http://www.detiknews.com/read/2008/09/25/154659/1012527/159/gara-gara-sang-habib-dihardik ..
Tunggulah ramai beritanya seperti apa.. Pastinya
Jakarta - Guntur Romli terlihat lari tunggang-langgang ke gedung Pelni, yang
terletak di samping sebelah kanan gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB)
tersebut, berusaha menyelamatkan diri setelah terlibat bentrok dengan massa
dari Front Pembela Islam (FPI) dan Laskar Pembela Islam (LPI).
Bentrokan antara AKKBB dan FPI terjadi di sela-sela sidang Habib Rizieq Shihab
dan Munarman. Tawuran yang terjadi di luar gedung PN Jakarta Pusat itu sempat
diwarnai aksi saling lempar batu. Akibatnya, beberapa mobil yang diparkir dan
yang melintas di Jalan Gajah Mada kacanya pecah.
Ikhwal terjadi bentrokan, masing-masing kelompok punya versi sendiri-sendiri.
Versi AKKBB, kejadian tersebut berawal saat Guntur dan anggota AKKBB hendak
pulang dengan menggunakan mobil yang diparkirkan di gedung PT Pelni. Tiba-tiba
saja pihaknya diserang.
Massa AKKBB yang dikomandani Guntur berusaha bertahan. Namun karena jumlahnya
kalah banyak. Mereka pun akhirnya berlari ke gedung PT Pelni. Massa FPI yang
kadung kesal dengan Guntur Cs terus memburunya. "Mereka mengejar kami sampai
basement," ujar Guntur saat dievakuasi oleh polisi dari Gedung Pelni..
Versi kubu FPI dan Laskar Islam lain lagi. Menurut Munarman, Panglima Komando
Laskar Islam, bentrokan tersebut memang sengaja diprovokasi Guntur dan AKKBB.
Sebab sekalipun tidak ada kepentingan di persidangan, Guntur dan kelompoknya
datang ke sidang Habib Rizieq.
Sidang kasus kekerasan Monas dengan terdakwa Habib Rizieq tersebut, agendanya
kali ini mendengarkan keterangan saksi, Roy Suryo, pengamat telematika. Selain
itu, jaksa penuntut umum (JPU) juga meminta kesaksian dua anggota Laskar
Pembela Islam (LPI) dan 9 penyidik dari kepolisian.
Menurut Munarman, Guntur Romli terlihat sudah datang ke Pengadilan sejak pagi
bersama sekitar 30-40 orang preman. Mereka terlihat duduk-duduk di pelataran
parkir pengailan sambil merokok. "Penampilan mereka seperti preman. Bukan
mahasiswa. Apalagi aktivis," jelas Munarman yang dihubungi detikcom melalui
telepon.
Ketika hari beranjak siang, giliran rombongan FPI yang dipimpin Habib Ali Al
Hamid datang ke pengadilan untuk menyaksikan sidang Ketua Umum FPI Habib
Rizieq. Namun ketika baru memasuki gerbang, rombongan FPI ini dimaki-maki oleh
Guntur Cs. Mereka, kata Munarman, langsung menghardik Habib Ali dengan kalimat
"Ini Arab-arab Pemerkosa TKI".
"Guntur menghardik Habib Ali dengan kata-kata yang tidak pantas dan tentu saja
membuat marah anggota FPI dan LPI," tegas Munarman.
Karena mendengar perkataan Guntur, beberapa anggota laskar FPI dan LPI bergegas
mengelilingi sang habib. Namun, imbuh Munarman, saat beberapa anggota laskar
berusaha melindungi habib, anggota AKKBB langsung memukul dan menusuk salah
satu laskar.
"Salah seorang anggota laskar terkena senjata tajam anggota AKKBB. Kuping
sebelah kanan dan tangan kanan anggota laskar itu terluka. Saat ini pisau
tersebut sudah diamankan polisi," ujar Munarman.
Peristiwa itu kemudian membuat marah anggota FPI dan LPI. Mereka kemudian
mengejar kelompok Guntur yang mengenakan baju serba hitam tersebut hingga ke
luar gedung pengadilan. Di luar gedung kemudian sempat terjadi baku lempar batu.
Saat ini dua kubu yang terlihat bentrok sudah diamankan oleh polisi. Mereka
diamankan karena telah mengganggu ketertiban umum.
Entah siapa yang memulai bentrokan itu. Tapi menurut pakar hukum pidana Rudi
Satrio Mukantardjo, seharusnya hakim bisa mengantisipasi jauh-jauh sebelumnya.
Misalnya dengan menghindari konsentrasi massa yang rentan bentrokan.
"Pengadilan mamang terbuka untuk umum tapi bukan berarti harus dihadiri oleh
umum. Pengadilan kan bisa menyediakan beberapa layar video yang menayangkan
jalannya persidangan di beberapa titik," jelas Rudi.
Cara seprti ini, dianggap Rudi, merupakan salah satu solusi untuk menghindari
bentrokan dalam persidangan yang menyedot perhatian publik.
[Non-text portions of this message have been removed]