lha yang namanya kritik matan itu jadinya apa?
lha wong haditsnya bisa jadi gak bener (bukan hadits Rasulullah) kok mo 
dibela...
Premisnya, Rasulullah tidak pernah bicara hal-hal yang salah, rancu dan 
bertentangan dengan Al-Quran.
Beliau tidak pernah menambah-nambah dan membuat-buat apa-apa yang tidak 
diperintahkan oleh Allah.

Jadi logikanya (ini ilmu aristoteles, kafir biar ada bahasa arabnya), 
jika ada hadits yang isinya salah, rancu dan menambah-nambah isi Al-Quran PASTI 
BUKAN HADITS RASULULLAH.

Soal ilmu hadits yang rawi, itu tidak lebih berupa argumen secara Ad-hominem,
dan itu sebetulnya bertentangan dengan teladan sahabat, terutama teladan Imam 
Ali!
lucunya malah secara substansi SESUAI dengan praktek hermeneutics... hihihihihi 
apapun kata Eyang...
TAPI otentikasi jaman itu, caranya ya hanya bisa seperti itu, lha wong matannya 
gak bisa dicek dgn cara lain.

Saat ini, kita mendapatkan tanggung jawab zaman untuk berbuat lebih baik dari 
generasi-generasi terdahulu seperti Imam Bukhari ra dll. karena peralatan yang 
kita punya jauh lebih baik dari mereka-mereka itu. 


  ----- Original Message ----- 
  From: H. M. Nur Abdurahman 
  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
  Sent: Monday, March 15, 2010 12:36 PM
  Subject: [wanita-muslimah] Ini bukan apologi ttg lalat


    
  Cuplikan dari Seri 616. Apologi Tentang Lalat (sudah diposting sebelumnya, 
sehingga ramai didiskusikan)
  Apologi adalah suatu sikap dan gairah membela apa yang kita yakini dalam 
bentuk lisan maupun tulisan. Sikap apologi itu wajar-wajar saja. Yang tidak 
wajar ialah apabila Nash (Al Quran dan Hadits Shahih) diletakkan di bawah 
perisiwa kemajuan ilmu pengetahuan. Yang bagaimanakah yang disebut sikap 
apologi yang wajar itu? Pertama adalah membela salah pengertian terhadap 
pemahaman Nash, baik yang datang dari kalangan ummat Islam sendiri, maupun 
utamanya yang berasal dari luar kalangan ummat Islam. Yang kedua, dalam 
pembelaan itu Nash tidak diletakkan di bawah isu apapun juga. Para oirentalis 
mengolok-olok ajaran Islam tentang Hadits mengenai lalat ini, sehingga perlu 
"Apologi Tentang Lalat" seperti judul di atas. Yaitu apologi yang wajar dengan 
meletakkan isu ilmu pengetahuan di bawah Nash, menjadikan sains sebagai ilmu 
bantu.

  Yang di bawah itu bukan apologi ttg lalat
  Salam
  HMNA

  ****************************************************************************

  BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

  WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
  [Kolom Tetap Harian Fajar]
  879 Apa Adanya tanpa Apologi, Hindarkan Kerbau Punya Susu Sapi Punya Nama

  Firman Allah:
  -- WALSARQ WALSARQt FAQTh'AWA AYDYHMA JZAa BMA KSBA NKLA MN ALLH WALLH 'AZYZ 
hKYM (S.ALMAaDt, 5:38), dibaca:
  -- wassa-riqu wassa-riqatu faqtha'u- aidiyahuma- jaza-a bima- kasaba- 
naka-lam minalla-hi walla-hu 'azi-zun haki-m, artinya:
  -- Dan orang lelaki yang mencuri dan orang perempuan yang mencuri maka 
(sanksinya) potonglah tangan mereka sebagai satu balasan dengan sebab apa yang 
mereka telah usahakan, (juga sebagai) suatu hukuman pencegah dari Allah. dan 
(ingatlah) Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

  Sanksi potong tangan sangat perlu untuk disosialisasikan, diungkap dan 
dipublikasikan secara apa adanya tanpa apologi. Sanksi potong tangan itu sangat 
efektif untuk memberantas korupsi kelas kakap yang triliunan rupiah. Tentu saja 
kriteria korupsi kelas kakap itu perlu dijabarkan ke dalam fiqh konpemporer. 
Sanksi rajam itu sangat efektif untuk melawan penyebaran HIV/AIDS. Sanksi rajam 
itu perlu diapreasi apa adanya, karena sangat efektif untuk memberantas 
perselingkuhan yang banyak membuyarkan kehidupan rumah tangga. Kententeraman 
kehidupan rumah tangga adalah salah satu bagian penting dalam kehidupan 
bermasyarakat dan bernegara. 

  Kalau dalam syari'at Isa, bahkan sanksi potong kaki juga.Yesus memerintahkan 
potong tangan dan kaki bagi pencuri. 
  [Matius 18:8]
  Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, 
karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang 
dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api 
kekal. 

  Jadi sekali lagi ditekankan terimalah apa adanya sanksi potong tangan bagi 
koruptor kelas kakap untuk dijadikan hukum positif dalam Negara Republik 
Indonesia.

  ***

  Berbicara apa adanya itupun perlu dalam kontek untuk menghindarkan seperti 
apa yang tersebut dalam Bidal Melayu lama: Kerbau Punya Susu Sapi Punya Nama. 
Hatta Radjasa, yang ketua tim sukses SBY-Boediono tentang Penyelesaian GAM di 
Aceh secara damai berucap secara normatif/formalistik, tidak secara apa 
adanyabahwa pedamaian di Aceh, Perdamaian Helsinki itu merupakan hasil dari 
proses panjang yang dilalui sebelumnya. Perdamaian Helsinki itu akhirnya 
berujung pada keluarnya UU Aceh. UU Aceh itu bisa masuk dan dibahas di DPR itu 
melalui amanat Presiden melalui para menterinya. "Kampanye' Hatta Radjasa 
dengan "kampanyenya" itu berupa kebohongan publik, mengelabui rakyat. Tidak 
benar Perdamaian Helsinki itu akhirnya berujung pada keluarnya UU Aceh. Mengapa 
itu dusta? Perdamaian Helsinki itu terjadi setelah UU Aceh, jadi keluarnya UU 
Aceh itu itu bukan ujung, bukan pada zamannya SBY. Tanggal 15 Agustus 2005, 
draft Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani di Helsinki. Sejak 27 
Januari 2005 dimulailah perundingan informal antara NKRI dengan GAM sampai lima 
babak yang diakhiri pada tanggal 17 Juli 2005 di Helsinki. Pada hari itu telah 
diparaf draft MoU oleh ketua Juru Runding RI dan Ketua Juru Runding GAM. Pada 
hal jauh sebelumnya Perdamaian Helsinki yang ditanda tangani pada anggal 15 
Agustus 2005 terebut, UU Nanggroe Aceh Darussalam telah disahkan dalam Sidang 
Paripurna DPR yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR-RI Soetardjo Surjoguritno, 
pada hari Kamis, 19 Juli 2001. Itu namanya Hatta Radjasa membuat manipulasi 
Kerbau Punya Susu Sapi Punya Nama.

  Informasi apa adanya ini saya pungut dari:
  
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/13/1258380%20/ya.ampun....jk.quottelanjangiquot.sby
  Dalam kampanye dialogis di hadapan sekitar 1.000 pendukung dan kader Partai 
Golkar di gedung Sarana Kebudayaan Anjung Monmata di Jalan SA Mahmudsyah, Banda 
Aceh, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sabtu (13/6), tanpa menyebut dan 
juga menyebut "presiden" atau "pemimpin" saja, Kalla menceritakan dengan 
gamblang tentang peranan Presiden SBY. Meskipun tanpa menyebut nama, publik 
bisa mengetahui siapa yang dimaksud oleh Kalla. Saat Kalla memaparkan tanpa 
menyebut nama, tetapi hanya menyebut "pemimpin" dan "presiden", Kalla 
menggambarkan penolakan presiden untuk menandatangani setiap masalah yang 
dirundingkan dalam perdamaian damai, seperti soal pendirian partai lokal.

  "Coba periksa, tidak ada tanda tangan siapa pun kecuali tanda tangan saya di 
dalam perjanjian perdamaian Helsinki itu. Saya pernah minta untuk 
ditandatangani soal pendirian partai lokal, akan tetapi presiden tidak mau. 
Akhirnya, saya yang menandatangani dengan segala risiko setelah 10 kali 
membacakan Surat Yasin bersama istri saya," ungkapnya.

  Kemudian, Kalla juga menyatakan soal presiden yang disebutnya hanya 
manggut-manggut saat dilapori soal perkembangan perundingan damai Aceh. "Semua 
yang saya lakukan terkait perundingan damai Aceh itu, sepengetahuan Presiden. 
Dan, itu saya laporkan. Waktu saya laporkan, beliau biasanya manggut-manggut. 
Pemimpin itu cukup mengangguk-angguk saja. Presiden kita bagus karena tidak 
pernah menolak, meskipun juga tidak pernah memberikan pengarahan (soal 
perundingan)," ungkap Kalla.

  Kalla selanjutnya juga menceritakan peranan SBY di kala pemberlakuan Darurat 
Sipil di Aceh. Sebaliknya, ia juga seperti mengklarifikasi siapa yang 
menandatangani Darurat Sipil di Aceh pada waktu itu. "Bukan kami (yang 
keluarkan). Kami waktu itu Menko Kesra. Ada teman saya yang meneken darurat 
sipil waktu itu. Kalau Pak Wiranto (pasangannya sebagai cawapres), justru yang 
mencabut Daerah Operasi Militer (DOM), dan minta maaf atas Aceh," lanjut Kalla.

  Pada bagian lain, Kalla juga menyinggung tentang hadiah nobel yang diharapkan 
seseorang terkait dengan perundingan damai di Aceh. "Hadiah yang tertinggi dari 
perundingan damai itu adalah yang datang dari Allah SWT. Bukan nobel. Tidak 
tahu, kalau ada orang yang mengharapkan hadiah nobel itu," demikian dikatakan 
Kalla.

  'Ala kulli hal, hampir-hampir saja SBY mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian 
dalam kontek penyelesaian damai dengan GAM. Ya, hamipir-hampir saja Kerbau 
Punya Susu Sapi Punya Nama. WaLlahu a'lamu bisshawab.

  *** Makassar, 21 Juni 2009
  [H.Muh.Nur Abdurrahman]
  
http://waii-hmna.blogspot.com/2009/06/879-apa-adanya-tanpa-apologi-hindarkan.html

  [Non-text portions of this message have been removed]



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke