Sekar tandak ialah nyanyian yang terikat oleh ketentuan-ketentuan
ketukan dan matra (wiletan, gatra). Dari ikatan ketukan dan matra-matra
banyak berdampingan dengan irama lagu yang dipergunakan.
Peraturan-peraturan itu sudah merupakan kaidah tersendiri dari bentuk
paduan tandak di antara sekar dan gending. Adapun lagu-lagu dalam ragam
sekar tandak dapat kita ketahui sebagai berikut.

(1) Sindenan
Kata Sindenan lebih dikenal pada pergelaran wayang dan kiliningan.
Disebut sindenan karena yang membawakannya biasa disebut sinden
(waranggana, penyanyi wanita). Lagu-lagu yang dibawakan banyak
berpangkal pada bentuk klasik dan tradisional. Walaupun demikian,
kreasi-kreasi baru banyak pula dibawakan walaupun dalam beberapa hal
telah sedikit berubah warnanya. Perubahan itu sebenarnya banyak
dipengaruhi oleh teknik warna suara yang telah khas pada tiap pesinden.
Kebanyakan lagu-lagu sinden adalah lagu anggana. Kalau ada beberapa
yang bersifat rampak biasanya bersifat kreasi saja. Dalam beberapa
penampilan tertentu sindenan mempunyai lagam daerah tersendiri. Lagam
itu lebih cenderung disebut pula sebagai gaya (style). Ada dua bagian
besar gaya dalam kepesindenan, yaitu: gaya Priangan dan gaya Kaleran.

Yang dimaksud dengan gaya Priangan adalah yang melingkupi daerah
Bandung dan sekitarnya, termasuk Priangan Timur. Daerah kaleran antara
lain daerah-daerah pesisir utara, seperti Cirebon, Subang dan Karawang.

Salah satu perbedaan yang paling jelas bila kita bandingkan dengan
daerah Priangan adalah dalam senggol, dialek dan laras-larasnya.
Mengenai hal laras, sindenan gaya Cirebon lebih banyak mempergunakan
lagu laras pelog surupan sorog dengan patet Manyuro. Perbedaannya
dengan gaya Karawangan banyak terletak pada dialek bahasa dan pada
senggol-senggol yang lebih sederhana. Perbedaan dalam senggol terkenal
dengan istilah buntut dan buntet. Priangan pada akhir lagu selalu
panjang (buntut), sedangkan rata-rata pada senggol kaleran (Subang,
Karawang) lebih pendek (buntet). Tetapi karena adanya pembauran, maka
sekarang sudah sangat sukar dibedakannya karena baik Cirebon, Karawang
maupun Subang sudah melihat Bandung sebagai barometernya. Secara
langsung mereka kehilangan kekhasannya. Sebaliknya gaya Prianganpun
banyak pula berakibat pada gaya kaleran, terutama Karawang yang lebih
banyak diwarnai dengan iringan tepak jaipongan.

Pada dasarnya lagu-lagu sinden banyak mempergunakan laras salendro.
Lagu-lagu ageng yang pertama mereka pelajari kebanyakan lagu lagu ageng
yang berlaras salendro. Mungkin hal ini disebabkan oleh beberapa
pendapat di kalangan para nayaga yang menyebutkan bahwa salendro
merupakan “rajana laras”

Satu hal yang tidak bisa dikesampingkan ialah lagu-lagu sindenan selalu
diiringi dengan gamelan salendro. Walaupun dalam beberapa hal dibawakan
lagu yang tidak berlaras salendro, pirigan (iringan) tetap menggunakan
laras salendro dengan mengambil jalur tumbuk. Tumbuk ialah nada-nada
yang sama dari laras yang berbeda. Nama-nama lagu sindenan antara
lain : Macan Ucul, Senggot, Kulu Kulu Bem, Tablo, Gawil, Kawitan,
Badaya, Papalayon Ciamis dan lain sebagainya

(2) Kawih
Salah satu lagam dari khazanah seni suara Sunda. Pengertian kawih pada
mulanya sama dengan sindenan, tetapi perkembangan memecah kedudukan
yang berbeda antara kawih dan sindenan. Perbedaan itu bukan saja
terletak pada pergelaran dan teknik-teknik bernyanyi saja, melainkan
juga lingkunganna.

