Respon anda sudah saya duga.. ternyata memang typical sekali.. :-) Dari banyak anak kelompok pengajian anu, saya baru ketemu satu orang yang terbuka pemikirannya.. dalam artian tidak cepat menghakimi pemikiran orang lain..
Dalam tulisan lain (entah anda tahu atau tidak) bahkan seorang Cak Nur mulai merapat ke pks.. Mungkin teman saya itu termasuk yang 'ngeh' klo Cak Nur ternyata gak seperti yang digambarkan sebelumnya.. Soalnya belakangan ini dia membaca buku yang ditulis Cak Nur.. Banyak yang bilang buku adalah jendela dunia.. Tentu saja, jendela yang bisa dilihat lewat isi buku" tersebut.. :-) CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On 12/22/06, Rye Woo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ohhhh............. jadi ini tohhhh.... momok pembaharu disini yg di > elue2keun itu.. wajar ajee .....^&#%%&^*%#@&[EMAIL > PROTECTED](#%&@(^&$^&*(Q$#))%W(%W > > IrwanK <[EMAIL PROTECTED] <irwank2k6%40gmail.com>> wrote: Oleh M Dawam > Rahardjo > > > Pemerhati sosial keagamaan > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0612/22/opini/3187078.htm > =================== > > Ketika untuk pertama kali Nurcholish Madjid melontarkan gagasan > penyegaran pemikiran Islam, yang oleh lawannya disebut faham > pembaruan Islam, pandangan Nurcholish tersebut ternyata banyak > disalahpahami. > > Bahkan, teman-teman dekatnya sendiri, seperti Buya Ismail Hasan > Metareum, Dr Sulastomo, Endang Saefuddin Ansori, dan M Amien Rais, > sangat menentangnya. > > Amien Rais yang waktu itu sudah menjadi pemimpin dan anggota Pimpinan > Pusat (PP) Muhammadiyah agaknya merasa tersinggung mendengar > perkataan Nurcholish yang mengatakan bahwa organisasi pembaru > Muhammadiyah sekarang sudah menjadi organisasi yang bukan pembaru. > > Sebaliknya, Nahdlatul Ulama (NU) yang disebut tradisional justru > mulai bangkit sebagai pembaru walaupun masih setengah hati. Yang > lebih marah adalah kalangan Masyumi, karena merasa "digunting dalam > lipatan" ketika Nurcholish menyerukan penghentian wacana publik > negara Islam. Sebaliknya, Nurcholish masih menganjurkan agar > organisasi-organisasi Islam melakukan sosialisasi wacana mengenai > keadilan sosial sebagai perwujudan dari Pancasila. > [Non-text portions of this message have been removed]
