Abah,

1. Pernahkah Abah bertanya pada orang Ahmadiyah baik dari yang Qadiyan
atau yang lahore, apakah mereka menganggap Nabi Isa sebagai Allah atau
Ghulam Ahmad sebagai Allah??

Kebetulan saya kenal dan bersahabat dengan beberapa pengikut Ahmadiyah
Qadiyah dan mereka tidak mempercayai Ghulam Ahmad sebagai Allah,
mereka hanya mempercayai bahwa Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi karena
persepsi mereka terhadap penyaliban Isa ibnu maryam berbeda dengan
mainstream yang ada.

Untuk lebih jelas nya bisa di baca dalam buku  TIGA MASALAH PENTING  
                                    oleh H. Mahmud Ahmad Cheema H.A.
Jemaat Ahmadiyah Indonesia (Qadian) 1994.

Kalau saya boleh rangkum perbedaan Ahmadiyah dengan non Ahmadiyah sbb:

1. Persepsi bahwa Nabi Isa tidak di angkat ke langit tapi tetap
disalib hanya tidak sampai mati, kemudian hijrah sampai ke negri
India. Berkeluarga trus mempunyai anak.

Ini di sandarkan pada dalil Qs.5:119 Dalam ayat ini Nabi Isa as
menjawab kepada Allah swt.  bahwa beliau selalu berusaha agar
pengikut-pengikutnya jangan  sampai  menyembah  tuhan  lain  kecuali 
Allah  swt.Seterusnya - dengan jelas - beliau bersabda: "Tetapi
setelah Engkau mewafatkan aku, aku tidak tahu  apa-apa  yang  mereka
kerjakan."Perkataan   tawaffa  [Arab]  dalam  ayat  itu  artinya  mati
(kematian).

Sedangkan yang dipercaya selama ini oleh sebagian besar umatg muslim
adalah Nabi Isa tidak disalibkan yang di salibkan adalah murid nabi
Isa as yang berkhianat sedangkan Nabi Isa as di angkat oleh Allah SWT
ke langit.

2.Perbedaan selanjutnya antara Ahmadiyah dan non Ahmadiyah adalah
masalah kenabian. Para pengikut Ahmadiyah membagi wahyu kedalam dua
eprkara wahyu syariat dan wahyu tanpa syariat , dimana wahyu syariat
hanya sampai kepada Nabi Muhammad saw sedangkan wahyu tanpa syariat
berlansung sampai akhir zaman dan Ghulam Ahmad dipercaya sebagai
seseorang yang menerima wahyu tanpa syariat.

Ini didasarkan pada Surah Ali Imran ayat 180:                        
      
   
Keterangan:  Perkataan  (yadzara)  [Arab]  (yamiza),  [Arab]
(yutli'a)  [Arab]  dan  (yajtabi)  [Arab]  itu  adalah fi'il
mudhori yang dipakai untuk masa  zaman  ini  (sekarang)  dan
zaman  yang  akan  datang.  Maksud ayat ini ialah, Allah swt
akan mengirimkan Utusan-utusanNya untuk memisahkan yang baik
daripada   yang   buruk  dan  untuk  memberitahukan  tentang
khabar-khabar gaib.

Lalu Apakah perbedaan persepsi dalam 2 hal di atas menyebabkan jama'ah
Ahmadiyah menjadi sesat?? saya pikir tidak demikian Abah, karena orang
yang sesat seperti yang tercantum di dalam Qs. 4:116 adalah orang yang
menyekutukan Allah, soal menyekutukan ini pun ada berbagai bentuknya
ada yang menyekutukan Allah dengan uang, jabatan, cinta, seks dll. Ini
banyak terjadi di dalam umat islam sendiri atau di luar umat islam .
sikap menyekutukan Allah ini lah yang seharusnya menjadi agenda
bersama untuk di brantas;)

Dalam Qs.4:136 pun di jelaskan bahwa orang yang tersesat jauh itu yang
tidak lagi percaya terhadap rukun Iman padahal kita tahu bahwa para
jema'ah Ahmadiyah pun masih menjadikan rukun Iman sebagai fondasi
keimanan mereka. Mereka masih percaya bahwa Tiada Tuhan selain Allah,
mereka percaya pada Kitabullah, percaya pada Rasul-rasul Allah ,
percaya pada Malaikat2 dan juga percaya pada hari akhir.

Perbedaan persepsi dan pendapat atau kepercayaan adalah Rahmat,
jadikanlah perbedaan itu menjadi menambah keimanan, mepererat tali
persaudaraan, menjadi alasan untuk mensyukuri. Jangan sampai perbedaan
itu justru mendatangkan mudharat karena yang namanya perbedaan itu
adalah sunatullah maka tidak mungkin di hilangkan dari muka bumi ini
selama manusia hidup. Yang justru harus di hilangkan dan jangan sampai
muncul adalah kerusakan di muka bumi oleh karena ulah umat manusia
sendiri.

Dan jangan sampai ada klaim kebenaran yang hak/mutlak/absolut dari
diri manusia karena tidak ada yang Maha Benar kecuali Allah semata.
Kalau kita suka mengklaim kebenaran diri sendiri sebagai yang paling
benar maka kita di hinggapi sikap sombong dan suka menghakimi orang
lain. Justru orang-orang yang bersikap sombong dan merasa diri paling
benar adalah orang-orang yang menyekutukan Allah dengan pahamnya
sendiri seperti yang dikatakan dalam Qs.2:206

Soal MUI, MUI adalah lembaga yang mewakili umat Islam seharunya lebih
bersikap adil dalam menyikapi masalah. Jangan sampai sikap MUI ini
hanya mensupport kepentingan mayoritas saja. bersikap adil ini justru
yang lebih utama. 

Jika kita berandai-andai.. seandainya mayoritas di sini adalah
Ahmadiyah maka yang di bilang sesat yaaaaa para non Ahmadiyah
......apakah para non Ahmadiyah ini berhak untuk di ganggu, dilarang
dan di dzalimi dalam beribadah?????????????
samapai kapan kita harus menyebarkan benih-benih dendam????

Kalau alasanya soal Aqidah, bukankah aqidah itu adalah urusan setiap
manusia dengan Tuhanya????? Allah lah yang mutlak menentuan kepada
siapa Allah akan memberikan hidayah-Nya dan kewajiban kita hanya bisa
saling nasehat-menasehati dengan cara yang benar dan baik.

ke dua Abah, masalah ada klaim dari Ghulam Ahmad bahwa dia yang
mencitkan surga atau dia adalah Allah, jika seandainya
benar....bukankah para jama'ah Ahmadiayah tidak demikian????????sekali
lagi jika hal tsb benar adanya biar saja itu menjadi tanggung jawab
Ghulam Ahmad sendiri dihadapan Allah SWT.

Yang penting sejauh yang saya tahu dari orang Ahmadiyah Qadiyah
sendiri mereka TIDAK PERNAH MENYATAKAN ATAU MEMERPCAYAI BAHWA GHULAM
AHMAD SEBAGAI ALLAH ATAU YANG MENCIPTAAN SURGA.

Chae




  

--- In [email protected], "H. M. Nur Abdurrahman"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 1. Chae, masih ada kriteria lain mengenai sesat. Coba Chae baca
penggalan permulaan S. Al-Maaidah, 5:17. Disitu ada sebuah kriteria
ttg orang kafir, sedangkan kafir itu sesat. 
> 
> 2. Bagaimana pendapat Chae, Ahmadiyah Qadiyan percaya bahwa yang di
bawah ini diucapkan oleh Ghulam Ahmad, sedangkan Ahmadiyah Lahore
tidak mempercayai bahwa itu ucapan Ghulam Ahmad.
> "I saw in my dream that I am Allah and I believed, no doubt I am the
one who created the heaven." Aina-e-Kamalat, p.564.
> Dengan meyakini Ghulam Ahmad itu, who believes himself created the
heaven, itu lebih hebat dari kriteria kafir dalam S. Al-Maaidah, 5:17.
You have to believe, bahwa MUI tidaklah gegabah mengeluarkan fakta
sesat bagi Qdianism.
> Wasssalam,
> HMNA
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: Chae 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Tuesday, July 26, 2005 15:44
>   Subject: [wanita-muslimah] Re: Tokoh Agama Mengutuk
> 
> 
>   Abah,
> 
>   masalahnya apa pemakaian kata sesat itu sudah tepat untuk Ahmadiyah
>   Qadiyah? karena berdasarkan Qs.4:136 menyatakan bahwa Ahmadiyah
>   Qadiyah ini tidak bisa di sebut sesat?
> 
>   Chae
> 
>   --- In [email protected], "H. M. Nur Abdurrahman"
>   <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   > 
>   > Ass. wr.wb.
>   > Ada dua cabang Ahmadiyah, yaitu Ahmadiyah Qadiyan dan Ahmadiyah
>   Lahore, MUI memfatwakan sesat hanya pada Ahmadiyah Qadiyan, bukan pada
>   Ahmadiyah Lahore, yang tidak mengakui kenabian Ghulam Ahmad. 
>   > Anita dan Mia, kok begitu impulsif menghakimi fatwa MUI. Saya
>   katakan impulsif, karena anda berdua menghakimi fatwa MUI tanpa
>   perbekalan ilmu dan informasi yang cukup ttg Qadiyanism. Ini saya beri
>   input:
>   > Wassalam
>   > HMNA
>   >
>  
*******************************************************************************************
>   >  
>   > Qadiyanism: A Brief Survey
>   > (Abstract from QADIYANIAT, AN ANALYTICAL SURVEY, by Ehsan Ilahi
Zaheer)
>   > 
>   > Beginning
>   > 
>   > Begun in India, inspired and actively supported by the British
>   colonial power. In the mid-nineteenth century the British thought that
>   Islam as the Deen of Allah was dead, but the War of Independence of
>   1857 and the leading role of Muslims through the spirit of Jihad
>   scared the British. They actively sought an alternative to real Islam.
>   Among the many things they did, one was the foundation of a new
>   religion in the name of Islam by the hands of Mirza Ghulam Ahmad
>   Qadiyani. The British gave Mirza full support and an outline; and he
>   filled in the details.
>   > 
>   > Mirza Ghulam Qadiyani
>   > 
>   > He said that his name was Ghulam Ahmad, son of Ghulam Murtaza,
>   belonging to the caste of Mughal Barlas who came to India from
>   Samarqand. Later he changed his origins and claimed to be a Persian.
>   He again had a change of mind and claimed to belong to the progeny of
>   Fatima bint Muhammad(S). He was born in 1839-40 in Qadiyan, District
>   of Gordaspur, Punjab, India in a family who were subservient to the
>   British and played a heroic role in defending the British in the War
>   of 1857. Ghulam remained proud of his and his family's services to the
>   British crown and advised his followers to remain loyal to the British
>   Government and the West. Qadiyanis, the followers of Ghulam Ahmad,
>   established good liaison with the State of Israel immediately after
>   its establishment and Israel gave them full protection.
>   > 
>   > Steps to the Prophethood(*)
>   > 
>   > The 1870s was a period of debates between Hindus against Muslims and
>   Christians against Muslims. Muslims did not start those debates but
>   Muslim scholars were winning all of them and winning the hearts of the
>   Muslim masses. Ghulam saw an opening to gain popularity and taught
>   himself the art of debating against Hindus and became popular by 1877.
>   In 1880 he published his first book Baraheen-i-Ahmadiyyah and
>   established himself as a writer. By 1884 he added three more volumes
>   to the same book and in 1885 he claimed himself to be a Mujaddid, a
>   revivalist of Islam. In 1891 he claimed himself to be the Promised
>   Mehdi and a Promised Messiah. During this period he insisted that he
>   was not a prophet declaring that such a claim would make him a kaafir
>   and a liar. Well! In 1901 Ghulam declared, "by Allah in Whose grip is
>   my soul it is He Who commissioned me and named me a prophet" and he
>   declared that Allah gave him "three hundred thousand". Note that
>   Allah's true messengers and prophets
>   >  received their assignment suddenly not step-wise like Ghulam. By
>   Ghulam's own declarations, now he became a Kaafir and a liar. 
>   > 
>   > Qadiyaniat in the Contemporary World
>   > 
>   > Pakistan, the home of the Qadiyani movement, declared the religion
>   of Ghulam Ahmad to be kufr, non-Islam and other governments followed
>   suit. Saudi Arabia stopped giving visas to Qadianis as Muslims.
>   Recently, a South African court has ruled them to be non-Muslims.
>   However, anti-Islam governments give Qadianis protection and provide
>   facilities for their propagation, among them, the U.S. and the British
>   are major protectors. It is interesting to note that Zulfiqar Ali
>   Bhutto helped declare Qadianism as non-Islam but his daughter Benazir
>   Bhutto and Pakistan People's Party (PPP) are actively embracing all
>   enemies of Islam including Qadianis.
>   > 
>   > Beware of deceptively Islamic looking functions and gatherings like
>   Seeratun-Nabi. Interfaith Dialogues serve as bait for simplistic and
>   un-informed Muslims. Attending Qadiani functions under any pretext is
>   helping and promoting their kufr.
>   > 
>   > Hypocrisy of Pacifism
>   > 
>   > Mirza Ghulam Ahmad declared that "Jihad", as an instrument of war
>   (defensive or offensive), was forbidden by him. His followers,
>   Qadiyanis, continue to present themselves to the West as pacifists,
>   anti-war "Muslims". As recently as Summer 1996 in their annual
>   convention in Washington, D.C., they presented themselves as peaceful
>   "Muslims" who did not believe in war. The national media in the U.S.
>   took note of it and presented "Ahmadiya Muslims" as pacifists. The
>   truth is that Qadiyanis entered the armed forces of Pakistan from the
>   time of the formation of the country and rose to the highest ranks of
>   officers corp in all branches, namely, army, air force and navy . With
>   the blessings of their "Khalifah" they participated in wars against
>   India. When the "Khalifah" was questioned he defended his position and
>   reiterated that his father, Ghulam Qadiyani, the founder of the cult,
>   was not a pacifist.
>   > 
>   > Beliefs of the Ahmadiya Cult (Qadiyanis)
>   > 
>   > Mirza Ghulam Qadiyani disrespects Allah and His messenger
>   Muhammad(S): Read the following quotes from the writings of the
>   founder of the so called "Ahmadiyah Movement in Islam", which Muslims
>   address as Qadiyanis or Mirzais because his full name was Mirza Ghulam
>   Ahmad Baig Qadiyani. All references are from his Urdu writings; some
>   of the quotes were taken from Qadiyani magazines or newspapers
>   published after the death of Mirza(*).
>   > 
>   > "I saw in my dream that I am Allah and I believed, no doubt I am the
>   one who created the heaven." Aina-e-Kamalat, p.564.
>   > 
>   > "I have been given the attribute of destruction and giving life;
>   this has been given to me from Allah." Khutba Ilhamiyah #6.
>   > 
>   > " Every one can rise to the highest status, he can even surpass the
>   status of Muhammad(S), the Messenger of Allah." Al-Fadl Qadiyan, 17th
>   July 1922.
>   > 
>   > "Hadrat Muhammad(S) used to eat cheese made by the Christians even
>   though it was well known that lard (pig fat) was mixed in it." Al-Fadl
>   Qadiyan, 22nd February, 1924.
>   > 
>   > "It is evident like daylight that the door of prophethood is open
>   after that Hadrat (Muhammad(S))." Haqiqat an-Nubuwwah, p.329.
>   > 
>   > "I swear by that God who owns my life that He has sent me, He named
>   me a prophet and He called me the Promised Messiah." Closing of
>   Haqiqat Al-Wahy, p. 68.
>   > 
>   > "Allah Ta'ala gave names, Muhammad and Ahmad and established me as
>   the persona of Muhammad." Ek Ghalati ka Izalah, p.10.
>   > 
>   > "True God is the One Who sent His messenger in Qadiyan." Dafeh
>   Al-Bala', p.11.
>   > 
>   > "So, is there any doubt that Hadrat Promised Messiah is a prophet
>   according to the Quranic meaning as well as literal meaning." Haqiqat
>   An-Nubuwah, p.116.
>   > 
>   > The Character of Qadiani
>   > 
>   > Mirza received his early education from his father and other
>   teachers of the village. Mirza took a humble job in the office of the
>   Deputy Commissioner. During his employment he took exams for legal
>   positions but failed them. After his failures he returned home to take
>   care of the family land.
>   > 
>   > There are three parts of Mirza's life: 
>   > 
>   > (a) Period as a Muslim, 
>   > (b) period of various claims, and
>   > (c) the period of his claim of prophethood.
>   > 
>   > During the early period Mirza was an ordinary Muslim; he had the
>   aqeedah of Muslims and believed in the finality of the Prophet
>   Muhammad(S). During the period of 1882 to 1890, in sequence, he
>   claimed to be a mujaddid (a revivalist), musleh (a reformer), mehdi(*)
>   (a divinely guided one) and masih maw'oud(*) (the Promised Messiah).
>   In the year 1900 he declared that Jihad had become unlawful(*) and in
>   1901 he claimed prophethood for himself(*). And in 1904 he claimed to
>   be Krishna(*).
>   > 
>   > Mirza wrote in his books, "I am God, in my vision I am a women,
>   Allah showed his manly power with me and metaphorically I became
>   pregnant.(*) Mirza died on May 26, 1908 in his own hated disease of
>   cholera while vomiting and discharging feces from both ends of his
>   gastro-intestinal system.
>   > 
>   > The Corruption of Ghulam Ahmad Qadiyani's Writings
>   > 
>   > Since the death of Ghulam Qadiyani in 1908 his followers have been
>   editing out some of the material written by him but criticized by the
>   opponents and had become sources of embarrassment. If Ghulam was a
>   true prophet, his followers have no authority to delete anything from
>   the writings of the "prophet". Qadiyanis use more recent but edited
>   publications of Ghulam Qadiyani's writings to deceive people that he
>   never wrote any such things as quoted by his opponents. English
>   translations are even worse and they have been edited very heavily.
>   However, Muslim scholars have collected and keep original publications
>   of Ghulam Qadiyani in their libraries and use them as sources in their
>   writings and to reveal the truth to the world.
>   > --------------------
>   > (*)
>   > rejected by Anjuman (Ahmadiyah Lahore)
>   >
>  
******************************************************************************************
>   > 
>   > 
>   >   ----- Original Message ----- 
>   >   From: Anita Tammy 
>   >   To: [email protected] 
>   >   Sent: Thursday, July 21, 2005 18:31
>   >   Subject: [wanita-muslimah] Re: Tokoh Agama Mengutuk
>   > 
>   > 
>   > 
>   >   Iya, lebih cocok nge-ban FPI daripada Ahmadiyah. FPI preman, 
>   >   Ahmadiyah terpelajar, bahkan di India tumbuh dengan baik
mendirikan 
>   >   sekolah-sekolah.
>   > 
>   >   Masukan buat MUI (yah kalau ada pembaca milis di sini yg bisa 
>   >   menyampaikan ke MUI langsung) adalah jangan menggunakan kata-kata 
>   >   tendensius itu. Beri informasi sebanyak-banyaknya, untuk mendidik 
>   >   masyarakat. Seperti itulah cara mendidik yg baik, yaitu memberi 
>   >   ilmu, bukan pengajaran untuk main hakim sendiri!
>   > 
>   >   Dengan MUI memberi contoh berkata "sesat", maka akan mudah bagi 
>   >   masyarakat untuk sembarangan pakai kata-kata main hakim sendiri 
>   >   seperti itu. Dengan MUI memberikan info sedetail mungkin, maka
akan 
>   >   baik efeknya bagi masyarakat, misalnya tumbuh minat membaca, 
>   >   belajar, diskusi, dsb. Dengan cara pendidikan seperti ini, 
>   >   masyarakat akan lebih bisa menerima yang berbeda, dan lebih bisa 
>   >   mendidik teman/saudara dengan cara memberi contoh yg baik, bukan 
>   >   cara kekerasan.
>   > 
>   >   Lalu siapa tahu malah ada yg cocok dengan Ahmadiyah, apa boleh
buat? 
>   >   Misalnya ada orang pintar yg senang dengan semangat pendidikan 
>   >   Ahmadiyah membangun sekolah-sekolah, lalu ikut bergabung dengan 
>   >   mereka, apa salahnya? Toh orang itu tetap beriman pada Allah, dan 
>   >   tetap mengikuti ajaran para nabi dan rasul Allah. Apa salahnya
sih 
>   >   nambah si Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi baru? Kan cuma nabi,
bukan 
>   >   sesembahan baru. Nabi di sini dianggap sebagai pengajar, penyebar 
>   >   ilmu, bukan menjadi musyrik karena menyekutukan Allah.
>   > 
>   >   Lebih baik mencari persamaan lah, kenapa terus-menerus mengorek 
>   >   perbedaan? :-(
>   > 
>   >   Salam,
>   >   Anita
>   > 
>   > 
>   >   --- In [email protected], "Mia" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   >   > Mbak Anita kan menganjurkan untuk menghindarkan kata-kata
'sesat' 
>   >   > atau yang tendensius semacam itu.  Ini masukan bagus untuk MUI, 
>   >   > anggap saja sebagai disclaimer.
>   >   > 
>   >   > Pelakunya kan jelas, FPI. Tugas kita semua untuk menuntut
polisi 
>   >   > menangkap pimpinan dan anggota-anggota FPI yang merangsek
kampung 
>   >   > orang itu.
>   >   > 
>   >   > Eh, malah di koran hari ini saya kok baca Jaksa Agung lagi
propose 
>   >   > mau nge-ban Ahmadiyah?  O,well aku rasa ini akan diikuti dengan 
>   >   > banning FPI juga yang sudah punya track record preman.  Kalo 
>   >   > nggak ...astaghfirullah Indonesiaku tercinta..parahhh...
>   >   > 
>   >   > Salam
>   >   > Mia
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:[email protected]
Berhenti mailto:[EMAIL PROTECTED]
Milis Keluarga Sejahtera mailto:[email protected]
Milis Anak Muda Islam mailto:[email protected]

This mailing list has a special spell casted to reject any attachment .... 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke