Sanggeus nganjang ka imah mitoha, kuring tulas tulis yeuh.
hampura teu disundakeun.

***
Sepiring pisang rebus terhidang diatas meja, ditemani segelas teh 
hangat, satu toples kue ali, dan sepiring ketan goreng (orang setempat 
menyebutnya uli). Pagi itu udara di sekitar kaki Gunung Salak sangat 
sejuk dan segar. Keceriaan mengambang disinari cahaya matahari yang baru 
muncul dan dimeriahkan oleh kicau burung di dahan-dahan pohon. Hidup 
sungguh damai ... (padahal ini dirumah mertua lho he..he..he..)

Pisang yang direbus ini berasal dari pematang sawah yang padinya baru 
dipanen minggu lalu.

Pisang rebus hanyalah makanan kampung, yang sepertinya tidak ada nilai 
ceritanya. Beda dengan makanan dan minuman dari restoran atau cafe yang 
"sangat luar negri", yang setiap jenis makanannya membawakan cerita 
sendiri dan tentunya prestise tersendiri bagi yang memakannya.

Kira-kira mana yang akan kita ceritakan, ketika kita makan pisang rebus 
atau ketika kita menyeruput kopi di gerai kopi 'sangat luar negri'? 
Well... kayaknya kerenan yang gerai kopi 'sangat luar negri' itu ya :)

Tidakkah setiap makanan yang terhidang dihadapan kita itu membawa 
kisahnya tersendiri. Contohnya pisang rebus dan teman-temannya itu. 
Mereka merupakan wujud dari semangat para petani. Mereka, para petani 
itu, bangun pagi-pagi sekali, kemudian pergi ke sawah dan ladangnya, 
untuk menanam benih lalu merawatnya penuh perhatian sampai tiba saat 
dipetik buahnya.

Demi tanaman-tanamannya, petani tak peduli panas maupun hujan. Bagi para 
petani itu, matahari adalah kawan, hujan adalah hadiah, air memberi 
kehidupan, tanah menyediakan makanan, dan angin mengobati kelelahan. 
Alam merupakan asal dari semua makanan yang dihasilkan mereka.

Sungguh beda dengan orang kota, dimana matahari dihindari, hujan sumber 
bencana, tanah adalah kotor dan memalukan sehingga harus ditutupi beton, 
sedangkan angin telah bercampur dengan debu dan asap dan menjadi sumber 
bermacam penyakit. Seakan-akan alam telah menjadi musuh bagi orang-orang 
kota.

Btw, makanan 'sangat luar negri' juga tentu punya kisahnya tersendiri. 
Makanan itu tersaji berkat sebuah sistem. Sistem itu terbentuk dari 
hasil karya para pemikir. Para pemikir itu tentu juga telah melalui 
masa-masa sulit, baik ketika kuliah dulu ataupun ketika memulai 
usahanya. Mungkin waktu kuliah dulu, ada yang nyambi sebagai pelayan 
toko, waitress, dsb, untuk menambah biaya kuliah. Atau juga ketika 
bernegosiasi dengan pihak bank untuk meyakinkan mereka bahwa usahanya 
akan berhasil, dsb.

Nah, kalau setiap makanan tersebut punya 'kisah perjuangan'-nya 
masing-masing, pantaskah kita membuang-buangnya. Ketika makanan itu 
tidak enak menurut kita, atau kita lagi tidak mood, atau (ini yang 
menyedihkan) karena gengsi,saat orang lain makanannya sudah habis 
sedangkan kita belum, lalu kita berhenti makan dengan alasan kenyang. 
Makanan pun jadinya tersisa dan sudah 99,9% nasibnya akan berakhir di 
tong sampah.

Kita mungkin bisa berkilah: "gue beli makanan itu pake uang gue, seterah 
gue dong, mau dimakan kek, mau dikasih kucing kek, mau dibuang kek". Ya, 
itu 1000% betul. Kita sudah membeli makanan itu, dan kita berkuasa penuh 
terhadap makanan itu. Namun ini masalahnya. Perasaan berkuasa ini 
membuat kita melihat hanya dari lingkup sempit. Kita beli makanan, 
cicip-cicip, buang, lap mulut pake tisu, bayar, done. That's it, 
everybody happy. Pedagang senang, kita puas.

Namun kita lupa, bahan makanan tersebut hasil keringat para petani. Toko 
pedagang tersebut, hasil negosiasi alot dengan pihak bank. Waitress dan 
cleaning servicenya berasal dari keluarga biasa yang tidak punya uang 
banyak untuk bayar biaya kuliah, sehingga lulus SMA mereka langsung 
kerja jadi cleaning service.

Pada makanan yang kita buang tersebut, bersemayam semangat petani, 
pedagang, cleaning service dan semua pihak yang terlibat dalam proses 
penghidangan makanan tersebut.

Itu baru dari satu sisi. Disisi lain, makanan terbuang tersebut tentu 
menjadi sampah. Padahal Jakarta sudah sangat produktif kalau dalam hal 
menciptakan sampah. Tak kurang dari 6000 ton sampah dihasilkan penduduk 
Jakarta tiap harinya 
(http://www.tribunnews.com/2010/05/30/inilah-ancaman-sampah-jakarta-sehari-6-ribu-ton).
 

Makanan yang kita buang-buang tersebut tentunya menjadi bagian dari yang 
6000 ton itu. Dan tidak cukup sampai disitu, makanan tersebut akan 
membusuk, dan tentunya menjadi sumber penyakit.

Ok lah, kita dan anggota keluarga kita tinggal di lingkungan yang 
nyaman, jauh dari tumpukan sampah. Anak-anak kita juga mengkonsumsi 
makanan bergizi, sehingga daya tahan tubuhnya baik dan tidak mudah 
terserang penyakit. So, mau sampah sebanyak apa juga gak ngefek ke 
keluarga kita.

Namun kita juga perlu menyadari, makanan kita yang terbuang dan 
membusuk, berakhir di tempat, dimana juga banyak manusia yang tinggal 
disekitarnya. Bibit-bibit penyakit yang timbul dari makanan busuk, 
menyerang anak-anak disekitarnya. Dan sudah tentu, anak-anak yang 
tinggal di sekitar tempat sampah bukanlah anak yang selalu memakan 
makanan bergizi, sehingga tahan penyakit. Dengan mudah mereka akan 
terserang berbagai penyakit. Dan... salah satu penyebabnya adalah 
makanan yang kita buang-buang.

So ?

Gue kan udah beli, suka-suka gue dong ...

-- 
Sim abdi teu gaduh BlackBerry

Kirim email ke