PERISTIWA TANJUNG PRIOK
Jun 29, '07 10:51 PM
for everyone
Kronologi Peristiwa Tanjung Priok 
Versi Abdul Qadir Djaelani

Abdul Qadir Djaelani adalah salah seorang ulama yang dituduh oleh aparat 
keamanan sebagai salah seorang dalang peristiwa Tanjung Priok. Karenanya, ia 
ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Sebagai seorang ulama dan tokoh 
masyarakat Tanjung Priok, sedikit banyak ia mengetahui kronologi peristiwa 
Tanjung Priok. Berikut adalah petikan kesaksian Abdul Qadir Djaelani terhadap 
peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984, yang tertulis dalam eksepsi 
pembelaannya berjudul "Musuh-musuh Islam Melakukan Ofensif terhadap Umat Islam 
Indonesia".

Sabtu, 8 September 1984
 
Dua orang petugas Koramil (Babinsa) tanpa membuka sepatu, memasuki Mushala 
as-Sa'adah di gang IV Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mereka menyiram 
pengumuman yang tertempel di tembok mushala dengan air got (comberan). 
Pengumuman tadi hanya berupa undangan pengajian remaja Islam (masjid) di Jalan 
Sindang.

Ahad, 9 September 1984

Peristiwa hari Sabtu (8 September 1984) di Mushala as-Sa'adah menjadi 
pembicaran masyarakat tanpa ada usaha dari pihak yang berwajib untuk menawarkan 
penyelesaan kepada jamaah kaum muslimin.

Senin, 10 September 1984
 
Beberapa anggota jamaah Mushala as-Sa'adah berpapasan dengan salah seorang 
petugas Koramil yang mengotori mushala mereka. Terjadilah pertengkaran mulut 
yang akhirnya dilerai oleh dua orang dari jamaah Masjid Baitul Makmur yang 
kebetulan lewat. Usul mereka supaya semua pihak minta penengahan ketua RW, 
diterima.

Sementara usaha penegahan sedang.berlangsung, orang-orang yang tidak 
bertanggung jawab dan tidak ada urusannya dengan permasalahan itu, membakar 
sepeda motor petugas Koramil itu. Kodim, yang diminta bantuan oleh Koramil, 
mengirim sejumlah tentara dan segera melakukan penangkapan. Ikut tertangkap 4 
orang jamaah, di antaranya termasuk Ketua Mushala as-Sa'adah.

Selasa, 11 September 1984

Amir Biki menghubungi pihak-pihak yang berwajib untuk meminta pembebasan empat 
orang jamaah yang ditahan oleh Kodim, yang diyakininya tidak bersalah. Peran 
Amir Biki ini tidak perlu mengherankan, karena sebagai salah seorang pimpinan 
Posko 66, dialah orang yang dipercaya semua pihak yang bersangkutan untuk 
menjadi penengah jika ada masalah antara penguasa (militer) dan masyarakat. 
Usaha Amir Biki untuk meminta keadilan ternyata sia-sia.

Rabu, 12 September 1984
 
Dalam suasana tantangan yang demikian, acara pengajian remaja Islam di Jalan 
Sindang Raya, yang sudah direncanakan jauh sebelum ada peristiwa Mushala 
as-Sa'adah, terus berlangsung juga. Penceramahnya tidak termasuk Amir Biki, 
yang memang bukan mubalig dan memang tidak pernah mau naik mimbar. Akan tetapi, 
dengan latar belakang rangkaian kejadian di hari-hari sebelumnya, jemaah 
pengajian mendesaknya untuk naik mimbar dan memberi petunjuk. Pada kesempatan 
pidato itu, Amir Biki berkata antara lain, "Mari kita buktikan solidaritas 
islamiyah. Kita meminta teman kita yang ditahan di Kodim. Mereka tidak 
bersalah. Kita protes pekerjaan oknum-oknum ABRI yang tidak bertanggung jawab 
itu. Kita berhak membela kebenaran meskipun kita menanggung risiko. Kalau 
mereka tidak dibebaskan maka kita harus memprotesnya." Selanjutnya, Amir Biki 
berkata, "Kita tidak boleh merusak apa pun! Kalau adayang merusak di 
tengah-tengah perjalanan, berarti itu bukan golongan kita (yang dimaksud bukan 
dan jamaah kita)." Pada waktu berangkat jamaah pengajian dibagi dua: sebagian 
menuju Polres dan sebagian menuju Kodim.

Setelah sampai di depan Polres, kira-kia 200 meter jaraknya, di situ sudah 
dihadang oleh pasukan ABRI berpakaian perang dalam posisi pagar betis dengan 
senjata otomatis di tangan. Sesampainya jamaah pengajian ke tempat itu, 
terdengar militer itu berteriak, "Mundur-mundur!" Teriakan "mundur-mundur" itu 
disambut oleh jamaah dengan pekik, "Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Saat itu 
militer mundur dua langkah, lalu memuntahkan senjata-senjata otomatis dengan 
sasaran para jamaah pengajian yang berada di hadapan mereka, selama kurang 
lebih tiga puluh menit. Jamaah pengajian lalu bergelimpangan sambil menjerit 
histeris; beratus-ratus umat Islam jatuh menjadi syuhada. Malahan ada anggota 
militer yang berteriak, "Bangsat! Pelurunya habis. Anjing-anjing ini masih 
banyak!" Lebih sadis lagi, mereka yang belum mati ditendang-tendang dan kalau 
masih bergerak maka ditembak lagi sampai mati.

Tidak lama kemudian datanglah dua buah mobil truk besar beroda sepuluh buah 
dalam kecepatan tinggi yang penuh dengan pasukan. Dari atas mobil truk besar 
itu dimuntahkan peluru-peluru dan senjata-senjata otomatis ke sasaran para 
jamaah yang sedang bertiarap dan bersembunyi di pinggir-pinggir jalan. Lebih 
mengerikan lagi, truk besar tadi berjalan di atas jamaah pengajian yang sedang 
tiarap di jalan raya, melindas mereka yang sudah tertembak atau yang belum 
tertembak, tetapi belum sempat menyingkir dari jalan raya yang dilalui oleh 
mobil truk tersebut. Jeritan dan bunyi tulang yang patah dan remuk digilas 
mobil truk besar terdengarjelas oleh para jamaah umat Islam yang tiarap di 
got-got/selokan-selokan di sisi jalan.

Setelah itu, truk-truk besar itu berhenti dan turunlah militer-militer itu 
untuk mengambil mayat-mayat yang bergelimpangan itu dan melemparkannya ke dalam 
truk, bagaikan melempar karung goni saja. Dua buah mobil truk besar itu penuh 
oleh mayat-mayat atau orang-orang yang terkena tembakan yang tersusun bagaikan 
karung goni.

Sesudah mobil truk besar yang penuh dengan mayat jamaah pengajian itu pergi, 
tidak lama kemudian datanglah mobil-mobil ambulans dan mobil pemadam kebakaran 
yang bertugas menyiram dan membersihkan darah-darah di jalan raya and di 
sisinya, sampai bersih.

Sementara itu, rombongan jamaah pengajian yang menuju Kodim dipimpin langsung 
oleh Amir Biki. Kira-kirajarak 15 meter dari kantor Kodim, jamaah pengajian 
dihadang oleh militer untuk tidak meneruskan perjalanan, dan yang boleh 
meneruskan perjalanan hanya 3 orang pimpinan jamaah pengajian itu, di antaranya 
Amir Biki. Begitu jaraknya kira-kira 7 meter dari kantor Kodim, 3 orang 
pimpinan jamaah pengajian itu diberondong dengan peluru yang keluar dari 
senjata otomatis militer yang menghadangnya. Ketiga orang pimpinan jamaah itu 
jatuh tersungkur menggelepar-gelepar. Melihat kejadian itu, jamaah pengajian 
yang menunggu di belakang sambil duduk, menjadi panik dan mereka berdiri mau 
melarikan diri, tetapi disambut oleh tembakan peluru otomatis. Puluhan orang 
jamaah pengajian jatuh tersungkur menjadi syahid. Menurut ingatan saudara 
Yusron, di saat ia dan mayat-mayat itu dilemparkan ke dalam truk militer yang 
beroda 10 itu, kira-kira 30-40 mayat berada di dalamnya, yang lalu dibawa 
menuju Rumah Sakit Gatot Subroto (dahulu RSPAD).

Sesampainya di rumah sakit, mayat-mayat itu langsung dibawa ke kamar mayat, 
termasuk di dalamnya saudara Yusron. Dalam keadaan bertumpuk-tumpuk dengan 
mayat-mayat itu di kamar mayat, saudara Yusron berteriak-teriak minta tolong. 
Petugas rumah sakit datang dan mengangkat saudara Yusron untuk dipindahkan ke 
tempat lain.

Sebenarnya peristiwa pembantaian jamaah pengajian di Tanjung Priok tidak boleh 
terjadi apabila PanglimaABRI/Panglima Kopkamtib Jenderal LB Moerdani 
benar-benar mau berusaha untuk mencegahnya, apalagi pihak Kopkamtib yang selama 
ini sering sesumbar kepada media massa bahwa pihaknya mampu mendeteksi suatu 
kejadian sedini dan seawal mungkin. Ini karena pada tanggal 11 September 1984, 
sewaktu saya diperiksa oleh Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, saya 
sempat berbincang-bincang dengan Kolonel Polisi Ritonga, Kepala Intel 
Kepolisian tersebut di mana ia menyatakan bahwa jamaah pengajian di Tanjung 
Priok menuntut pembebasan 4 orang rekannya yang ditahan, disebabkan membakar 
motor petugas. Bahkan, menurut petugas-petugas satgas Intel Jaya, di saat saya 
ditangkap tanggal 13 September 1984, menyatakan bahwa pada tanggal 12 September 
1984, kira-kira pukul 10.00 pagi. Amir Biki sempat datang ke kantor Satgas 
Intel Jaya.

Sumber: Buku Tanjung Priok Berdarah, Tanggungjawab Siapa: Kumpulan Fakta dan 
Data, Yogyakarta: Gema Insani Press. 

***

AM Fatwa: Amir Biki Ditembak Aparat 
Thursday, 05 February 2004 06:29 Nasional 

Menurut Wakil Ketua DPR-RI, AM. Fatwa, kematian tokoh Priok Amir Biki ternyata 
karena luka tembakan aparat keamanan dalam peristiwa berdarah Tanjung Priok, 12 
September 1984 Hidayatullah.com--Pernyataan ini disampaikan Wakil Ketua DPR RI, 
AM Fatwa saat menjadi saksi dalam persidangan HAM berat Tanjung Priok di 
Pengadilan Jakarta Pusat, kemarin. 

Persidangan tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim Ad Hoc Citut Sutiarso dengan 
terdakwa Mayjen (purn) Rudolf Adolf Butar-Butar, mantan Dandim 0502/Jakarta 
Pusat. 

Menjawab pertanyaan anggota majelis hakim ad hoc lainnya mengenai penyebab 
tewasnya Amir Biki, Fatwa mengatakan, Amir Biki tewas akibat tertembak timah 
panas. "Namun, waktu itu saya hanya melihat banyak bekas darah di tubuh Amir 
Biki. Karena jenazah almarhum Amir Biki sudah terbungkus kain. Saya tidak 
melihat secara langsung adanya bekas tembakan," kata Fatwa seperti dikutip 
koran Media Indonesia. 

Fatwa menambahkan, jenazah almarhum Amir Biki saat itu tidak dimandikan karena 
atas keyakinan para ulama bahwa kematian almarhum sebagai mati syahid. "Jadi 
bekas darah itu terlihat jelas. Saya melihatnya saat pemakaman almarhum, karena 
saya hadir di lokasi dan memberi sambutan," tegas Fatwa. 

