BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
498 Empat Issue Miring tentang Thaliban

Demi keotentikan, sebagai pertanggung-jawaban kepada Allah SWT, dalam kolom ini 
setiap ayat Al Quran ditransliterasikan huruf demi huruf. Bila pembaca merasa 
"terusik" dengan transliterasi ini, tolong dilampaui, langsung ke cara 
membacanya saja.

Firman Allah SWT: 
-- YAYHA ALDZYN AMNWA AN JA^KM FASQ BNBA FTBYNWA AN TSHYBWA QWMA BJHALT 
FTSHBHWA 'ALY MA F'ALTM NADMYN (S. ALHJRAT,  6),  dibaca: ya-ayyuhal ladzi-na 
a-manu- in ja-kum fa-siqum   binabain fatabayyanu-  an tushi-bu qawman 
bijaha-latin  fatushbihu- 'ala- ma- fa'altum na-dimi-n (s. al hujura-t), 
artinya: 
-- Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang-orang fasiq dengan  
berita, maka  lakukanlah klarifikasi, jangan sampai kamu tanpa pengetahuan 
menimpakan musibah  kepada suatu kaum, lalu kamu menyesal atas perbuatanmu 
(49:6).

The following is the edited version of the transcription of a lecture given by 
Sayyid Rahmatullah Hashemi, the roving Ambassador from Afghanistan who visited 
the US, at the University Of Southern California in Los Angeles, on March 10, 
2001.
I was just coming from a meeting with a group of scholars, and the first thing 
we started talking about there was the statues. And the first thing we started 
talking about here was also the statues. It is very unfortunate how little they 
see and how little they know. Nobody has seen the problems of Afghanistan; 
nobody saw their problems before. And the only thing that represents 
Afghanistan today is the statues. 
Saya baru saja berbincang dengan sekelompok ilmuwan, dan kami memulai 
pembicaraan di sana dengan perkara patung-patung (Buddha yang dimusnahkan). Dan 
di sini (di Universitas Southern California) juga kita memulai pembicaraan 
lagi-lagi dengan patung-patung. Sangat disesalkan karena begitu sedikit yang 
mereka lihat dan mereka ketahui (mengenai Afghanistan). Tidak seorang (dari 
ilmuwan tersebut) yang melihat dan mengetahui akan bermacam masalah yang 
dihadapi oleh Afghanistan sebelumnya. Dan hanya tentang patung-patung tersebut 
saja yang mereka ketahui mengenai Afghanistan.

Untuk selanjutnya hanya terjemahannya saja dari ceramah itu, itupun, karena 
panjang, hanya yang relevan dengan keempat issue itu yang akan dikemukakan 
dalam terjemahan tersebut. 

Russia dengan tentara sebanyak 140,000 anggota telah menyerang Afghanistan pada 
bulan Desember 1979, membunuh 1.5 juta rakyat Afghanistan, melumpuhkan sejuta  
orang, dan 6 juta dari 18 juta rakyat Afganistan telah melarikan diri  dari 
kekejaman Russia dan menjadi pengungsi dinegara-negara lain. Setelah Rusia 
dikalahkan, kelompok-kelompok Mujahidin ini tidak bersatu dibawah satu 
pemerintahan tetapi telah bersengketa sesama mereka sendiri di Afghanistan. 
Akibat dari pertempuran sesama sendiri ini lebih buruk lagi perang semasa 
penjajahan Russia. Sebanyak 63,000 orang telah terbunuh di Kabul. Sebanyak  
sejuta rakyat lagi menjadi pengungsi, melarikan diri dari situasi huruhara 
tersebut ke negara-negara lain. (Alhasil issue tentang pengungsi Afghanistan 
telah terklarifikasi, yaitu  melarikan diri  dari kekejaman Rusia dan akibat 
dari huru-hara yang ditimbulkan oleh pertempuran kelompok-kelompok Mujahidin 
yang lebih buruk dari perang melawan Rusia). 

Thaliban mulai ada sebagai sebuah gerakan ketika seorang "warlord" (ketua 
kelompok bersenjata - bandit) telah menculik dan memperkosa dua anak perempuan. 
Ibu bapak  kedua anak perempuan tersebut telah pergi ke sebuah`pondok 
pesantren' dan  meminta guru di sekolah tersebut menolong mereka. Guru tersebut 
bersama-sama 53 orang murid beliau, dengan bersenjatakan hanya 16 pucuk, pergi 
menyerang pangkalan bandit tersebut. Setelah membebaskan kedua kanak-kanak 
perempuan  yang diculik itu, mereka menggantung mati sang pimpinan, juga 
beserta beberapa orang anak buahnya. "Kekejaman" Thaliban menggantung warlord 
dan para penjahat juga telah terklarifikasi.

Kisah ini tersebar luas. BBC juga telah melaporkannya. Mendengar kisah ini, 
maka banyak pelajar ikut  bergabung dengan gerakan (Thaliban) tersebut, dan 
mereka mulai bertindak dengan merampas senjata-senjata dari semua bandit tsb. 
Gerakan pelajar ini kini menguasai 95% Afghanistan termasuk ibu kota Kabul. 
Hanya segelintir dari para bandit itu yang terus merajalela di bagian utara 
Afghanistan (mereka ini adalah Aliansi Utara). 

Kami memusnahkan sebanyak 75% tanaman opium dunia. Sebelum kami 
menghapuskannya, 75% pasok opium dunia dihasilkan di Afghanistan. Pada tahun 
lalu kami mengeluarkan perintah mengharamkan penanaman opium, dan pada tahun 
ini 2001, ketua Program Pengawasan Opium PBB di bawah naungan UNDCP, Mr.  
Barnard F.  mengatakankan Afghanistan  bebas sepenuhnya dari tanaman opium -- 
0% of opium cultivation. Zero, zilch, kosong -- langsung tak ada lagi. 
(According to opioids.com, by February 2001, production had been reduced from 
12,600 acres (51 kmĀ²) to only 17 acres).(*) Sayangnya sebanyak 700 pakar UNDCP 
yang memantau tanaman opium telah kehilangan pekerjaan. Pakar-pakar PBB itu 
tidak menyukai bila kami mengeluarkan perintah mengharamkan tanaman opium tsb. 
(Issue tentang opium telah terklarifikasi). Kami minta kesabaran anda para 
pembaca dalam seri berikutnya tentang klarifikasi mengenai issue kaum perempuan 
dan penghancuran patung-patung Budha. WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 4 November 2001
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2001/11/498-empat-issue-miring-tentang-thaliban.html
----------------------------
(*)
Update:
When the Taliban entered north Waziristan in 2003 they immediately banned poppy 
cultivation and punished those who sold it. However, when US/Northern Alliance 
expulsion of the Taliban, opium cultivation has increased in the southern 
provinces liberated from the Taliban control, and by 2005 production was 87% of 
the world's opium supply, rising to 90% in 2006.


#######################################################################################

----- Original Message ----- 
From: "abdul" <latifabdul...@yahoo.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Thursday, April 01, 2010 18:26
Subject: [wanita-muslimah] Bukankah Ini kutukan dari ALLAH.....Amerika hanya 
sebagai tangan2 dari ALLAH.

Bismilahirrahmanirrahiim.
Kalau kita baca Media cetak, mereka sangat keras untuk membela dan menegakan 
Syariat Islam. Wanita2 dipaksa berpakaian Jilbab dan laki laki dipaksa 
berjabang dan berjenggot serta berpakaian sunnah Rasul.

Namun ternyata; "90 percent of the world's heroin." datang dari daerah2 taliban 
Afganistan. Nauzubillah.

Penderitaan2 yang di alami oleh Rakyat taliban kususnya Afganistan umumnya, 
adalah kutukan2 dari ALLAH.

Sesungguhnya ALLAH tidak menganiaya hamba2Nya, tapi mereka sendirilah yang 
menganiaya dirinya.

Mereka sudah tahu bahwa Heroin itu adalah barang terlarang, namun karena 
pengaruh setan untuk mendapatan uang dan nafkah, mereka menanam dan menjual kpd 
masarakat...

Semoga ALLAH mmeberikan petunjuk2 kpd ulama2 yangmengaku penegak agama islam.

salam=peace

====================================================================

KABUL - Opium seizures in Afghanistan soared 924 percent last year because of 
better cooperation between Afghan and international forces, the top U.S. drug 
enforcement official said Thursday.

The Taliban largely funds the insurgency by profits from the opium trade, 
making it a growing target of U.S. and Afghan anti-insurgency operations. 
Afghanistan produces the raw opium used to make 90 percent of the world's 
heroin.

The U.S. Drug Enforcement Administration now has 96 agents in the country who 
joined with Afghan counterparts and NATO forces in more than 80 combined 
operations last year, acting DEA administrator Michelle Leonhart said at a news 
conference in Kabul.

"That is the success of bringing the elements, civil, military Afghan partners 
together," Leonhart said.

Leonhart did not give figures for total amounts of drugs seized but said the 
increase was 924 percent between 2008 and 2009. International groups estimate 
that only about 2 percent of Afghanistan's drug production was blocked from 
leaving the country in 2008 for markets in Central Asia and Europe.

Leonhart said eradication efforts had already scored some success in the south, 
with opium cultivation down more than 30 percent in Helmand province that is 
responsible for half of Afghanistan's total production.

She said the DEA was working with U.S. forces moving into the Taliban 
heartland, including "significant operations" in Helmand.

"There is a very good plan put together to have very robust interdiction 
operations going forward there, eventually moving that to other provinces in 
the south," Leonhart said.

Such operations place the Afghan government and its foreign allies in a bind 
because eradicating poppy fields risks driving angry farmers, for whom opium 
poppy is a cheap, hardy, low-risk crop, into the arms of the insurgents because 
they fear loss of their livelihood.

Efforts to replace opium with other crops such as wheat and vegetables haven't 
scored wide success because profits for the farmers are much lower than for 
poppies.

Leonhart gave no details of the strategy for the south, but stressed that the 
focus was not on farmers but on seizing drugs and weapons, arresting 
traffickers, and tracing the profits of the trade.

"Because the money is what fuels the insurgency," Leonhart said.

In a sign that traffickers are striking back against such efforts, 13 people 
were killed Wednesday when a bomb concealed on a bicycle exploded near a crowd 
gathered to receive free vegetable seeds provided by the British government as 
part of a program to encourage them not to plant opium poppy.

No one claimed responsibility for the attack, although the acting provincial 
head of agriculture, Ghulam Sahki, said the blast could have been the work of 
drug dealers trying to stop the alternative crop program.

A recent NATO operation in the Helmand town of Marjah struck at the heart of 
the Taliban opium business. While troops discovered acres (hectares) of poppy 
fields and numerous opium packing operations, farmers were left alone.

NATO, U.S. and Afghan forces took control of Marjah in a three-week offensive 
in February and early March but face a fearful and mistrustful population as 
they work to set up a functioning government.

Also Thursday, an Indian diplomat said India was suspending teaching and aid 
operations in Kabul following a February bomb attack that killed six Indian 
staff.

Those operations should be restored in two or three months and similar Indian 
aid efforts in four other Afghan cities remained up and running, said J.P. 
Singh, spokesman for the Indian Embassy in Kabul.

The Taliban have long opposed India's involvement in Afghanistan because of its 
ties to the Afghan group that helped the U.S. oust the Islamist regime in late 
2001.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke