaran, bahwa teks
Bujangga Manik menceritakan seorang petapa Sunda-Hindu yang, meskipun
berkedudukan sebagai Tohaan (Pangeran) di istana Pakuan, lebih memilih hidup
sebagai petualang yang senantiasa mencari kepuasan rohaninya. Petualangannya
menjelajahi tempat-tempat itulah, yang selalu kita ingat di masa kini.
Tempat yang ia singgahi lebih dari 450 tempat, termasuk di antaranya ada
sedikitnya 90 nama gunung dan 50 nama sungai, terbentang dari Sunda bagian
barat (Pakuan) sampai pulau Bali. Singkatnya, sebagaimana diungkapkan Teeuw,
selain mempunyai fungsi sastra yang indah dan menghibur, teks BM juga
menjadi petunjuk ensiklopedis mengenai berbagai segi kehidupan kontemporer:
baik budaya, geografi, sejarah, bahasa, dll. Keistimewaan lain dari naskah
puisi yang berjumlah 1641 baris ini, ialah bahwa pada kenyataannya– seperti
naskah-naskah Sunda kuno yang kebanyakan otentik dan tidak disalin – naskah
BM tiada duanya dan hanya satu-satunya di dunia (codex uniqus).

Memory of the World

Memory of the World (MOW) merupakan salah satu program UNESCO yang mulai
dirintis pada tahun 1992. Program ini dilatar-belakangi oleh kesadaran akan
pentingnya kelestarian, dan akses ke, warisan dokumenter di berbagai belahan
dunia. Perang dan pergolakan sosial, serta kurangnya sumber daya, telah
memperburuk masalah yang signifikan terhadap koleksi di seluruh dunia:
penjarahan, penyebaran, perdagangan ilegal, kerusakan, kurangnya sarana dan
prasarana dan pendanaan menjadi cukang lantaran dibentuknya program ini.

Sejak Indonesia menjadi bagian dalam MOW pada tahun 2006 (dengan
terbentuknya Komite Nasional MOW), sampai saat ini setidaknya telah
didaftarkan tiga karya unggulan bangsa Indonesia, yaitu Negarakretagama
(Manuskrip berbentuk Kakawin berbahasa Jawa Kuno), I La Galigo (Karya prosa
lirik panjang asal bugis), dan Mak Yong (Kesenian Melayu). Pada tahun ini
pun sedang diupayakan Babad Diponegoro untuk dijadikan Memory Of The World.

Menurut hemat penulis, naskah Bujangga Manik merenah pisan apabila terdaftar
sebagai salah satu masterpiece melalui MOW ini. Bagaimanapun, BM merupakan
salah satu kekayaan budaya masyarakat Sunda dan Nusantara yang mampu
‘mengembalikan’ ingatan urang Sunda pada masa lalunya, menyembuhkan amnesia
terutama kepada tempat-tempat yang pernah ia singgahi. Simak saja catatannya
dalam perjalanan melalui citarum: “leumpang aing ka baratkeun/ datang ka
bukit Paténggeng/ Sakakala Sang Kuriang/ masa dék nyitu Ci-Tarum/ burung
tembey kasiangan”. Dari sekelumit catatan itu jelas sudah bahwa kisah
legenda Sangkuriang membuat bendungan telah ada sekurang-kurangnya pada abad
ke 16, dan ingatan itu tetap melekat pada urang, Sunda, berabad-abad
lamanya.

Naratas Jalan

Dari gambaran singkat diatas, kiranya kita bisa ngabungbang naratas jalan,
menjadikan naskah ini bagian dari dunia melalui Memory of the World yang
menjadi program UNESCO. Tarekah untuk itu bisa dimulai dengan membentuk
komite local yang terdiri dari para ahli, praktisi, budayawan, dan pemangku
kebijakan tingkat lokal. Dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
(Disparbud, bukan Disbudpar), peneliti, filolog, akademisi dan lembaga
pendidikan seperti UNPAD, UPI, UNPAS, dan UIN bisa bersinergi merumuskan
langkah-langkah strategis sekaligus mempersiapkan semua keperluan teknis
yang dibutuhkan, untuk kemudian diajukan kepada Komite Nasional. Komite
nasional sendiri terdiri dari lembaga-lembaga, baik pemerintah maupun
swasta, seperti LIPI, Arsip Nasional, Perpustakaan Nasional, Musium, Media
Cetak dan Elektronik, Swasta dan Perguruan Tinggi. Barulah kemudian, Komite
Nasional melanjutkan pada Komite Internasional.

Secara formal, poin-poin justifikasi kelayakan terhadap naskah BM tidak
perlu disangsikan. Keotentikan naskah ini telah dibuktikan dengan cukup
memuaskan oleh telaahan Noorduyn dan Teeuw sejak tahun 1968, bahkan
data-data yang terdapat di dalamnya telah dimanfaatkan oleh disiplin lain.
Signifikansi dan keunikan naskah BM telah memenuhi syarat karena di dalamnya
berisi rekaman perjalanan, gambaran geografis, sosial, kehidupan keagamaan,
yang ditulis berdasarkan kesaksian seorang pribumi. Jangan lupa pula bahwa
Bujangga Manik, layaknya Mpu Prapanca yang menggubah Nagarakretagama, dengan
penuh kesadaran mempunyai visi jauh ke depan untuk generasi selanjutnya
ketika ia menegakkan lingga dan membuat arca, seperti diungkapkannya:

tehering nyian hareca, terus membuat arca,
teher nyian sakakala. kemudian membuat monumen.
Ini tu(n)jukeun sakalih, Ini untuk menunjukkan kepada mereka,
tu(n)jukeun ku na pa(n)deuri, menunjukkan kepada orang-orang kelak,
maring aing pa(n)tég hanca. //0// bahwa aku telah menyelesaikan tugas.
(Baris 1288-1292)

Memang agak disayangkan, bahwa naskah Bujangga Manik pada kenyataannya bukan
milik lembaga penyimpanan di Indonesia. Ia tersimpan dalam sebuah tempat
penyimpanan nun jauh di Oxford, Inggris sana. Tapi ketika kita membaca
kisahnya yang mengagumkan, dengan ungkapan Sunda bihari yang sebagian masih
dapat dikenali oleh orang Sunda kiwari, membuat kita (baca: urang Sunda)
bergumam dalam hati “Ini adalah milik kita”.

Penulis, Filolog
Bekerja di Bagian Naskah Perpustakaan Nasional RI#

Kirim email ke