Pami teu lepat mah, Raden Saleh teh ngangkat R.A.A Martanagara, anu jeneng 
bupati Bandung. Naskah nu ti Raden Saleh teh saeutikna aya Tilu (Ceuk Holle 
mah), nyaeta Siksa Kandang Karesian (koropak 630), Candrakirana? (koropak 631), 
jeung Amanat Galunggung (koropak 632). Tugas utama RS kukurilingan teh pikeun 
ngagambar timuan fosil-fosil geologis jeung arkeologis asalna mah cenah nu 
harita sumanget pisan digedurkeun ku Kolonial. Ngan fardu kalakon sunah 
kalampah, sajaba ti tugas utamana rengse, RS hasil oge ngumpulkeun 
barang-barang titingal karuhun nu aya di wewengkon nu didongdonna tea. 

AG

--- On Fri, 7/9/10, mj <[email protected]> wrote:

From: mj <[email protected]>
Subject: RE: [Urang Sunda] Fw: Raden Saleh & Pajajaran
To: [email protected]
Date: Friday, July 9, 2010, 11:37 AM







 



  


    
      
      
      



Raden saleh sok nganjang ka lembur-lembur. Cenah di wewengkon kawali galuh

(ciamis ayeuna) dibere naskah sunda kuno ku bupati. Ku raden saleh naskah

eta diserahkeun ka akademi ilmu pengatahun batavia harita. Duka naskah nu

mana, asana sang hyang siksakandang karesian kitu, duka nu mana persisna.



Aya deui carita sejen, yen Raden saleh ngangkat anak urang sunda, anak

menak. Sahanya he love deui



-----Original Message-----

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On

Behalf Of Waluya

Sent: Thursday, July 08, 2010 10:20 PM

To: [email protected]; [email protected];

[email protected]

Subject: [Urang Sunda] Fw: Raden Saleh & Pajajaran



Raden Saleh Syarif Bustaman,  "tukang gambar" abad ka 19 nu kakoncara, 

saurang menak Jawa  nu sigana mah boga teureuh Arab, cenah mah boga jasa 

dina nyalametkeun "pasesaan" Pajajaran saperti dibejakeun dina beja dihandap



ieu:



Raden Saleh Juga Penyelamat Pajajaran



Raden Saleh (1811-1880)SABTU, 26 JUNI 2010 | 21:27 WIB



BOGOR, KOMPAS.com - Raden Saleh bukan saja pelukis maestro dunia, tetapi 

juga nasionalis, budayawan, dan sejarawan. Salah satu jasanya, menyelamatkan



Prasasti Banten yang kini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Prasasti tersebut merupakan sumber penting untuk mempelajari Kerajaan 

Pajajaran di Jawa Barat. Keputusan dirinya harus dimakamkan di Bondongan, 

Kota Bogor, juga karena Raden Saleh tahu betul bahwa Bondongan adalah bagian



dari wilayah Keraton (Pakuan) Pajajaran.



Makam Raden Saleh pun ternyata satu sumbu lurus dengan pusat Istana Bogor 

dan Kebun Raya Bogor.

Poin-poin itulah yang dibahas dalam ziarah bersama 100 orang, mulai dari 

sejarawan, budayawan dan pengamat lukisan dari dalam dan luar negeri, ke 

makam Raden Saleh di Kelurahan Bondongan, Kecamatan Bogor Selatan, Kota 

Bogor, Sabtu (26/6/2010) siang.



Mereka adalah peserta seminar Memperingati 200 Tahun Raden Saleh yang pada 

pagi harinya mengunjungi Istana Bogor untuk melihat langsung dua lukisan 

Raden Saleh yang disimpan di istana tersebut.



Sementara, Institut Kesenian Jakarta juga menggelar seminar soal Raden Saleh



pada 24-25 Juni di Auditorium Rumah Sakit Cikini di Jalan Raden Saleh, 

Cikini, Jakarta Pusat.



Auditorium itu bekas rumah tinggal Raden Saleh selama di Jakarta. Kondisi 

fisik bangunan itu sudah memprihatinkan, walaupun keasilannya masih cukup 

terjaga.



Dayan Duma Layuk Allo yang menyambut rombongan tersebut di kompleks 

Pemakaman Raden Saleh, menuturkan, Prasasti Banten yang ditemukan dan 

diselamatkan Raden Salah, oleh sejarawan RS Danasasmita sudah dikonfirmasi 

sebagai salah satu sumber penting untuk mempelajari Kerajaan Pajajaran.



Dipastikan juga bahwa Bondongan termasuk wilayah Keraton (Pakuan) Pajajaran.



Studi mengenai Raden Saleh juga menunjukan bahwa ia seorang nasionalis, 

menentang kolonialisme dengan caranya sendiri, dan menganggap derajat 

dirinya lebih tinggi dari bangsawan kolonial Belanda.



"Saat pemakamannya pada 23 April 1880, menurut data dari surat kabar Belanda



saat itu, dihadiri sekitar 2.000 orang yang terdiri dari para 

pembesar/bangsawa Belanda, bangsawan Sunda, tuan tanah Arab dan Cina, serta 

masyaralak umum," kata pemerhati budaya yang berdomisili di Bogor itu.



Yang mengejutkan para peziarah adalah data mengenai bahwa jika ditarik garis



lurus, makam Raden Saleh satu garis sumbu dengan pusat Istana Bogor dan 

Kebun Raya Bogor, tempat yang pernah dikunjungi dan menghabiskan waktu Raden



Saleh waktu kecil.



Dayan yang juga juga motor Petisi Raden Saleh 2005 itu menyebutkan, 

koordinat sumbunya adalah 106 4750 BT. Menurut Dayan, dipastikan Raden Saleh



minta dimakamkan di situ, di samping makam isterinya, Raden Ayu Danasasmita.

Sebab, isterinya dimakamkan di lokasi tersebut atas perintah Raden Saleh, 

keturunan bangsawan dari Semarang, Jawa Tengah. Isterinya adalah keturunan 

Pangeran Diponegoro.



"Dugaan kami, Raden Saleh yang tahu betul jati diri dan kedudukannya, dengan



sadar memilih dimakamkan di situ. Ia pernah tinggal di Paris dan tahu bahwa 

titik-titik penting atau bangunan-bangunan mengandung makna penting 

(bersejarah) atau melibatkan orang penting di kota itu berada dalam satu 

sumbu lurus," jelas Dayan. 



------------------------------------



Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id

Yahoo! Groups Links





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke