yg aku tanya urusan bidadari vs anggur putih.

yg dikirim malah artikel yg bikin saya merasa sebel sama si abah selama
bertahun tahun ini.  enak aja comot nama orang dipasang di koran.  entar
kalo ada orang bunuh saya pakai golok di jalan gara gara artikel itu, abah
mau nanggung dosanya ???  :D



salam,
Ari


2010/3/14 H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id>

>
>
> HMNA:
> Kalau Arcon pintar membaca, maka dalam Seri 656 di bawah, ada pendapat saya
> yang menyatakan tidak sependapat dengan Luxenberg
> ***********************************************
> BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
>
> WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
> [Kolom Tetap Harian Fajar]
> 656 Menjawab Tangan-Tangan Gurita
>
> Sebermula, perlu kiranya pembaca menengok kembali Seri 655 yang baru lalu.
> Metode yang termaktub dalam Al Quran, yaitu metode yang eksak secara
> matematis, sistem keterkaitan 19, seperti yang sering dibahas dalam Serial
> ini:
> -- 'ALYHA TS'At 'ASyR, (S. ALMDTSR, 74:30), dibaca: 'alayha- tis'ata
> 'asyara, artinya: Padanya sembilan belas, lebih "sophisticated" dari metode
> hermeneutika. Mengapa? Karena metode hermeneutika hanya sampai membicarakan
> kata, akan tetapi metode Al Quran bukan hanya sampai pada kata, tetapi
> sampai kepada huruf dan bilangan, sedangkan pada Bible orang tidak bisa
> bicara huruf, dalam bahasa apa dan huruf mana dari Bible yang akan diambil
> jadi obyek pembahasan?
>
> Perkara para penafsir Injil (bukan Injil saja, melainkan Bible secara
> keseluruhan -HMNA-) sudah berdamai dengan metode hermeneutika, maka mengapa
> para penafsir Al Quran tidak mau legowo berdamai pula dengan metode
> hermeneutika ini, seperti dikehendaki oleh Ari Condro, maka dengan tegas
> saya jawab: Itu urusan ummat Nashrani mau berdamai dengan hermeneutika,
> tetapi para penafsir Al Quran tidak perlu dan tidak ada gunanya berdamai
> dengan hermeneutika dengan argumentasi seperti berikut:
> -- pertama, ketiadaan bahasa asal Bible dewasa ini(*), maka mau tidak mau,
> suka atau tidak suka para theolog Yahudi dan Nashrani mencari jalan dan
> metodologi untuk memahami kembali Bible melalui hermeneutika, sedangkan
> bahasa asal Al Quran tetap exist, bahkan bahasa Arab itu hidup karena
> pengaruh yang dihidupkan oleh bahasa Al Quran (bandingkan dengan nasibnya
> bahasa yang dipakai dalam Taurah, yaitu bahasa 'Ibriyyah (Hebrew) kuno yang
> telah mati, nasibnya bahasa yang dipakai dalam Injil, yaitu bahasa Aram yang
> telah mati, dan nasibnya bahasa yang dipakai dalam Veda, yaitu bahasa
> Sangsekerta yang telah mati).
> -- kedua, mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus berdamai, berhubung
> di dalam Bible tidak ada termaktub tentang metode yang menentang metode
> hermeneutika ini, sedangkan seperti dikemukakan di atas dalam Al Quran ada
> termaktub metode yang eksak secara matematis, yaitu metode sistem
> keterkaitan 19 untuk melawan metode hermeneutika yang antara lain berupaya
> dengan sia-sia untuk membongkar keotentikan mushhaf (teks) Al Quran Rasm
> 'Utsmaniy, seperti yang diupayakan oleh Taufik Adnan Amal MA (TAA), dalam
> karya otaknya berjudul "Al Quran Antara Fakta dan Fiksi" tersebut.
> -- ketiga, tidak sama dengan Bible yang memfokus pada teks, maka dalam
> Al-Quran (dari QRA=bacaan) titik tolaknya adalah hafalan yang dibaca, teks
> mengacu pada bacaan, dan ini di luar domein hermeneutika.
>
> Maka asas paralelisme Abu Zayd dan Ari Condro yang memparalelkan Al Quran
> dengan Bibel tersungkurlah sudah dengan ketiga argumentasi di atas itu.
>
> Akan diberikan sebuah contoh di antara sekian banyak contoh yang telah
> dikemukakan dalam Kolom yang saya asuh ini. Khusus untuk menjawab bahasa
> gaulnya Muh Syafei yang nyleneh tersebut, saya ulang menulisnya: Apa iya
> kritik matan Hadits bisa dibawa ke tingkat yg lebih tinggi (Quran)? Mestinya
> sih bisa ya .. cuman, resistensinya itu lho .. mana tahan. Maka ini jawaban
> saya: Bukan mana tahan, tetapi ditahan oleh sistem keterkaitan matematis 19.
> Memang ada perbedaan antara Al Quran dengan Hadits, pertama dari segi
> balaghah bahasa Al Quran lebih tinggi dari bahasa yang dipakai dalam Hadits,
> kedua dalam hal Al Quran substansi dan redaksionalnya (teks) otentik,
> sedangkan dalam hal Hadits substansinya yang otentik, tetapi teksnya tidak,
> sehingga adab mengucapkan atau menuliskan Hadits dianjurkan ditambah dengan
> aw kamaa qaala (atau seperti yang dikatakan). Mengapa saya katakan kritik
> matan (teks) Al Quran bukan mana tahan tetapi ditahan?
>
> Mari kita kritik kata BSM (bismi) dalam BSM ALLH ALRHMN ALRHYM. Sebenarnya
> BSM harus terdiri dari 4 huruf, bukan tiga huruf, yaitu seharusnya BASM,
> oleh karena kata ini terdiri dari huruf jar B (bi) dan ism ASM (ismun), jadi
> dalam menuliskan BSM sebenarnya telah dicopot Alif, dari BASM menjadi BSM.
> Namun kritik ini ditahan (bukan: mana tahan) oleh alat kontrol sistem
> keterkaitan matematis 19. Coba lihat hasil kritik teks, yaitu BSM menjadi
> BASM, yakni BASM ALLH ALRHMN ALRHYM, silakan dihitung sendiri 20 jumlah
> huruf bukan? Dan coba hitung sendiri teks yang asli: BSM ALLH ALRHMN ALRHYM,
> 19 huruf bukan? Jadi bukan mana tahan tetapi ditahan oleh alat kontrol
> sistem keterkaitan matematis angka 19.
>
> Contoh Basmalah di atas juga untuk menjawab olah akal TAA: "Rincian
> perjalanan historis kitab suci ini, terutama pada tahapan awalnya, telah
> ditempa serta dijalin dengan sejumlah fiksi dan mitos yang belakangan
> diterima secara luas sebagai fakta sejarah. Bagi rata-rata sarjana Muslim,
> 'keistimewaan' rasm utsmani merupakan misteri ilahi dan karakter
> kemukjizatan al-Quran. Tetapi, pandangan ini lebih merupakan mitos ketimbang
> prasangka dogmatis." Wahai TAA, ini bukan fiksi dan mitos, melainkan fakta
> sejarah dan karakter kemu'jizatan Al Quran, karena keotentikan "teks" Rasm
> 'Utsmaniy diperkuat oleh data numerik yang eksak.(**)
>
> Yang terakhir kritik TAA atas teks "ibil" dalam Rasm 'Utsmany dengan
> pendekatan qiraah, bahwa bacaan "ibil" (unta, 88:17) dalam konteks 88:17-20,
> sangat tidak koheren dengan ungkapan "al-sama'" (langit), "al-jibal"
> (gunung-2), dan "al-ardl" (bumi). Dalam bacaan Ibn Mas'ud, Aisyah, Ubay,
> kerangka grafis yang sama dibaca dengan mendobel "lam", yakni "ibill"
> (awan). Bacaan pra-utsmani ini, jelas lebih koheren dan memberikan makna
> yang lebih logis ketimbang bacaan mutawatir ibil.
>
> Perkataan "ibil" (takhfif) mempunyai dua makna: pertama unta, dan yang
> kedua awan yang membawa hujan. Maka rasm "ibil" itu bisa memuat makna unta
> dan awan sekaligus, sedangkan rasm "ibill" (tatsqil) ia hanya memuat makna
> awan semata-mata. Lagi pula menurut Imam Al Qurthubi perkataan "ibil" itu
> muannats (gender perempuan), sesuai dengan pemakaian fi'il mabniy majhul
> "khuliqat", dalam ayat:
> -- AFLA YNZHRWN ALY ALABL KYF KHLQT (S. ALGHASYYt, 88:17), dibaca: afala-
> yanzhuru-na ilal ibili kayfa khuliqat (s. algha-syiyah), artinya: Tidakkah
> mereka memperhatikan ibil bagaimana (ia) diciptakan.
>
> Jadi Rasm 'Utsmaniy "ibil" yang berarti awan yang mengandung hujan dan unta
> lebih komprehensif ketimbang qiraah "ibill" yang hanya berarti awan, yang
> dikemukakan TAA sebagai penyambung lidah Luthfi tersebut. Alih-alih mau
> mengkitik/meluruskan rasm "ibil" dengan qiraah "ibill", TAA dan sekaligus
> Luthfi jadinya tersungkur.
>
> Tulisan Masdar Farid Mas'udi "Meninjau Ulang Waktu Pelaksanaan Haji", telah
> dibahas panjang lebar dalam Seri 614, berjudul "Masalah Lempar Jamrah di
> Mina Tidak Perlu Fiqh Baru", jadi yang berminat silakan dibaca Seri 614
> tersebut. WaLlahu a'lamu bisshawab.
>
> *** Makassar, 26 Desember 2004
> [H.Muh.Nur Abdurrahman]
>
> http://waii-hmna.blogspot.com/2007/07/656-menjawab-tangan-tangan-gurita.html
> ------------------------------
> (*)
> Septugiant yang berbahasa Yunani adalah rujukan asal Perjanjian Lama.
> Mengapa Septugiant berbahasa Yunani, karena Septugiant adalah terjemahan
> dalam bahasa Yunani dari bahasa Ibrani, yang teks aslinya sekarang sudah
> hilang. (Septuagiant [Lat.,=70], oldest extant Greek translation of the
> Hebrew Bible made by Hellenistic Jews, from Alexandria, c.250 B.C. The
> Septuagint was translated from texts now lost. No copy of the original
> translation exists; textual difficulties abound. The symbol for the
> Septuagint is LXX." =>
> http://encyclopedia2.thefreedictionary.com/Septugiant).
> (**)
> Tabulasi jumlah huruf alif+lam+mim dalam 8 surah yang dibuka dengan 3 huruf
> [alif, lam, mim] setelah Basmalah yang diikat oleh bilangan interlock 19,
> itu menunjukkan:
> 1. mu'jizat Al Quran, karena tidak mungkin jalinan interlock 19 itu buatan
> manusia.
> 2. keotentikan teks Rasm 'Utsmaniy, sebab kalau tidak otentik, tentu saja
> tabulasi itu tidak dapat bertahan terhadap mengalirnya sang waktu.
> 3. teks Rasm 'Utsmaniy bukan mitos, karena siapa bilang data numerik itu
> mitos.
> 4. teks Rasm 'Utsmaniy kebal terhadap hermeneutika.
>
> Surah mim lam alif
> Al Baqarah 2195 3204 4592
> Ali 'Imran 1251 1885 2578
> Al A'raf 1165 1523 2572
> Ar Ra'd 260 479 625
> Al 'Ankabut 347 554 784
> Ar Rum 318 396 545
> Luqman 177 298 348
> As Sajadah 158 154 268
> ____________________
>
> Jumlah 5871 + 8493 + 12312 = 26676 = 1404 x 19
>
> ----- Original Message -----
> From: "Ari Condro" <masar...@gmail.com <masarcon%40gmail.com>>
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>>
> Sent: Sunday, March 14, 2010 07:30
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Misteri Sungai di Dalam Laut Mexico
>
> sebenarnya aku ndak perduli masalah anggur apa bidadari houri ini.
>
> yg ane pengen tahu, si abah setuju ama anggur atau setuju ama bidadari ?
> sepanjang yg ane baca, si abah ndak setuju ama bidadari. apa ini bisa
> disimpulkan kalau si abah setuju dengan si anggur putih ?
>
> * kagak dijawab juga, mbulet mbulet terus kemana mana. *
> #####################################################################
> Inikan pertanyaaan Arcon:
> jadi kesimpulannya : abah hmna setuju dengan luxenberg ?
> kalo pak samsudin arief gimana ?
> Kedua pertanyaan itu saya sudah jawab, cuma Arcon tidak bisa baca, karena
> kedua pertanyaan itu jawabannya ada di bawah ini (yang telah saya posting)
>
> WDS::
> Luxenberg starts with Q 44:54 ?? ????????????? ???????
> ????? wa zawwajnahum bi hur 'in, 'We shall wed them to maidens with
> large, dark eyes'. For ??????? zawwajnahum, 'we shall wed them' he has
> a different, and purely Arabic, alternative: ??????? rawwahnahum 'we
> shall let them rest'. It's a difference of only two diacritical dots
> and in rasm it's identical.
> *****************************************************************
> HMNA:
> It's a difference of only two diacritical dots and in rasm it's identical.
> Luxenberg pakai prinsip bacaan mengacu pada teks/tulisan/rasm
> Inilah yang dibantah Syamsudin Arief:
> Ini cuplikan dari tulisannya:
>
> Pada prinsipnya Al-Qur'an bukanlah 'tulisan' (rasm atau writing) tetapi
> merupakan 'bacaan' (qira'ah atau recitation) dalam arti ucapan dan sebutan.
> Baik proses turun-(pewahyuan)-nya maupun penyampaian, pengajaran dan
> periwayatan-(transmisi)-nya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan
> tulisan. Dari dahulu, yang dimaksud dengan 'membaca' Al-Qur'an adalah
> "membaca dari ingatan (qara'a 'an zhahri qalbin; to recite from memory)."
>
> Adapun tulisan berfungsi sebagai penunjang semata. Sebab ayat-ayat
> Al-Qur'an dicatat-yakni, dituangkan menjadi tulisan diatas tulang, kayu,
> kertas, daun, dan lain sebagainya-berdasarkan hafalan, bersandarkan apa yang
> sebelumnya telah tertera dalam ingatan sang qari'muqri'. Proses transmisi
> semacam ini, dilakukan dengan isnaad secara mutawaatir dari generasi ke
> generasi, terbukti berhasil menjamin keutuhan dan keaslian Al-Qur'an
> sebagaimana diwahyukan oleh Malaikat Jibrial a.s kepada Nabi sallallaahu
> 'alaihi wa-sallam dan diteruskan kepada para Sahabat, demikian hingga hari
> ini.
>
> Ini berbeda dengan kasus Bibel, di mana tulisan-manuscript evidence dalam
> bentuk papyrus, scroll, dan sebagainya-memegang peran utama dan berfungsi
> sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum alias Gospel.
>
> Jadi seluruh kekeliruan dan kengawuran orientalis bersumber dari sini.
> Orang-orang seperti Jeffery, Wansbrough dan Puin (dan Luxenberg -HMNA-),
> misalnya, berangkat dari sebuah asumsi keliru, menganggap Al-Qur'an sebagai
> 'dokumen tertulis' atau teks, bukan sebagai 'hafalan yang dibaca' atau
> recitatio. Dengan asumsi keliru ini (taking "the Qur'an as Text") mereka
> lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam
> penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form
> criticism, dan textual criticism.
>
>
> ################################################################################
>
> * kok malah lempar decoy, mengalihkan perhatian, dari urusan costeau *
>
> salam,
> Ari
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelism...@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    wanita-muslimah-dig...@yahoogroups.com 
    wanita-muslimah-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke