Menyusuri Sungai yang Membelah Asia Afrika 
Oleh Natasha Dilla

Kami
dikumpulkan dalam sebuah lingkaran kecil di halaman rumah Ayan,
koordinator Aleut. Berdoa adalah hal yang wajib dilakukan sebelum
mengerjakan sesuatu. Kamipun berangkat menuju tujuan pertama, ”Circle
K”. Bagi teman-teman yang hendak membeli perbekalan, sekaranglah
saatnya. Setelah sempat berfoto di depan halaman ”Circle K”, kamipun
capcus melanjutkan perjalanan kami.

Tiba
di jembatan Babakan Siliwangi, sempat kami berhenti untuk memilih jalan
mana yang akan kami tempuh. Jalur kanan sungai adalah jalur yang kami
pilih saat itu. Dalam penglihatanku, jalan itu terlihat agak licin. Aku
membiarkan Mete jalan di depanku agar bisa ”membimbing”ku ke ”jalan
yang benar”. Sesekali aku menyibakkan dedaunan yang menghalangi
jalanku. Di depan kami, jalan turunan menghadang. Wah ”ujian pertama”,
pikirku dalam hati. Sempat terlintas pikiran untuk ”menyerah” di dalam
benakku. Untunglah pikiran tersebut tidak bertahan lama di benakku
(maenya we karek ge sakieu geus menyerah, heu). Segera aku menyambut
tangan Mete yang sudah menjulur sedari tadi hendak membantuku menuruni
turunan tersebut. ”Pake dua tangan ahh!” pintaku padanya seraya
menjulurkan kedua tanganku. HAP! Aku meloncat sekuat tenaga. Aku
mendarat dengan sukses di dataran tanah basah yang agak licin. Kemudian
satu-persatu, pegiat aleut yang lainnya melakukan hal yang sama. Aku
tidak menyangka masih ada pemandangan seperti ini di kota besar seperti
Bandung. Sawah-sawah, kolam kecil, WC yang hanya ditutupi karung.
Pokoknya desa banget deh!

Sampailah
kami di sebuah sungai dengan aliran kecil, Sungai Cibarani, begitulah
sungai itu disebut. Setelah mendengar sedikit penjelasan tentang sungai
tersebut (sebenarnya aku ga ngedenger, da ga kedengeran, hehe), Bang
Ridwan memberi pilihan kepada kami semua. Apakah kami akan melanjutkan
perjalanan melalui jalanan kering, atau berjalan kukucuplakan, nganclum
di sungai yang memiliki terowongan, lebih tepatnya saluran air berupa
terowongan mirip gua kecil. Kami semua sangat tertarik untuk melewati
terowongan tentu saja. Selain penasaran, manusia kan paling suka maen
aer ato ga maen api. Aku sangat ingin kukucuplakan, tapi aku sempat
dihinggapi ketakutan kacugak beling, karena perjalanan melalui
terowongan air ini, mengharuskanku membuka sepatu, karena aku embung
sepatu aku kebasahan. Setelah diyakinkan oleh Bang Ridwan bahwa di
sungai ini tidak mungkin ada beling, akupun yakin untuk kukucuplakan.
”Bismillah.” Ternyata kekhawatiranku memang tak menjadi kenyataan. Aku
berhasil sampai di ujung terowongan dengan selamat. ”Alhamdulillah.”
aku memuji Allah SWT. Di ujung terowongan, aku sempat berfoto untuk
bukti bahwa aku pernah melewati terowongan saluran air Sungai Cibarani.
Mungkin penghuni tunggal terowongan tersebut sempat mengeluh karena
sarangnya agak rusak oleh kami. Yup! Spider webs melintang di sepanjang
langit-langit terowongan tersebut.

Perjalanan
kami lanjutkan di sisi kiri sungai Cikapundung. Banyak lumpur juga
ternyata. Kakiku terjerembab ke dalam lumpur yang untungnya tidak
terlalu dalam. Tapi sepatu dan kaos kakiku menjadi korban dari lumpur
tersebut, KOTOR! (untung kaos kakinya murah, dapet beli di Paun, hehe).
Walaupun begitu, kotor tidak menjadi masalah buatku. Akhirnya sampailah
kami di pintu air Limoes ya kalo ga salah. Setelah sempat berfoto-foto,
satu-persatu dari kami menaiki tanjakan dengan bantuan seutas tali yang
telah dipersiapkan oleh salah seorang dari kami. Sesampainya di atas,
kami tak kapok untuk berfoto kembali (iraha deui). Persawahan menyambut
kami kembali, setelah sebelumnya kami melewati komplek perumahan yang
lumayan bagus. Aku sempat bingung bagaimana cara mereka menembus jalan
raya dari sini, karena melihat track yang tadi kami lalui, rasanya
sangat mustahil jika mereka melewati track yang kami lalui jika ingin
ke kota (kabayang!). Tapi ternyata, ada jalan keluar masuk yang bisa
dilalui kendaraan. Oohhh... Baca artikel selengkapnya di sini atau kunjungi 
www.mahanagari.com.
 



Baca juga yuk catatan perjalanan lainnya di Bandung :
Gua Pawon, Keindahan yang Terlupakan 
Siluman Tulen di Puncak Gunung Manglayang 
Jelajah Pangalengan - Seek For The Gold Mine With Mahanagari 
Wisata Lava di Bandung, Ternyata Ada Toh! 
Menapaki Situs Megalitikum Gunung Padang Ciwidey 





Mahanagari - Bandung Pisan
http://www.mahanagari.com
http://mahanagari.multiply.com

Showroom:
@ Cihampelas Walk - Bandung
@ Bandung Indah Plaza -
 Bandung





Kirim email ke