*"Mendingan Nganggo Minyak Tanah"**MARAKNYA* ledakan tabung elpiji 3 kg membuat ketar-ketir sebagian ibu-ibu saat akan menyalakan kompor gasnya. Bahkan mereka berharap, pemerintah kembali menyediakan minyak tanah meski dalam jumlah yang sangat terbatas.
"Keur ema mah masih mendingan nganggo minyak tanah tibatan nganggo tabung gas. Paur ema mah mun keur ngahurungkeun," ungkap Ma Esih, pedagang goreng-gorengan di Jalan Raya Laswi Baleendah, Kab. Bandung, Minggu (1/8). Menurutnya, ledakan tabung gas yang berkali-kali membuat anggota keluarganya juga merasakan kekhawatiran yang sama. "Naha pamarentah teh teu terang kitu, kompor gas teh sakitu ngabahayakeunana," ungkap perempuan yang sudah beberapa tahun berjualan gorengan ini. Hal senada diungkapkan Ny. Teti (35), warga Gg. Taruna, Jln. Komud. Supadio, Kota Bandung. Menurutnya, indikasi tabung gas bisa meledak kalau dinyalakan hanya dengan mengandalkan munculnya bau, tidak mudah terdeteksi. "Bagaimana kalau ibu-ibu yang akan menyalakan kompornya sedang terserang flu? Ia tidak akan merasakan bau apa-apa. Jadi sangat berbahaya. Kalau memungkinkan, selain bau ada indikator yang bisa mengeluarkan bunyi, kalau tabung gas bocor, " harapnya. Namun kalau melihat maraknya ledakan tabung gas, Teti tetap berharap, pemerintah menyediakan kembali minyak tanah agar ibu-ibu bisa memilih bahan bakar. "Sebaiknya, minyak tanah tetap disediakan, karena kalau tidak, kita sepertinya terus dipaksa untuk berhadapan dengan bahaya. Padahal tidak selamanya diakibatkan kesalahan pengguna kompor gas," tandasnya. Pemerintah sendiri tampaknya tetap menolak disediakannya minyak tanah. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono di sela-sela persiapan pembukaan Sail Banda di Ambon, Minggu (1/8), dengan tegas menolak keinginan sebagian masyarakat yang hendak kembali menggunakan minyak tanah. Menurutnya yang perlu diperbaiki sekarang adalah sistem konversi minyak tanah ke gas. "Tidaklah. Ini ada masalah karena ada yang mengoplos. Kita tidak boleh menyerah. Izin perusahaan yang nakal sudah kita cabut. Bukan kita menghentikan programnya tetapi kita diperbaiki," katanya. Yang bisa dilakukan pemerintah, kata Agung, paling mengurangi beban rakyat miskin yang membeli tabung gas agar harganya lebih murah. Mereka yang menggunakan elpiji 3 kg akan diberi kupon khusus. Kupon itu akan memberikan harga khusus bagi warga miskin yang menggunakan gas 3 kg tersebut. "Akan ada pemberian kupon. Memang harus diolah terlebih dulu karena takut salah sasaran. Ini belum terbaik, ini baru alternatif. Sekarang dibantu Kemendagri, mereka punya infrastruktur sampai desa," katanya. Menurutnya, langkah itu ditempuh setelah perbedaan harga yang mencolok antara elipiji 3 kg dan 12 kg tidak bisa diredam. Perbedaan harga itu disinyalir menjadi sebab maraknya pengoplosan gas. (aep s.a./"GM"/dtc)**-- Aldo Desatura ® & © ================ Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata

