Setuju mba Ning, kalau kasusnya seperti cerita pak Agus di bawah ini, tentang 
korupsi yang menyangkut kerugian di pihak lain atau orang yang tidak taat 
aturan lalu lintas yang bisa mencelakakan orang lain,tapi kalau kasusnya 
seperti urusan jilbab untuk puteri Indonesia itu agak aneh kalau sampai 
nganggap tidak beriman, tidak manut Allah, apalagi pak Agus juga menuliskan 
ayat tentang pentingnya check-re check, heboh ada wanita lepas jilbab untuk 
puteri2an padahal ternyata orangnya memang tidak berjilbab ;-)

salam
AY
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Lestyaningsih, Tri Budi (Ning)" 
<ning...@...> wrote:
>
> Mas Agus,
> 
> Tulisan yang menarik. Karena itulah kita diperintahkan oleh Allah untuk
> senantiasa melakukan amar ma'ruf nahyi munkar, supaya jangan sampai
> membiarkan suatu kesalahan dan akibatnya seperti yang mas ceritakan di
> bawah itu.
> 
>  
> 
> Thanks for sharing.
> 
> Wassalaam,
> 
> -Ning
> From: muhamad agus syafii
> Kesalahan yang Dibiarkan
> 
> By: agussyafii
> 
> Pada suatu hari ada dua anak ABG sedang mengendarai motor, tiba di lampu
> merah pengemudi tetap melaju dengan kecepatan tinggi. Temannya yang
> membonceng dibelakangnya bertanya, 'Tadi lampu merah, kenapa masih
> ngebut aja?' Dengan tanpa merasa bersalah pengemudi motor itu mengatakan
> kepada temannya, 'Kakakku juga melakukannya dan ternyata masih tetap
> selamat sampai hari ini.'
> 
> Kejadian itu terus berulang dan jawabannya selalu sama. Sampai pada
> perjalanan berikutnya pada waktu lampu menyala hijau tanpa diduga justru
> sang pengemudi motor malah menghentikan kendaraannya. 'Lampu hijau kok
> malah berhenti?
> 
> 'Aku lebih menyayangi nyawaku,' jawabnya.
> 
> 'Mengapa begitu?' tanya pemboncengnya.
> 
> 'Kamu kan tahu kelakuan kakakku, Aku Khawatir, dia tiba-tiba nyelonong
> dilampu merah sebelah sana,' kata sang pengemudi motor sambil
> menunjukkan arah yang berseberangan jalan.
> 
> Begitulah kita, seringkali membiarkan sebuah kesalahan secara terus
> menerus tanpa ada yang berani mengoreksi maka kesalahan itu berubah
> menjadi kebenaran.  Demikian juga dengan kebenaran yang terus menerus
> dikondisikan sebagai kesalahan maka kebenaran akan berubah menjadi
> sebuah kesalahan. Seperti halnya seorang koruptor jika ditampilkan
> secara terus menerus oleh media sebagai sosok pahlawan maka pandangan
> masyarakat akan menganggap bahwa koruptor itu memang seorang pahlawan.
> Sedangkan bila ada orang yang bersih dan lurus ditampilkan sebagai orang
> yang bodoh dan naif maka masyarakatpun akan menganggap orang itu bodoh
> dan naif.
> 
> Jadi sebaiknya kita senantiasa jernih dalam menyikapi setiap peristiwa,
> jangan sampai kita terjebak dalam sebuah pembiaran, kesalahan menjadi
> kebenaran ataupun kebenaran menjadi kesalahan.
> 
> ---
> 'Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
> suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan
> suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
> menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.' (QS. 49:6).
> 
> Wassalam,
> agussyafii

Kirim email ke