ieu terjemahan di website wartwawan Taghrib.ir
HAyu Urang Sambut BUlan Ramadhab penuh berkah ieu... ku Ibadah saling silaturahmi jeung kajian Ilmiah


Assalamualaikum

Menyambut Bulan Ramadhan di Indonesia

 

Suasana baru bisa dirasakan di daerah Jakarta Indonesia khusunya di kota-kota kecil dan desa-desa sekelilingnya dengan adanya persiapan-persiapan di mesjid-mesjid untuk keperluan acara-acara yang penuh dengan nilai maknawi di bulan Ramadhan, dan juga untuk keperluan acara yang biasa dilakukan seperti tadarus Al-Quran secara berkelompok-kelompok, serta membentuk panitia sukarelawan untuk membantu anak yatim dan fakir miskin.

Menurut berita yang diambil dari kantor perhubungan umum dan media informasi organisasi kebudayaan serta perhubungan Islam, persiapan tersebut meliputi kegiatan festival kesenian dan budaya serta pengadaan barang-barang makanan di pasar-pasar, selain dari pada itu juga persiapan di mesjid-mesjid untuk acara-acara yang penuh dengan nilai maknawi di bulan ramadahan seperti acara tadarus Al-Quran yang dilakukan secara berkelompok-kelompok dan pembentukan kepanitiaan untuk membantuk anak-anak yatim dan fakir miskin pun dilakukan. Hal tersebut membuat suasana yang baru di Jakarta khususnya di daerah-daerah kecil dan desa-desa sekitarnya.

Walaupun Majelis Ulama Indonesia yang merupakan lembaga resmi pemerinah dalam penentuan awal dimulainya bulan ramadhan akan tetapi permasalahan Hilal merupakan salah satu pembahasan yang memiliki perbedaan pendapat diantara dua organisaasi besar Islam di Indonesia yaitu Organisasi koservatif Nahdhatul Ulama dan organisai pembaharu Muhammadiah. Kedua organisasi besar tersebut setiap tahunnya membentuk kepanitiaan untuk mengumumkan penentuan hari pertama bulan Ramadhan tentunya hal tersebut bersandarkan pada dalil dan argumentasinya masing-masing. Dimana Organisasi konservatif Nahdhatul Ulama mengambil cara sunnati untuk penentuan hari pertama bulan dengan melihat hilal secara langsung , sedangkan organisasi pembaharu Muhammadiyah mengambil penentuan tersebut dengan cara yang berbeda-beda diantaranya dengan penggunaan alat-alat modern untuk melihat hilal, hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan penentuan hari pertama Bulan ramadhan dengan selisih sekitar sehari sampai dua hari.

Doktor Sa’id Aqil Siraj seorang ketua organisasi Nahdhatul Ulama – organisasi islam terbesar di Indonesia- setelah diwawancarai oeh wartawan mengatakan : Organisai kami melakukan penentuan hilal berdasarkan hadits “bersaumlah kamu semua ketika melihat hilal” seperti halnya penentuan tersebut telah dilaksanakan sejak tahun 1413 sampai sekarang ini dengan melihat bulan secara langsung oleh mata telanjang kita. Beliau menggariskan bahwa untuk penentuan secara pasti kapan hilal terlihat tahun ini tergantung kepada laporan dari wakil-wakil organisasi yang dibentuk dalam kepanitiaan yang telah ditentukan di setiap daerah di Indonesia.

Dilain hal organisasi pembaharu Muhammadiah hari pertama bulan Ramadhan tahun ini telah ditentukan berdasarkan kaidah perhitungan tahun atau hisab yakni tanggal 11 bulan Agustus 2010 ( 20 Murdad 89).

Berdasarkan hal tersebut kemungkinan yang akan terjadi di tahun ini bahwa masa dari Muhammadiah di Indonesia terutama yang tinggal di pulau Sumatera barat dimana memiliki perbedaan ufuk dengan daerah lainnya.  Memulai bulan Ramadhan dua atau tiga hari lebih dulu dari hari yang akan ditentukan oleh pemerintah yaitu Majelis Ulama Indonesia yang biasanya mengambil penentuan hari pertama bulan ramadhan dari organisasi Nahdhatul Ulama. Perbedaan hilal tersebut bahkan akan lebih terlihat di pihak masa tarikat Naqsyabandiah.



Kirim email ke