Menurut pengamatan yang bersumber pada buku Siksa Kandanf Karesian
tahun 1518, masyarakat Sunda telah mengenal kawih dahulu sebelum
tembang (pupuh) masuk pada zaman Mataram (abad XVI). Cuplikan dari buku
itu mengatakan bahwa telah dikenal bermacam-macam kawih, anatara lain:
Ø Kawih Tangtung
Ø Kawih Panjang
Ø Kawih Lalangunan
Ø Kawih Bongbongkaso
Ø Kawih Parerane
Ø Kawih Sisindiran
Ø Kawih Bwatuha
Ø Kawih Babatranan
Ø Kawih Porod Eurih
Ø Kawih Sasambatan
Ø Kawih Igel-igelan

Ahli seni suara biasa disebut paraguna. Jelaslah bahwa lagam kawih jauh
telah lama hidup dalam khazanah karawitan Sunda. Masalahnya sekarang
bahwa hal yang tertera di atas hanya merupakan nama saja karena sudah
sangat jarang sekali orang-orang yang tahu tentang lagu-lagu kawih yang
disebutkan tadi.

Lagu-lagu kawih lebih banyak berorientasi pada lagu-lagu perkembangan
(kreasi baru), sedangkan pada lagu sindenan adalah lagu-lagu klasik dan
tradisional. Memang yang paling menonjol sekarang pada kawih ialah segi
perkembangan lagu-lagu barunya. Lagu-lagu itu lebih banyak bergerak
pada lingkungan pendidikan dan kaum remaja tertentu. Hal-hal yang
berhubungan dengan pendidikan, dimana lagu-lagu kawih banyak diciptakan
oleh para juru sanggi (komponis) secara khusus untuk kebutuhan program
pengajaran. Tokoh-tokoh seperti Rd. Machyar Anggakusumadinata, Mang
Koko, OK Jaman, Ujo Ngalagena, Nano. S dan lain-lain membuat buu-buku
pelajaran seni suar dalam bentuk kawih.

Kawih berkembang bukan pada bentuk anggana saja, melainkan mulai
berkembang pula pada bentuk-bentuk lain, yaitu dengan bentuk-bentuk
paduan suara.

Kawih mempunyai “sejak” yang tersendiri. Hal ini bisa kita perhatikan
dari pergelarannya, iringannya dan teknik bernyanyi termasuk didalamnya
pemanis-pemanis. Laras-laras kawih dalam lagu-lagu remaja kebanyakan
berlaras pelog dan madenda. Laras salendro terasa sangat jarang sekali.
Hal ini banyak bersumber pada kreativitas para juru sangginya yang
memang sangat jarang menciptakan lagu-lagu dalam laras salendro. Lagam
kawih yang terdapat pada tembang adalah pada lagu panambih (ekstra).
Lagu panambih adalah lagu tambahan setelah sekar irama merdeka, irama
yang dipergunakan tandak. Perbedaan yang menyolok hanya soal surupan
saja, dimana kalau tembang surupan rendah (da = G), sedangkan kalau
lagam kawih lebih tinggi surupannya (da = A = 440 Hz).

(3) Ketuk Tilu
Lagu-lagunya kebanyakan berirama tandak. Cirri khas dari lagu ketuk
tilu adalah dalam iringannya serta melodi lagu yang melengking tinggi
dengan warna suar penyanyi wanita yang lincah segar. Keunikan dari
penampilan lagu ketuk tilu banyak diwarnai pula dengan kehadiran
senggak. Ketuk tilu tanpa senggak rasanya sepi sekali. Keakraban ini
telah menjalin suatu warna yang khas yang memberikan warna kemeriahan
dan suasana pedesaan (lembur). Senggak adalah suara manusia yang tidak
beraturan untuk meramaikan suasana.
Laras-laras yang dipergunakan dalam lagu ketuk tilu kebanyakan laras
salendro. Sangat sedikit sekali yang mempergunakanlaras pelog atau
madenda. Laras salendro dipergunakan pada ketuk tilu, semarak membawa
warna pedesaan, dimana lagu-lagu rakyat banyak dihias dengan
warna-warna salendro. Lagu-lagu ketuk tilu buhun sampai kini tetap
lestari, tetapi dalam perkembangan akhir-akhir ini banyak lagu-lagu
ketuk tilu yang diubah larasnya ke dalam laras degung dan sekaligus
diiringi gamelan degung. Tentu saja dalam penjiwaannya kurang sesuai
karena lingkungan degung dan ketuk tilu jauh berbeda. Tetapi karena
beberapa hal, antara lain rumpaka, teknik menyanyikan, surupan sudah
sedemikian rupa diolah ke dalam bentuk kawih, maka tidak jarang orang
menganggap seolah-olah lagu itu merupakan ciptaan baru. Nama-nama lagu
ketuk tilu yang populer dan terkenal sampai sekarang, antara lain :
Polostomo, Geboy, Gaya, Cikeruhan, Bardin.
Penyanyi ketuk tilu mempunyai keistimewaan tersendiri, yaitu mereka
harus bisa bernyanyi sambil menari (panggilannya disebut; Ronggeng).
Isi lagu-lagu ketuk tilu banyak mengetengahkan sindiran-sindiran cinta
atau pikatan supaya “seseorang” mmberi imbalan materi. Dahulu penyanyi
ketuk tilu biasa disebut Ronggeng/Doger. Istilah ini kini jarang
dipakai, mungkin karena sebutan itu sendiri sedikit berbau/menyerempet
tata susila moral tertentu
(4) Lagu Indria
Biasa pula disebut sekar dolanan atau lagu dolanan untuk anak-anak.
Secara tradisi lagu-lagu anak banyak terungkap dalam lagu-lagu kaulinan
urang lembur. Lagunya dinamis dan sangat akrab dengan gerak. Bahkan
dari keakraban itu sendiri berkembang menjadi permainan anak-anak. Pada
kesenggangan sore hari, mereka berkumpul, bernyanyi dan bermain.
Lagu-lagu yang terkenal seperti Cing cangkeling, Perepet Jengkol,
Sasalimpetan, Slep Dur dan lainnya, kebanyakan berlaras Salendro.

Pada perkembangan selanjutnya, lagu anak-anak banyak yang merupakan
sanggian-sanggian baru. Laras-laras yang dipergunakan sudah tidak lagi
dominant oleh laras salendro saja, tetapi pelog, madenda dan degungpun
masuk didalamnya. Bahkan dari jumlah buku-buku nyanyian yang pernah
diterbitkan, kebanyakan berupa lagu anak-anak, seperti: Kawih
Murangkalih, Sari Arum sanggian Rd. Machyar Anggakusumadinata, Resep
Mamaos, Taman cangkurileung, Seni suara Sunda, Sekar Mayang, Bincarung
sanggian mang Koko, Sekar Ligar kumpulan uUo Ngalagena. Tercatat khusus
untuk kegiatan lagu kawih anak-anak, Mang Koko membuat Yayasan
Cangkurileung yang anggota-anggotanya terdiri dari murid-murid sekolah
dasar dan lanjutan di seluruh Jawa Barat, setelah mang Koko meninggal
dunia kegiatan di sekolah-sekolah dasar dan lanjutan menjadi berkurang.

Beberapa cirri tertentu dari lagu anak-anak, antara lain:
A. Melodi dan Ritme yang sederhana
B. Jangkauan interval suara dan tinggi rendah nada yang terbatas
C. Tema lagu yang banyak berorientasi pada kehidupan anak-anak, seperti
permainan, kebersihan, sopan santun dan lain-lain.

Khusus untuk lagu-lagu permainan Mang Koko dan MO Koesman mengolah
secara khusus dalam buku Taman Bincarung dengan laras yang dipergunakan
salendro. Dalam buku ini selain mereka belajar lagu juga diajarkan
teknik permainan yang bersumber dari tema lagu. Istilah yang dipakai
disebut Gerak Indriya Bincarung.

