Rabu, 21/04/2010 08:08 WIB

Kartini Bukan Pejuang Emansipasi


Andi Perdana G - suaraPembaca

http://us.suarapembaca.detik.com/read/2010/04/21/080801/1342265/471/kartini-
bukan-pejuang-emansipasi?882205470


Jakarta - Tangal 21 April bagi wanita Indonesia adalah hari yang khusus
untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Tapi, sayangnya peringatan
tersebut sarat dengan simbol-simbol yang berlawanan dengan nilai yang
diperjuangkan Kartini (misalnya, penampilan perempuan berkebaya atau
bersanggul, lomba masak, dan sebagainya yang merupakan simbol domestikisasi
perempuan). 

Suara emansipasi pun terasa lebih kuat pada bulan April karena Kartini
dianggap sebagai pahlawan emansipasi wanita. Terlepas dari keterlibatan RA
Kartini sebagai pejuang dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia emansipasi
sebenarnya diilhami dari gerakan feminisme di Barat. Pada abad ke-19 muncul
benih-benih yang dikenal dengan feminisme yang kemudian terhimpun dalam
wadah Women's Liberation (Gerakan Pembebasan Wanita). Gerakan yang berpusat
di Amerika Serikat ini berupaya memperoleh kesamaan hak serta menghendaki
adanya kemandirian dan kebebasan bagi perempuan.

Pada tahun 1960 isu feminisme berkembang di AS. Tujuannya adalah menyadarkan
kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestik (rumah tangga)
merupakan hal yang tidak produktif. Kemunculan isu ini karena diilhami oleh
buku karya Betty Freidan berjudul The Feminine Mystique (1963). Freidan
mengatakan bahwa peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga adalah
faktor utama penyebab wanita tidak berkembang kepribadiannya. Ide virus
peradaban ini kemudian terus menginfeksi tubuh masyarakat dan 'getol'
diperjuangkan oleh orang-orang feminis.

Dalam perjuangannya orang-orang feminis seringkali menuduh Islam sebagai
penghambat tercapainya kesetaraan dan kemajuan kaum perempuan. Hal ini
dilakukan baik secara terang-terangan maupun 'malu-malu'. Tuduhan-tuduhan
'miring' yang sering dilontarkan antara lain peran domestik perempuan yang
menempatkan perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dianggap sebagai
peran rendahan. Busana muslimah yang seharusnya digunakan untuk menutup
aurat dengan memakai jilbab (QS Al-Ahzab: 59) dan kerudung (QS An-Nur: 31)
dianggap mengungkung kebebasan berekspresi kaum perempuan.

Lalu benarkah RA Kartini dalam sejarahnya merupakan pahlawan emansipasi
sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis?

Andai Kartini Masih Hidup
Dalam buku Kartini yang fenomenal berjudul Door Duisternis Tot Licht atau
Habis Gelap Terbitlah Terang, RA Kartini saat itu menuliskan kegelisahan
hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa.
Tujuan utama beliau menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama
dengan laki-laki. Tidak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang
mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.

Kartini memiliki cita-cita yang luhur pada saat itu yaitu mengubah
masyarakat. Khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan.
Juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham
materialisme untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan
mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya.
Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya
pada 4 oktober 1902 yang isinya,

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak
perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan
itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami
yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih
cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang
pertama-tama."

Menurut Kartini ilmu yang diperoleh para wanita melalui pendidikan ini
sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas.
Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat
berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang
berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.

Dalam buku tersebut Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat
yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga
tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul
keturunannya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan
liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun,
setelah sedikit mengenal Islam. Pemikiran Kartini pun berubah, yakni ingin
menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Kita dapat menyimak
pada komentar kartini ketika bertanya pada gurunya, Kyai Sholeh bin Umar,
seorang ulama besar dari Darat Semarang, sebagai berikut:

"Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan
arti surat pertama dan induk Al Quran yang isinya begitu indah menggetarkan
sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun, aku
heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras
penerjemahan dan penafsiran Al Quran dalam Bahasa Jawa? Bukankah Al Quran
itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?".

Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny Van Kol, 21 Juli 1902 yang
isinya memuat, "Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat
agama lain memandang agama Islam patut disukai."

Selain itu Kartini mengkritik peradaban masyarakat Eropa dan menyebutnya
sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban. Bahkan ia
sangat membenci Barat. Hal ini diindikasikan dari surat Kartini kepada
Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, "Sudah lewat masamu,
tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya
yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap
masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik
sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama
sekali tidak patut disebut peradaban?"

Selanjutnya di tahun-tahun terakhir sebelum wafat ia menemukan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba
mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Pada saat Kartini mempelajari
Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi Al Quran melalui
terjemahan bahasa Jawa, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang
artinya), " ... mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya
(iman) (QS Al Baqarah [2]: 257)," yang diistilahkan Armyn Pane dalam
tulisannya dengan, "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang
teguh ajaran agamanya dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan
perempuan dari fitrahnya. Beberapa surat Kartini di atas setidaknya
menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan
pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya. Di antaranya menuntut
pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan
kewajibannya dalam Islam. Bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi)
antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide
feminis. 

Kini jelas apa yang diperjuangkan aktivis jender dengan mendorong perempuan
meraih kebebasan dan meninggalkan rumah tangganya bukanlah perjuangan
Kartini. Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan
mereka. Kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan,
keadilan, dan kesetaraan jender.

Refleksi perjuangan Kartini saat ini sangat disayangkan karena banyak
disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia dan telah dimanfaatkan oleh
pejuang-pejuang feminisme untuk menipu para wanita. Agar mereka beranggapan
bahwa perjuangan feminisme memiliki akar di negerinya sendiri yaitu
perjuangan Kartini. Mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal
yang kadangkala sampai di luar batas kodrat sebagai wanita.

Tanpa disadari wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan
feminisme dengan membawa ide-ide sistem kapitalisme yang pada akhirnya
merendahkan, menghinakan derajat wanita itu sendiri. Sebagai contoh tidak
sedikit perempuan lebih rela meninggalkan suami dan anaknya untuk menjadi
TKW, misalnya, meskipun nyawa taruhannya. Ribuan kasus kekerasan terhadap
mereka terjadi.

Mereka disiksa oleh majikan hingga pulang dalam keadaan cacat badan. Bahkan,
di antaranya ada yang akhirnya menemui ajal di negeri orang. Sebagaimana
yang dialami derita seorang TKW asal Palu, Susanti (24 tahun), yang kini tak
bisa lagi berjalan karena disiksa majikannya. Sementara itu di Kabupaten
Cianjur Jawa Barat kasus trafficking dan KDRT tercatat 548 kasus. Tidak
sedikit dari mereka menjadi korban dan dipekerjakan sebagai pekerja seks
komersial (PSK).

Fakta-fakta tersebut setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa sistem
kapitalisme telah gagal dalam memuliakan wanita. Karena itu upaya meneladani
perjuangkan Kartini seharusnya bukanlah kembali pada ide-ide feminis dengan
membawa ide kapitalisme yang absurd melainkan kembali pada sistem syariah
Islam yang dalam rentang masa kepemimpinannya selama 13 Abad mampu
memposisikan wanita pada kedudukannya yang teramat mulia. Maka wajar bila
desas desus diskriminasi perempuan ketika diterapkan syariah Islam secara
kaffah tidak pernah terdengar.

Sekarang sudah saatnya baik laki-laki dan perempuan berjuang untuk
menerapkan sistem syariah Islam secara kaffah sebagai wujud ketaqwaan kita
kepada Allah SWT. Karena hanya dengan sistem syariah Islam saja wanita
dimuliakan. Karena itu saatnya habis gelap terbitlah Islam dengan syariah
dan khilafah.

Andi Perdana G 
Pengamat Perikanan Bidang Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakutas
Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Ketua MT Al-Marjan FPIK IPB 2007-2008
email: pangeran.futu...@gmail.com
web: http://almarjan.wordpress.com/



(msh/msh) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke