http://www.harianbatampos.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=14959


Ironi Kenaikan BBM
Oleh redaksi
Sabtu, 01-Oktober-2005, 10:06:4853 Klik


Oleh: Robert Bala


Pemerintah resmi menaikan harga BBM. Sebuah keputusan yang tentunya bakal 
diikuti dengan kenaikan kebutuhan pokok secara berantai.

Namun berbeda dengan kenaikan sebelumnya (yang biasanya dibungkus bahkan 
disangkal dengan pelbagai dalih), kali ini pemerintah pusat begitu "terbuka". 
Mereka berusaha "menyadarkan" agar ketika tiba saatnya, keputusan itu 
diterima dengan lapang dada, atau paling kurang meminimalisir protes.

Dalih yang dipakai adalah manfaat yang bakal dikecapi oleh keluarga miskin. 
Mereka bakal menerima dana kompensasi sebesar Rp. 100.000 untuk penduduk 
yang berpengasilan kurang dari Rp. 175.000. Sungguh sebuah janji yang 
sekaligus sebuah prestasi gemilang. Betapa tidak. Di negeri ini, pemerintah 
dapat membiayai hampir setengah (atau lebih tepat 2/3) dari kebutuhan hidup 
rakyatnya (kalau memang penghasilan warga sekitar Rp. 175.000).

Akan tetapi, di balik janji kompensasi itu, muncul pertanyaan yang sekaligus 
menjadi latar belakang tulisan ini: apa makna kompensasi itu? Apa paradigma 
yang sebenarnya melatarbelakanginya? Bertanya demikian beralasan, karena 
tanpa analisis yang lebih cermat tentang asal-usul kompensasi, maka hal itu 
hanya akan merupakan sebuah ironi. Ironi kriteria. Alasan yang selama ini 
cukup gencar disampaikan adalah janji kompensasi.

Jelasnya, setiap keluarga yang memiliki penghasilan kurang dari Rp. 175.000 
bakal mendapatkan jatah tersebut. Bahkan, supaya dana itu tidak "susut" 
dalam perjalanan, pemerintah bakal mengirimkan dana tersebut melalui Kantor 
Pos maupun BRI. Namun rencana yang begitu menakjubkan hingga mengundang 
decak kagum, mengandung pertanyaan tentang siapakah yang sungguh-sungguh 
berpenghasilan hanya kurang dari Rp. 150.000 sebulan?

Sebuah pertanyaan ironis lagi menggelitik. Dengan kata lain, seharusnya 
datang dari seorang warga negara asing yang tidak tahu menahu tentang nilai 
tukar rupiah beserta harga barang-barang kebutuhan pokok di Indonesia. 
Karena itu ia menanyakan tentang tepat-tidaknya sebuah kriteria. Ironisnya, 
kriteria tersebut justru berasal dari pemerintah yang seharusnya mengetahui 
tentang realitas ekonomi yang tengah menimpa negara ini.

Untuk itu, rupanya benar kata Opung Lukas, seorang sahabat, sambil 
menggeleng kepala berucap dalam logat Bataknya: "Mana ada bah orang yang 
hidup dengan uang segitu. Matilah awak dalam seminggu". Jelasnya, di negeri 
ini, dengan nilai tukar yang makin tak menentu, niscaya menemukan warga 
negara yang sanggup hidup hanya dengan uang sesedikit itu. Dan lebih tidak 
dipahami lagi kalau kita alihkan ke dollar.

Tetapi kalau ada, maka barangkali ia berasal dari dunia maya, yang hanya 
bisa dari sarapan pagi. Untuk memperjelas mengapa heran, temanku itu memberi 
contoh. Sebagai seorang juru Parkir, (yang nota bene sudah didaftar di 
RT-nya sebagai keluarga miskin dan karena itu berhak mendapatkan kompensasi 
BBM), ia mendapatkan penghasilan minimal Rp30.000 per hari. Itu berarti 
sebulan, ia dapat mengantongi Rp900.000.

Kenyataan yang sama diungkapkan Arif, seorang tukang ojek di Legeda Malaka. 
Sesial-sialnya, ia tidak memperoleh penghasilan kurang dari Rp20.000. Itu 
berarti sebulan, ia mendapat sekitar Rp600.000. Itu pun kalau lagi sial.

Dari kedua contoh di atas, maka jelas bahwa apabila dana kompensasi 
benar-benar dicairkan, maka hal itu bakal memunculkan ketidakpastian. 
Mengapa? Karena mengikuti kriteria di atas, seharusnya tidak ada satu warga 
negara pun yang memperolehnya, karena tidak ada yang berpenghasilan serendah 
itu.

Sebaliknya, bila ada keluarga yang memperoleh dana tersebut maka bakal 
menimbulkan kecemburuan sosial. Mengapa? Karena seharusnya semua masyarakat 
miskin memperolehnya. Berarti minimal dana yang tersedia triliunan rupiah, 
malah lebih. Lantas, mengapa dana tersebut tidak digunakan saja untuk tetap 
mempertahankan subsidi BBM?

Ironi Paradigma
Tentang paradigma, Thomas Kuhn, dalam bukunya 'La estructura de las 
revoluciones cientificas' (1990), mengartikannya dalam dua hal. Pertama, 
(arti luas) dikaitkan dengan pelbagai konstelasi opini, nilai dan metode, 
yang diakui oleh anggota sebuah masyarakat/organisasi. Hal ini bertujuan 
membangun sebuah disiplin, melaluinya masyarakat mengorientasikan dirinya 
dan mengorganisasikan semua relasi, baik secara keluar maupun ke dalam.

Kedua, (arti sempit), diartikan sebagai model solusi konkret dari masayalah 
yang dimiliki yang selanjutnya digunakan sebagai referensi dalam 
menyelesaikan problem sosial lainnya. Berpijak pada pengertian di atas, maka 
muncul pertanyaan tentang model paradigma yang digunakan pemerintah dalam 
memandang masalah kemiskinan. Dengan kata lain, apabila pemerintah 
menjanjikan kompensasi, maka hal itu dilatarbelakangi oleh salah satu konsep 
berpikir yang tidak lain merupakan model solusi yang ditawarkan, hal mana 
kita sebut dengan paradigma. Dalam kasus kenaikan BBM, pemerintah nampak 
begitu prihatin terhadap orang miskin, malah sangat "dermawan". Ia hadir 
sebagai sosok yang memberikan sesuatu kepada rakyatnya yang lagi kelaparan, 
dengan menyumbangkan Rp. 100.000 kepada setiap keluarga. Tindakan menyumbang 
seperti ini, tidak lain keluar dari pemahaman tentang peran negara yang 
memberi makan. Ia hadir dan memberikan tindakan sosial karitatif (charity). 
Ia prihatin dengan 23% penduduknya (bahkan lebih) yang tergolong miskin (dan 
papa).

Tetapi apakah pemberian makanan untuk mengatasi gejala kemiskinan (atau 
lebih tepat kelaparan) menyelesaikan masalah? Nyatanya tidak. Yang 
dilaksanakan dalam paradigma di atas adalah memberikan tindakan kuratif, 
tanpa menyentuh akar permasalahannya. Jelasnya, yang dinantikan rakyat bukan 
belas kasih. Ia tidak mau disayangi, apalagi dimanjakan. Ia memiliki potensi 
diri untuk bekerja hingga dapat menghasilkan sesuatu yang berguna untuk diri 
dan keluarganya.

Apalagi kerja merupakan ekspresi diri yang paling dalam, hal mana 
diungkapkan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Laborem Excercens, 
1981. Dengan kata lain yang dibutuhkan masyarakat bukan hadiah uang, 
melainkan terciptanya peluang agar dia dapat mengekspresikan dirinya dan 
hidup dari pekerjaannya itu. Atau mengikuti konsep people driven, membangun 
berarti memberi kemampuan kepada orang untuk mengupayakan kesejahteraannya 
sendiri.

Itu berarti dalam konteks kenaikan BBM, sangat diperlukan upaya memperbaiki 
kinerja kerja pemerintah. Salah satunya adalah dengan memangkas biaya-baya 
birokrasi yang selama ini menjadi high cost economy. Struktur seperti ini 
perlu dibenahi, agar menciptakan peluang bagi terlaksananya pembangunan.

Dalam kenyataannya, ongkos yang terlalu tinggi untuk membiayai birokrasi 
(belum terhitung pelbagai uang pelicin lainnya) akan sangat membebankan 
siapapun apaalgi investor yang ingin menanamkan modalnya di negeri ini. 
Tanpa ada perombakan, akan sulit terjadi kemajuan yang berarti.

Untuk hal ini, kita patut menyambut pelbagai gebrakan yang telah 
dilaksanakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama ini. 
Terbongkarnya kasus penyelundupan minyak yang dilaksanakn oleh oknum-oknum 
Pertamina, sudah menjadi indikasi keseriusannya. Sayangnya, gebrakan yang 
hanya berlangsung beberapa hari sebelum kenaikan BBM, hanya sekedar hadiah 
hiburan bagi rakyat yang lagi merintih dalam ketidakpastian.***


Robert Bala, pengamat masalah sosial. Tinggal di Batam.
 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/aYWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:[email protected]
Berhenti mailto:[EMAIL PROTECTED]
Milis Keluarga Sejahtera mailto:[email protected]
Milis Anak Muda Islam mailto:[email protected]

This mailing list has a special spell casted to reject any attachment .... 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke