Siapa Pendusta Agama

Rabu, 24 Maret 2010, 17:59 WIB
      


Oleh Anang Rikza Masyhadi



"Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Yaitu, orang yang menghardik
anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka,
celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap
shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan." (QS Almaun
[107]: 1-7)

Dalam surah tersebut, Allah SWT demikian lugas mengaitkan agama dengan
keberpihakan kepada kaum dhuafa. Seseorang dikategorikan telah berdusta atau
berkhianat kepada agamanya manakala ia mengabaikan anak yatim dan orang
miskin. 

Surah Almaun diawali dengan pertanyaan, "Tahukah kamu orang yang mendustakan
agama?" Menurut banyak ahli tafsir, hal itu dimaksudkan untuk menggugah hati
pendengarnya agar memberikan perhatian lebih kepada apa yang selanjutnya
akan ditunjukkan pada ayat-ayat berikutnya.

Anak yatim dan orang miskin adalah dua kelompok yang paling rentan di
masyarakat. Mereka digolongkan orang-orang yang lemah. Itulah mengapa Islam
mewajibkan kita menolong mereka. Islam mendorong umatnya agar dalam beragama
tidak selalu mementingkan aspek ibadah mahdhoh yang bersifat vertikal saja.

Islam juga menganjurkan ibadah sosial, seperti memerhatikan nasib
orang-orang lemah. Jadi, surah Almaun seolah ingin menegaskan bahwa pendusta
agama bukan hanya orang yang mengaku Muslim, tetapi tidak mau shalat. Lebih
dari itu, orang yang mengaku Muslim, tetapi tidak punya kepekaan sosial dan
tidak peduli pada lingkungan sekitar.

Ayat selanjutnya bertutur tentang orang-orang yang lalai dalam shalatnya dan
riya. Lalai dalam shalat berarti bahwa orang itu fisiknya shalat; tetapi
hati, jiwa, dan perilakunya tidak ikut shalat. Yaitu, yang shalatnya tidak
berdampak pada perilaku sosialnya sehari-hari. Dalam shalat, banyak hikmah
yang terkandung. Ada yang berpendapat, ketika shalat dibuka dengan
takbiratulihram, itu berarti kita menyapa Allah. Kemudian, diakhiri dengan
salam, yang artinya menyapa manusia.

Menengok ke kanan dan kiri sebagai tanda akhir shalat menunjukkan bahwa kita
peduli pada kondisi lingkungan sekitar atau tetangga di kanan dan kiri.
Dengan demikian, salah satu pesan fundamental shalat adalah kepedulian pada
orang lain. 

Kisah berikut menarik untuk disimak. KH Ahmad Dahlan, konon pada tahun
1912-an, mengajarkan santri-santrinya surah Almaun selama beberapa bulan.
Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab bahwa selama mereka belum ada yang
melaksanakannya, ia tetap akan mengajari Almaun itu. Baru, setelah diketahui
ada salah seorang santrinya yang memelihara anak yatim di rumahnya, beliau
melanjutkan pelajaran ke surah-surah lainnya.

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/03/24/107987-
siapa-pendusta-agama



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke