27 November 1999, tepat terik matahari di ubun-ubun,  bertempat di lapangan 
volli Desa Mata Ie, Blang Pidie Aceh Selatan, seorang pemuda yang berumur 25 
tahun bernama Zulkarnaen alias Ogut, menjalani hukuman cambuk 100 kali, yang 
diputuskan oleh Qadhi dalam sidang pengadilan yang dihadiri oleh para ulama dan 
pemuka masyarakat. Ogut terbukti telah melakukan pidana perzinaan dengan 
Kurniawati di Desa Mata Ie, dikuatkan oleh pengakuan kedua anak Adam itu, 
disaksikan oleh 4 orang dan bukti material Kurniawati telah mengandung 4 bulan. 
Dengan "Basmalah" dan ucapan "Allahu Akbar", 10 orang eksekutor masing-masing 
melecutkan cemeti sebesar ibu jari, dengan lengan tetap merapat diketiak 
sewaktu mengayunkan cambuk  ke tubuh Ogut mulai dari bahu sampai ke kaki. 
Eksekusi itu dilaksanakan secara terbuka di depan masyarakat Desa Mata Ie. Akan 
halnya dengan Kurniawati eksekusi ditunda berhubung telah hamil 4 bulan, yakni 
eksekusi baru akan dilaksanakan insya-Allah hingga bayinya yang akan lahir 
kelak berumur 2 tahun.   
Firman Allah SWT: ALZANYT WALZANY FAJLDWA KL WAHD MNHMA m...@t JLDT (S. ALNWR, 
2), dibaca: Azza-niyatu wazza-ni- fajlidu- kullu wa-hidim minhuma- miata jaldah 
(s. Annu-r), artinya: Pezina perempuan dan pezina laki-laki setiap orang dari 
keduanya mendapatkan dera seratus cambukan (24:2).  Sanksi dera 100 kali 
cambukan itu bagi ghayru muhsan (belum nikah). Sedangkan bagi pezina yang 
muhsan (sudah nikah), mendapatkan sanksi dirajam sampai mati sesuai dengan 
Hadits yang disepakati atasnya (muttafaqun 'alaih), tentang orang Arab 
pegunungan yang melaporkan kepada Nabi Muhammad saw berkaitan anak laki-lakinya 
yang masih lajang berzina dengan istri majikan anaknya. Nabi Muhammad SAW 
memberikan sanksi atas anak laki-laki pelapor itu didera 100 kali cambukan dan 
diasingkan selama setahun. Sedangkan istri majikan anaknya tersebut dirajam 
sampai mati.

***
 Demikianlah sejak tahun 1999 secara de fakto penerapan hukum menurut Syari'at 
Islam telah diberlakukan di Aceh, seperti eksekusi atas Ogut di Desa Mata Ie 
tersebut. Dan alhamduliLlah de fakto tersebut telah menjadi de jure, yaitu RUU 
Nanggroe Aceh Darusslam (NAD) telah disahkan menjadi UU NAD oleh DPR-RI dalam 
Sidang Paripurna yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR-RI Soetardjo Surjoguritno, 
pada hari Kamis, 19 Juli 2001.

======================================

dicambuk dengan bilah bambu

Melindungi Keluarga dengan Self Help

Kerisauan kini tak lagi hinggap di benak Usman. Warga Desa Padang, Kecamatan 
Gantarang,  Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, ini merasa keluarganya aman 
dan terlindungi. Ini semenjak pemberlakuan beberapa Peraturan Daerah (Perda) 
bernuansa Syari'at Islam, antara lainPerda Nomor 03 Tahun 2002 tentang Larangan 
Penjualan dan Penertiban Minuman Keras. "Dulu banyak anak perempuan yang 
diganggu pemuda-pemuda desa yang nongkrong sambil mabuk-mabukan," kata bapak 
berusia 41 tahun itu. Maklum, dua anak gadis Usman tengah beranjak dewasa.

Kini Usman tak lagi melihat pemuda nakal. Para berandal desa agaknya keder 
dengan sanksi  dari perda itu. Yakni ancaman dicambuk dengan bilah bambu 
sebanyak 40 kali bila tertangkap mabuk. Selain itu, ada pula hukuman berupa 
sanksi moral. "Kalau ada yang kena hukuman, semua warga desa tahu. Jadi, mereka 
yang mau berbuat jahat malu rasanya," ujarnya.

Penerapan aturan semacam ini tidak dipermasalahkan warga desa. Maklum, kini 
mereka merasa  lebih aman dan terlindungi. Polisi pun tak perlu repot membasmi 
penyakit masyarakat yang sebenarnya bisa diselesaikan sendiri oleh  masyarakat 
(self help). "Kini tidak ada lagi yang berani terbuat jahat di desa kami. Hidup 
kami pun tenteram," tuturnya.

Salam
HMNA



----- Original Message ----- 
From: "sunny" <am...@tele2.se>
To: <Undisclosed-Recipient:;>
Sent: Friday, April 09, 2010 06:21
Subject: [wanita-muslimah] Pasangan berzina diarak bogel keliling kampung

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=0409&pub=Utusan_Malaysia&sec=Luar_Negara&pg=lu_06.htm

Pasangan berzina diarak bogel keliling kampung

BANDA ACEH 8 April - Seorang guru bersama kekasihnya yang merupakan isteri 
orang, diarak bogel mengelilingi kampung mereka setelah didapati berzina 
sebelum dipukul oleh penduduk dan kini berdepan dengan hukuman sebat di 
khalayak umum.

Guru itu yang hanya dikenali sebagai Bus, berusia 36 tahun ditangkap semasa 
mengadakan hubungan seks dengan seorang suri rumah Yus, 28, di Aceh oleh 
penduduk kampung.

"Penduduk kampung menyerbu rumah wanita itu dan mendapati mereka sedang 
berdua-duaan,'' kata pegawai penguatkuasa Syariah Aceh Barat, Teuku Abdurrazak.

"Mereka kemudiannya ditarik keluar dan diarak berbogel keliling kampung, diikat 
di sebatang tiang dan dipukul menggunakan kayu serta tangan mereka sehingga 
menjadi hitam dan biru.

"Penduduk kampung sangat marah... jika polis lambat tiba di tempat kejadian, 
pasangan itu mungkin mati,'' kata Abdurrazak.

Menurutnya lagi, pasangan itu kini berhadapan hukuman sembilan sebatan jika 
didapati bersalah berzina.

Aceh melaksanakan sebahagian undang-undang Syariah pada 2001 sebagai sebahagian 
daripada pakej autonomi dari Jakarta bertujuan untuk menghapuskan sentimen puak 
pemisah. - AFP

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke