BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
669. Ukhrawi untuk Duniawi

Nasir al Husaini, koresponden Aljazirah di New York melaporkan pada hari 
Jum'at, 18 Maret 2005 sekelompok yang mengaku Muslim dan Muslimah Amerika 
sekitar 90 orang melakukan ibadah Jum'at. Ini jum'atan asal-asalan, karena 
khatibnya merangkap imam serta muadzzin semuanya perempuan (lahir kosa-kata 
baru khatibah, imamah dan muadzzinah, padahal imamah selama ini bukan berarti 
imam perempuan). Kosa kata baru ini insya-Allah akan mati "colli", tidak 
berumur panjang seperti "break dance" dahulu di Makassar ini. Khatib dan imam 
perempuan itu konon bernama Aminah Wadud, seorang doktor berpangkat Associate 
Professor dalam filosofi dan kajian agama di Virginia Commonwealth University, 
Richmond, VA dengan E-mail: awa...@vcu.edu. Sedangkan muadzzin perempuan itu 
bernama Suehyla el-Attar yang berucap kepada Al Jazirah bahwa itu berdasar atas 
ingatannya tatkala masih kecil yang didengarnya dari ayahnya sewaktu masih di 
Mesir. Parahnya lagi muadzzin perempuan ini betul-betul asal-asalan, karena 
berkepala telanjang alias tidak bertutup kain telekung. Brtul-betul liberal, 
liberte et egalite. 

Jum'atan asal-asalan ini diselenggarakan oleh yang mengaku Progressive Muslim 
Union bertempat di aula Synod House at the Cathedral of St. John the Divine, an 
Episcopal church on 110th Street (maaf susah diterjemahkan). Khutbah doktor 
filosofi dan kajian agama ini juga asal-asalan karena, subhanaLlah, semoga 
Allah SWT tidak melaknat yang ikut terseret karena ketidak-tahuannya sehingga 
ikut juga jum'atan asal-asalan ini, karena, karena dalam khutbahnya doktor 
filosofi ini mempergunakan kata ganti He, She dan It untuk Allah, subhanaLlah. 
Landasan fiqhnya juga asal-asalan, katanya karena Nabi Muhammad RasuluLlah SAW 
pernah menunjuk Ummu Waraqah untuk mengimami isi rumah Ummu Waraqah yang ada 
juga laki-laki berstatus budak kasim (dikebiri). Tidak jelas, apakah cercaan 
demonstran yang dijaga ketat oleh polisi, yang membawa spanduk bertuliskan 
kalimat: "Mixed-Gender Prayers Today, Hellfire Tomorrow" (sembahyang campuran 
gender hari ini, api-neraka besok), sempat dilihat Aminah Wadud yang doktor 
filosofi tersebut.
 
***

Dalam ibadah yang ritual berlaku qaidah: Semua tidak boleh kecuali yang 
diperintahkan dan dicontohkan oleh Nash. Pada waktu Rasulullah SAW sakit tidak 
menyerahkan pimpinan shalat itu misalnya kepada Fatimah RA, atau Aisyah. Bahkan 
RasuluLlah SAW waktu sakit itu terlambat masuk masjid ikut shalat dan 
membiarkan Abubakar RA mengimami beliau. Perintah Nabi SAW kepada Ummu Waraqah, 
itu dirampatkan (generalized) oleh Aminah Wadud meluas keluar rumah dan shalat 
wajib biasa dirampatkan meningkat ke shalat Jum'at. Budak laki-laki yang 
dikebiri(*) dirampatkan melebar kepada laki-laki yang potensial. Siapakah yang 
menjadi pengganti Nabi SAW yang menunjuk doktor filosofi ini menjadi imam? 
Kemudian imam itu dirampatkan pula melebar ke khatib! Inilah dia doktor yang 
berilmu asal-asalan. Firman Allah:
-- TSM J'ALNK 'ALY SYRY'AT MN ALAMR FATB'AHA WLA TTB'A AHWA^ ALDZYN LA Y'ALMWN 
(S. ALJATSYT, 18), dibaca: 
-- tsumma ja'alna-ka 'ala- syari-'atim minal amri fattabi'ha-  wala- tattabi' 
ahwa-al ladzi-na la- ya'lamu-n (s. alja-tsiyah), artinya: 
-- kemudian Kami jadikan engkau (hai Muhammad) atas syari'at di antara urusan, 
maka ikutilah syari'at itu dan janganlah engkau turut hawa-nafsu orang-orang 
yang  tidak berilmu  (45:18).  

Aminah Wadud ini termasuk di antara sosok orang-orang yang merusak Islam dari 
dalam, musang berbulu ayam. Dan sosok-sosok seperti ini tentunya menjadi 
sasaran empuk yang dimanfaatkan oleh mereka yang tidak suka pada islam. 
Kerjasama antara musang dari luar dengan musang berbulu ayam dari dalam ini 
akan terjalin hingga Allah menurunkan keputusanNya, baik melalui tangan 
makhlukNya atau atas kehendakNya sendiri. Maka ummat Islam berhati-hatilah 
terhadap aktivitas musang berbulu ayam ini yang berkecimpung menyelam di 
kawasan bersifat ukhrawi untuk tujuan duniawi, terkhusus dalam egalite 
(persamaan) gender yang kebablasan. WaLlahu a'lamu bisshawab.
-----------------------------
(*)
Budak laki-laki yang dikebiri ini adalah syaikh 'ajûz (lelaki tua renta), tidak 
berarti lelaki itu juga menjadi makmum Ummu Waraqah. 
o Pertama, harus dipahami bahwa justru karena ada hadits yang melarang 
perempuan menjadi mu'adzin, maka syaikh 'ajûz tadilah yang kemudian menjadi 
mu'adzin. 
o Kedua, tidak adanya riwayat yang mendukung bahwa lelaki tadi juga menjadi 
makmum Ummu Waraqah, sebaliknya hadits Nabi justru menyatakan: wa adzina lahâ 
an taumma nisâ'a ahli dârihâ, bahwa izin imamah shalat bagi Ummu Waraqah 
tersebut hanya diberikan untuk mengimami kaum perempuannya, sementara terhadap 
kaum prianya tidak.

*** Makassar, 27 Maret 2005
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2005/03/669-ukhrawi-untuk-duniawi.html


----- Original Message ----- 
From: "Abu Abdurrahman Al Ghazy" <mrkom...@yahoo.co.id>
To: <eramus...@yahoogroups.com>; <wanita-muslimah@yahoogroups.com>; 
<sab...@yahoogroups.com>
Sent: Saturday, March 20, 2010 09:40
Subject: [wanita-muslimah] Wanita Imami Shalat Jum'at?

Wanita Imami Shalat Jum'at?
14 April 2009

Sensasi memang membuat orang terkenal dan hanya untuk itu banyak orang 
mengorbankan kehormatannya. Demikianlah jaringan iblis senantiasa berusaha 
menjerat anak manusia kepada kesesatan dan penyimpangan dengan melemparkan 
senjata pamungkasnya yaitu syubhat dan syahwat.
Dewasa ini ada sekelompok orang yang mengaku Islam bebas menggembar-gemborkan 
isu kesamaan gender dengan segala cara dan didukung dana besar dari orang 
kafir. Mereka sengaja ingin mengkaburkan dan meliberalisasikan Islam sehingga 
menjadi agama yang jauh dari tuntunan Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam 
dan dekat dengan tuntunan musuh-musuh Islam.

Diantara program memuluskan konsep persamaan gender ini adalah upaya 
mensetarakan laki-laki dan perempuan dalam ibadah dan ketentuanIslam yang sudah 
jelas dibedakan, seperti hak waris, hak kebebasan berapresiasi dan bekerja 
dilapangan kerja laki-laki dan lainnya.

Beberapa tahun lalu juga ada upaya mereka memuluskan konsep ini dengan 
mengangkat berita wanita yang dipanggil dengan nama Amina Wadud yang mengimami 
shalat jum'at di sebuah gereja Anglikan the Synod House of Cathedral of St John 
thi devine di New York.[1] yang dipublikasikan di banyak media cetak dengan 
dibumbui komentar beberapa 'inteluktual' dan "kyai" yang dikesankan hal itu 
tidak bertentangan dengan syari'at Islam. Untuk itulah tampaknya perlu kita 
komentari komentar mereka tersebut agar masyarakat islam tidak tertipu dan 
terpedaya syubhat mereka. Walaupun sebenarnya membutuhkan penjabaran yang 
panjang, namun dalam kesempatan ini kita coba menyampaikannya dengan ringkas 
saja.

Untuk mendukung program mereka ini mereka menemukan hadits Ummu Waroqah yang di 
riwayatkan Imam Abu Daud dalam sunannya yang berbunyi:

"Dari Ummu Waroqah bintu Abdillah bin Al Haarits, beliau menyatakan bahwa 
Rasulullah mengunjunginya di rumah dan mengangkat untuknya seorang muadzzin 
yang beradzan untuknya dan memerintahkannya untuk mengimami keluarganya di 
rumah. Abdurrahman berkata, saya melihat muadzinnya seorang lelaki tua. (HR Abu 
Daud).[2] yang kata mereka lebih kuat keabsahan sanadnya, tentunya apalagi 
matannya. Mereka mengesankan bahwa hadits ini adalah hadits yang absah tanpa 
cacat lalu menjadikannya sebagai senjata menyerang ulama dan menghukum bahwa 
Islam yang kita warisi ini adalah Islam politik, dengan terlebih dahulu 
menyampaikan pendapat imam Abu Tsaur, Al Muzani dan Ibnu Jarir Al Thobari yang 
mendukung pendapat mereka. Tentu saja dengan dibumbui komentar untuk 
menciptakan opini bahwa pendapat mereka ini sejajar dengan pendapat imam 
madzhab yang empat, dengan menyatakan: 'Perlu diingatkan disini Ibnu Jarir 
al-Thobari juga seorang mujtahid besar yang kebesarannya sama dengan madzhab 
fikih empat lainnya'. Kemudian mereka mencoba membantah pendapat mayoritas 
ulama Islam yang melarang wanita menjadi imam dalam shalat dengan mengemukakan 
satu dalil yang lemah yaitu hadits Jabir yang berbunyi:

"Janganlah sekali-kali perempuan mengimami laki-laki, Arab badui mengimami 
muhajir (mereka yang ikut hijrah bersama nabi ke Madinah) dan pendosa mengimami 
mukmin yang baik".

Mereka menyatakan, hadits itulah sering dikemukakan dibanyak tempat untuk 
menopang argumen yag tidak memperbolehkan perempuan mengimami laki-laki dalam 
shalat.[3]

Lalu bagaimana sebenarnya permasalahan ini?

Hadits yang mereka jadikan penopang argumen mereka dalam membolehkan wanita 
mengimami laki-laki dan menyetujui serta memuji tindakan Amina Wadud diatas, 
sebenarnya adalah hadits yang masih diperselisihkan keabsahannya, sebab ada 
dalam sanadnya perawi yang majhul (tidak jelas kredibilitasnya) yaitu 
Abdurrahman bin Kholaad, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar Al Asqalaani, 
seorang ulama besar madzhab Syafi'iyah pengarang kitab Fathulbari yang sangat 
tersohor yang meninggal tahun 852 H. Demikian juga pada riwayat yang lebih 
panjang dan lengkap ada dalam sanadnya Abdurrahman ini dan neneknya Al Walied 
bin Abdullah bin Jumai' yang bernama Laila bintu Maalik yang juga majhul.

ehingga banyak juga yang mendhoifkannya seperti Syaikh Musthofa Al Adawi dalam 
Jami' Ahkam Al Nisa, (1/244). Seandainya hadits ini shahih pun, sebagaimana 
dinyatakan Syaikh Al Albani bahwa hadits ini hasan lighoirihi (hadits lemah 
yang dikuatkan oleh jalan periwayatan lain), namun matannya tidak mendukung 
pembenaran wanita mengimami shalat jum'at dihadapan laki-laki yang banyak, 
sebab Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam hanya memerintahkannya mengimami 
shalat di rumahnya untuk keluarga dan orang yang dirumahnya. Itupun bisa jadi 
perintah itu khusus untuknya, sebab tidak disyariatkan adzan dan iqomat pada 
wanita selain beliau, sehingga kebolehan mengimami tersebut khusus baginya 
karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam mengkhususkan untuknya adzan dan 
iqamat dan tidak untuk wanita lainnya. [4]

Jadi pernyataan mereka diatas sangat berlebihan, itu semua tidak lain karena 
hadits ini sesuai dengan hawa nafsu dan keinginan mereka, sehingga mereka 
katakan hadits ini lebih shahih daripada hadits pertama tersebut dari sisi 
sanad, apalagi matan.

Setelah itu merekapun mendapatkan adanya ulama yang mendukung pendapat mereka, 
lalu tentu saja mereka langsung memuji-mujinya dengan berlebihan agar tampak 
benar dan kuat argumen mereka, sehingga mereka menyatakan bahwa perlu diingat 
di sini, Ibnu Jarir At Thabari juga seorang mujtahid besar yang kebesarannya 
sama dengan madzhab fikih empat lainnya. Subhanallah satu pujian yang sangat 
tinggi, namun tampaknya ada sesuatu dibalik pujian yang tinggi ini, yaitu agar 
pendapat tersebut juga diakui sebagai pendapat yang kuat. Namun sebenarnya 
pendapat ulama tersebut tertuju pada shalat berjamaah biasa dirumahnya, bukan 
untuk shalat jum'at yang tentunya beda, karena ada khutbah dan bilangan jamaah 
yang banyak.

Jadi walaupun mereka paksakan juga hal ini tetap tidak pas, apalagi bila 
melihat kepada pendapat mayoritas ulama yang melarang dan menyatakan tidak 
sahnya. Namun sayang hawa nafu dan suguhan program persamaan gender membuat 
mereka berusaha mengakal-akali semua ini. Diantaranya tidak membawakan semua 
dalil yang digunakan mayoritas ulama memutuskan larangan tersebut dan hanya 
membawakan salah satunya saja, itupun dipilihkan yang lemah,  lalu serta merta 
menuduh para ulama yang tidak cocok dengan mereka telah menerima sedemikian 
rupa tanpa melakukan analisis kritis terhadap matan atau isi haditsnya. 
Sebagiannya menuduh dengan menyatakan, uniknya, sisi lemah hadits yang 
menyatakan bahwa perempuan tidak boleh menjadi imam itupun tidak kita ketahui. 
Padahal para ulama sejak dulu telah menjelaskannya, diantaranya imam Al 
Baihaqi, Al Nawawi[5] dan Ibnu Hajar[6].

Sebenarnya bila mereka ini melakukan penelitian ilmiyah tentang masalah ini 
dengan hati dan pikiran yang jernih, tentulah akan membawakan dalil-dalil yang 
shahih dan tegas yang digunakan mayoritas ulama dalam memutuskan pelarangan 
ini, sehingga jelas tentunya akan membuat orang yang membaca atau mendengar 
akan memilih pendapat yang melarang dan menyelesihi mereka. Ini tidak mereka 
ingingkan. Tampaknya mereka berharap dengan disebutkan dalil yang lemah 
tersebut (hadits Jabir diatas) akan dapat membuat opini masyarakat tidak 
menyalahkan mereka bahkan mendukung program mereka merusak ajaran Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wassalam dan agama Islam ini.

Oleh sebab itu, untuk menjelaskan permasalahan ini lebih jelas, maka kami 
bawakan dalil-dalil wahyu dan dalil akal serta istimbath (pendalilan) pendapat 
yang melarang wanita menjadi iman laki-laki dalam shalat. Diantara dalil-dalil 
pendapat ini adalah :

1. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam :

"Barang siapa yang mengunjungi satu kaum, maka janganlah ia mengimami mereka 
shalat dan hendaklah seorang laki-laki dari mereka yang mengimami mereka." [7]

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam mengkhususkan 
penyebutan kata 'Laki-laki' dan ini menunjukkan bahwa wanita tidak punya hak 
dalam mengimami kaum laki-laki.

2. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam :

"Hendaklah yang mengimami shalat satu kaum adalah yang paling banyak hafalan Al 
Qur'annya, jika mereka dalam hafalan sama banyaknya, maka dahulukan orang yang 
paling tahu sunnah Rasulullah. Jika mereka juga sama dalam sunnah maka 
dahulukan yang lebih dahulu berhijrah dan bila sama maka dahulukan yang lebih 
dahulu masuk Islam dan janganlah seorang laki-laki mengimami shalat seorang 
laki-laki lainnya di tempat kekuasaannya.[8]

Demikian juga dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam 
mengkhususkan kaum laki-laki ketika berbicara tentang tingkatan hak menjadi 
imam dalam shalat dan tidak sama sekali memberikan bagian untuk kaum wanita 
mengimami laki-laki.

3. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam :

"Tidaklah beruntung satu kaum yang mengangkat pemimpinnya seorang wanita."[9]

Bila seorang wanita diangkat menjadi imam shalat, itu sama saja menyerahkan 
kepemimpinan kepadanya, padahal perkara shalat termasuk perkara agama yang 
terpenting, kalau tidak yang paling penting setelah syahadatain. Oleh Karena 
itu RasulullahShallallahu'alaihi Wasallam sendiri mengambil kepemimpinan sholat 
karena pentingnya masalah ini, kemudian menunjuk Abu Bakr menggantikannya 
ketika beliau sakit keras. Dengan demikian tidak boleh seorang wanita menjadi 
imam shalat jamaah laki-laki karena keumuman hadits diatas.

4. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam :

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda: Sebaik-baiknya barisan kaum 
laki-laki adalah yang terdepan dan yang terjelek adalah yang paling akhir 
sedangkan sebaik-baiknya shof (baridan) wanita adalah yang paling akhir dan 
yang terjelek adalah yang terdepan." [10]

Hadits ini menunjukkan bahwa wanita tempatnya dibelakang shaf (barisan) 
laki-laki, sedangkan imam harus berada didepan semua barisan. Seandainya kita 
menganggap benarnya pendapat yang mengabsahkan keimaman mereka dalam shalat, 
tentulah kita harus membaliknya menjadikannya didepan barisan kaum laki-laki 
dan ini jelas-jelas menyelisihi syari'at Islam.[11]

5. Imam Al Bukhari meriwayatkan bahwa:

"Dzakwan pernah mengimami A'isyah  dengan membaca mushhaf."[12]

A'isyah jelas lebih utama dan lebih faqieh serta lebih hafal Al Qur'an, namun 
mendahulukan Dzakwan yang membaca mushhaf ketika menjadi imam. Tentunya hal ini 
menunjukkan ketidak bolehan wanita menjadi imam kaum laki-laki dalam shalat.

6. Wanita tidak beradzan untuk laki-laki sehingga juga tidak berhak menjadi 
imam.[13]

7. Para wanita yang dibina dan berada dalam naungan Nabi Shallallahu'alaihi 
Wasallam di rumahnya tidak pernah dinukilkan ada yang mengimami laki-laki 
walaupun untuk para mahramnya.

8. Tugas imam dalam shalat termasuk wewenang penting yang tidak boleh 
dilalaikan karena memiliki hubungan erat sekali dengan keabsahan shalat yang 
merupakan tanda kebaikan umat dan wanita tentunya tidak memegangnya sebab 
mereka itu kurang agama dan akalnya, sebagaimana dinyatakan Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wassalam .

9. Wanita yang menjadi imam mesti akan bolos tidak shalat setiap bulannya 
karena haidh atau nifas, sehingga akan menelantarkan jamaah yang ada.

10. Kelemahan hadits Ummu Waraqah dan tidak pernah dinukil adanya seorang 
wanita yang menjadi imam shalat jum'at di zaman terdahulu. Ini menunjukkan 
bahwa ini perkara baru dalam agama. Padahal kata Rasulullah shallallahu 'alaihi 
wassalam , " Berhati-hatilah dari perkara baru dalam agama, karena setiap 
perkara baru adalah bid'ah."

Kesimpulannya :

Apa yang dilakukan wanita Amerika tersebut jelas menyelisihi syariat dan upaya 
JIL (baca= Jaringan Iblis Liberal) mendukung dan mencoba memasyarakatkannya 
merupakan upaya menghancurkan syariat Islam dan mengkaburkannya, oleh sebab itu 
menjadi kewajiban kita semua untuk menjelaskan kepada masyarakat kesesatan 
pendapat ini.

Demikian sekilas ulasan tentang masalah ini, mudah-mudahan yang sedikit ini 
dapat membuka cakrawala berpikir kaum muslimin dan dapat bermanfaat bagi kita 
semua. Amien.

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Artikel UstadzKholid.com


--------------------------------------------------------------------------------
[1] Lihat Jawa Post hari Minggu 20 Maret 2005 M 

[2] Lihat Sunan Abu Daud Kitab Al Shalat Bab Imamat Al Nisaa' hadits no. 577 
dan 578.

[3] Lihat selengkapnya wawancara Ulil Abshor Abdalla dari KIUK dengan KH. 
Husein Muhammad dalam Jawa post, Jum'at 01 April 2005 M.

[4] Lihat  Al Mughnie karya Ibnu Qudamah, tahqiq Abdullah bin Abdulmuhsin 
AlTurki dan Abdulfatah Al Halwu, cetakan kedua tahun 1412, penerbit Hajar, 
Kairo, Mesir hal. 3/ 34.

[5]Lihat Al Majmu' Syarhu Al Muhadzdzab 4/255

[6] Lihat Al Talkhish Al Habier 2/22

[7] HR. Abu Daud kitab Shalat Bab Imamat Al Zaa'ir no. 596 dan At Tirmidzi 
dalam kitab As Shalat bab Ma Jaa'a Fiman Zaara Qauman Laa Yusholli Bihim no. 
356. hadits ini dishahihkan Al Albani dalam Shohih Al Tirmidzi

[8] HR. Muslim, Kitab Al Masaajid, Bab Man Ahaqqa Bil Imamah 5/172 dengan Al 
Minhaj Syarh Shalih Muslim bin Al Hajjaj.

[9] HR. Al Bukhari, Kitab Al Maghozi, Bab Kitab Al Nabi Ila Kisra wa Qaishar 
no. 4425

[10]. HR. Muslim 326/1 dan Abu Dawud 678 dan At-Turmudzi 437/1 dan Ibnu Majah 
319/1 dan An-Nasai 93/2 dan Ahmad 485 : 247/2.

[11] Lihat Syarhu Al Mumti' 'Ala Zaad Al Mustaqni', Muhammad bin Sholih Al 
Utsaimin, tahqiq Kholid bin Ali AL Musyaiqih, cetakan kedua tahun 1416 H 
penerbit Muassasah Aasaan , KSA. Hal. 4/313.

[12] Lihat Shahih Al Bukhari, kitab Al Shalat, Bab Imamatul 'Abdi wal Wali Wal 
Maula.

[13] Al Mughni hal. 3/33.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke