Liliek Dharmawan MEMASUKI Kompleks Situs Batur Agung di Dusun Pondok Lakah, Desa Baseh, Kecamatan Ke-dungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah, seperti masuk hutan yang masih perawan.Padahal, kawasan itu sangat dekat dengan permukiman penduduk. Namun, karena daerah itu dikeramatkan penduduk setempat, pepohonan dibiarkan tumbuh seperti dalam rimba belantara.
Setelah berjalan kaki sepanjang 200 meter dari jalan desa, atmosfer rimba mulai menyergap. Sinar mentari tak mampu sepenuhnya menyinari tanah lantaran terhalang daun-daun dari pepohonan tinggi.Suara serangga terdengar dari berbagai arah. Setelah melewati jalan bebatuan menanjak, tibalah di sebuah tanah lapang di antara rerimbunan pohon.Di tengah dari tanah lapang, berdiri sebuah bangunan dengan ukuran sekitar 4x5 meter. Di sampingnya, terlihat tatanan batu-batu yang rapi. Bebatuan itu sudah terlihat berwarna hijau karena lumut menutupi seluruh permukaannya. Tampak jelas bahwa di zaman kuno area setempat dijadikan sebagai lokasi pemujaan, tepatnya pada era prasejarah.Bukti dari itu adalah adanya menhir dan punden berundak. Dua artefak batu tersebut merupakan tempat pemujaan pada zaman megalitikum. Menhir adalah bangunan yang berupa tugu batu yang didirikan untuk upacara menghormati roh nenek moyang.Adapun punden berundak adalah bangunan dari batu ber-tingkat-tingkat yang fungsinya sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal. Hasil inventarisasi Balai Peninggalan Sejarah Purbakala wilayah Jateng menyebutkan Situs Barur Agung merupakan batuan punden berundak dengan tiga teras yang berorientasi utara selatan dengan mengagungkan Gunung Slamet yang dianggapnya sebagai tempat persinggahan terakhir bersemayamnya para arwah nenek moyang.Ada tiga patung batu de-ngan bahan dasar batu andesit yang menggambarkan lambang nenek moyang dengan bentuknya sangat sederhana, dengan ukuran rata-rata tinggi 80 cm dan garis tengah 30 cm. Sebuah batu lumpang yang berbahan dasar batu andesit dengan ukuran tinggi 20 cm, garis tengah 17 cm, tebal 4 cm yang semuanya itu berada pada teras ketiga yang berfungsi sebagai sarana pelengkap upacara ritual pemujaan pada arwah nenek moyang dan disimpan di dalam bangunan rumah cagar budaya.Pada teras kedua terdapat satu buah menhir yang berbahan dasar batu andesit yang juga berfungsi sebagai sarana pelengkap upacara ritual pemujaan arwah nenek moyang dengan ukuran tinggi 57 cm dan garis tengah 20 cm. Setelah melewati beberapa abad, tempat tersebut tidak hanya menjadi bangunan zaman prasejarah, tetapi juga berubah menjadi tempat menyepi yang dimulai sejak zaman Kerajaan Pajajaran.Juru kunci Situs Barur Agung, Sobirin, 61, mengungkapkan situs tersebut tidak hanya merupakan peninggalan zaman prasejarah, tetapi juga dikera-matkan ketika memasuki zaman Kerajaan Pajajaran."Situs Barur Agung merupa-kan tempat Raden Kamandaka bersemedi di tempat ini. Kamandaka merupakan kerabat Keraton Pajajaran kala itu," kata Sobirin kepada Media Indonesia baru-baru ini. Jejak Raden Kamandaka Sebelum tahun 1974, berbagai batu-batuan yang merupakan sisa situs zaman prasejarah berserakan di luar. Termasuk di dalamnya ada sejumlah parung iain.Patung-patung yang ada di kompleks tersebut umumnya adalah tokoh dalam pewa-yangan. Di antaranya adalah Semar, Batara Guru, Togog, dan Begawan Narada. Tetapi ada juga patung Roro Jonggrang, alat musik Rebana yang terbuat dari batu, serta lumpang atau tempat menumbuk padi. Berbagai situs batu tersebut awalnya berserakan di luar, tetapi sejak 1974 dikandangkandalam rumah yang dibangun warga. Jejak Raden Kamandaka sebagai petapa di tempat itu ter-nyata juga diikuti masyarakat umum. Mereka datang menyepi di Situs Batur Agung. Tampak berbagai sesajen yang tersisa, seperti jajanan pasar dan bunga."Mereka umumnya menyepi memohon kepada Allah. Rata-rata mereka datang ke sini karena tempatnya memang sepi dan cocok untuk berdoa. Suasana yang hening membuat doa yang dipanjatkan menjadi sangat khusyuk," ujar Sobirin. Setiap setahun sekali, di tempat itu juga diadakan upacara ritual yang dilaksanakan pada bulan Maulud dalam hitungan kalender Jawa. Yakni berupa tumpengan bersama oleh warga Dusun Pondok Lakah. Biasanya, warga juga menyembelih kambing di tempat itu.Dalam perkembangannya, kini Situs Batur Agung dikolaborasikan dengan keindahan alam yang ada di tempat itu sebagai objek wisata yang dikemas menjadi Batur Agung Mount Fun. Project Manager Batur Agung Mount of Fun Muhammad Nur Yusuf mengatakan kalau hanya Situs Batur Agung saja dirasakan rugi. Dalam perjalanan ke Situs Batur Agung, suasana sudah sangat menakjubkan. Di sepanjang jalan dapat dilihat pemandangan alam sawah dan pegunungan yang memesona. Karena, wilayah Baseh merupakan lereng selatan Gunung Slamet."Selain alam yang menjanjikan keindahan, kami juga akan mengembangkan berbagai potensi lokal yang ada. Misalnya saja arung jeram dan kayak. Semuanya akan disatukan menjadi objek wisata," ujarnya. (N-2) Disalin ti http://bataviase.co.id/node/254643 sikandar su.wikipedia.org