Selain bentuk-bentuk kawih dalam lagu anak-anak, juga lagu pupuh yang
berjumlah 17, diajarkan sebagai dasar-dasar tembang Sunda. Kebanyakan
pupuh-pupuh itu dalam bentuk rancagan, artinya tidak banyak diberi
variasi seperti halnya lagu-lagu tembang yang lain.
(5) Lagu-Lagu Rakyat
Lagu yang telah merakyat dan populer di masyarakat. Masalahnya sekarang
akan batas kurun waktu. Umpamanya berapa tahun lagu itu bisa
digolongkan sebagai lagu rakyat. Memang diketahui bahwa kebanyakan
lagu-lagu rakyat anonim dan telah lama hidupnya. Ada pula yang
diketahui pengarangnya, diketahui populernya lagu itu dan kini telah
menjelma menjadi sebutan lagu rakyat. Dengan demikian, kurun waktu
untuk pengertian lagu-lagu rakyat bukan merupakan suatu jaminan sebab
banyak lagu-lagu yang telah lama justru hilang dan tidak diketahui oleh
umum.

Kebanyakan lagu-lagu rakyat hidup di kalangan lagu anak-anak. Lagu ini
seiring dengan gerak-gerak permainan. Lagu-lagu rakyat biasanya lebih
sederhana, tidak berliku-liku dalam melodinya. Sifatnya spontan.
Gambaran lagu kalau dilihat dari tema-temany adalah permainan, kelakuan
seseorang, perjuangan dan lain-lain. Dalam beberapa hal sering didapati
bahwa kata-katanya itu tidak diketahui/dimengerti. Lagu-lagu rakyat
Sunda banyak yang tidak diketahui maksudnya. Bahkan generasi sekarang
hanya mengenal lagunya saja, tanpa mengetahui isi dari kata-katanya.

Di kota-kota besar lagu-lagu rakyat itu sudah sangat jarang diketahui
oleh anak-anak. Mungkin dalam beberapa hal mereka merasa asing.
Kalaupun ada, mereka mendengar dari hasil rekaman yang telah banyak
diolah ke dalam tangga nada diatonis. Apa yang sering dikumandangkan
oleh remaja-remaja sekarang tentang lagu rakyat pengolahannya sudah
diatonis. Dari penampilan mereka terkadang dirasakan menjadi sangat
asing, karena interpretasi mereka terhadap lagu rakyatnya sudah sangat
lain sekali. Kelainan mereka itu mungkin karena dua hal. Pertama karena
tangga nadanya sudah diatonis, kedua karena mereka hanya tahu dari
mulut ke mulut tanpa mempelajari secara khusus dengan pengertiannya
sekaligus.

Lagu-lagu rakyat yang masih populer hingga sekarang antara lain: Cing
cangkeling, Ayang-ayang gung, Pacublek-cublek uang, Ambil-ambilan,
Sorban Palid, Es Lilin, Warung Pojok dan lain sebagainya..

Kebanyakan dari lagu-lagu rakyat yang erat hubungannya dengan
gerak-gerak dan permainan, mempergunakan laras salendro, sedangkan
beberapa lagu yang sebenarnya tidak erat dengan permainan mempergunakan
laras pelog atau madenda.

Lagu-lagu rakyat akan terus berkembang selama para kreatornya terus
berkreasi. Hanya mungkin dari sekian jumlah ciptaannya paling-paling
hanya beberapa buah saja yang akan sangat populer dan merakyat di
masyarakat. Contohnya lagu Es Lilin dan Warung Pojok yang bisa menembus
untuk diakui sebagai lagu rakyat (Lagu-lagu ini diketahui penciptanya).


(6) Lagu Pupujian
Lagu berbentuk syair berisi tentang pengajaran agama Islam, nasihat,
puji kepada Allah, salawat untuk serta do’a, Lagu pupujian tanpa
menggunakan iringan sering dibawakan di masjid atau madrasah, biasa
sebelum dilaksanakan shalat, ceramah dan kegiatan lainnya. Saat ini
lagu-lagu pupujian berbahasa Sunda (Tagoni, Qasidah) telah berkembang
pesat dengan bentuk dan nama yang baru seperti “Nasyid”, penyajiaanya
tidak hanya di masjid atau madrasah, tetapi telah pula ditempat-tempat
keramaian, termasuk dalam perayaan keagamaan, khitanan, pernikahan dan
lain sebagainya. Mang Koko dengan Rumpaka dari RAF banyak membuat
lagu-lagu Pupujian ini, seperti lagu Hamdan, Ajilu, Shalawat Bani
Hasim, dsbnya.

--
Posted By KOS WR to PANGAUBAN SEKAR at 5/23/2010 09:28:00 PM

Kirim email ke