Lebih lanjut, Fatwa mengatakan, berita tertembaknya Amir Biki hingga tewas 
diperolehnya dari ibunda Amir Biki dan masyarakat, serta orang-orang yang 
menyaksikan tertembaknya Amir Biki. "Kalau soal kematian almarhum, saya diberi 
tahu melalui telepon oleh adik kandung Amir Biki, yaitu Faisal Biki yang 
mengatakan bahwa kakakanya telah tiada," kata Fatwa. 

Ketika ditanya majelis hakim bagaimana dirinya bisa mengetahui meledaknya 
peristiwa Tanjung Priok, Fatwa dengan tegas menjelaskan, mengetahui hal itu 
dari telepon. "Setelah itu, saya menelepon Pak Ali Sadikin untuk memberi tahu 
peristiwa Tanjung Priok. Waktu itu saya sebagai Sekretaris Petisi 50, yang 
sering membahas permasalahan aktual seperti masalah politik." 

Somasi 

Usai sidang, Fatwa menyatakan siap jika disomasi oleh pihak yang proislah 
(rujuk) para korban Tanjung Priok. Rencana somasi itu mencuat ke permukaan 
setelah Fatwa menjadi saksi dalam persidangan HAM Tanjung Priok dengan terdakwa 
Pranowo, pekan lalu. Saat itu Fatwa mengatakan bahwa islah yang terjadi antara 
korban Tanjung Priok dengan pihak TNI merupakan rekayasa. 

Menurut Fatwa, dirinya siap melayani somasi dari pihak keluarga korban apabila 
mereka tidak puas dengan pernyataannya. "Silakan, saya siap kok melayaninya," 
jelasnya. 

Fatwa menjelaskan, dirinya tidak melayani secara pribadi atau orang per orang 
dari korban kasus Tanjung Priok. Karena Peristiwa Tanjung Priok ini tidak bisa 
dilihat secara lokal tapi harus secara nasional. "Posisi saya sekarang berada 
untuk mewakili rakyat, tentu saja ada beberapa korban Tanjung Priok yang masih 
berkomunikasi dengan saya tetapi tidak semuanya," katanya. 

Mengenai keterlibatan terdakwa Rudolf Adolf Butar-Butar dalam peristiwa Tanjung 
Priok, menurut Fatwa, Butar-Butar harus bertanggung jawab atas terjadinya 
peristiwa tersebut. "Butar-Butar harus bertanggung jawab karena dia sebagai 
komandan yang memerintahkan anak buahnya untuk menyerang massa." 

Misteri 

Kasus Tanjung Priok hingga kini terus menjadi misteri. Sejumlah saksi 
mengatakan, peristiwa yang sangat melukai perasaan umat Islam itu telah diduga 
menimbulkan sedikitnya 400 korban nyawa. Meski oleh aparat hanya diakui sekitar 
53 orang. 

Kepada detik.com Mayor (Purn) Lasmana Ibrahim, memberikan kesaksian, malam itu, 
Pangkobkabtib di bawah pimpinan Pangab yang saat itu dipimpin LB Moerdani dan 
Pangdam Jaya di bawah Try Sutrisno harus mendatangkan truk-truk militer dan 
sipil serta mobil UPK (Unit Pemadam Kebakaran) untuk membersihakan TKP (Tempat 
Kejadian Peristiwa) akibat ceceran darah korban. mi/cha) 




***

Fyi, di [...@ntau-net] dullatip pakai nama Taufik Malin(g)
Gayung bersambut, kata berjawab. Mulai sekarang, saya bersikap keras, beginilah 
cara saya menyambut gayung, menjawab kata si pungo findamentalist dullatip 
taufik malin(g) yang antek American Zionism, yang suka menjual nama Allah 
sambil mencerca memaki-maki para ulama.
HMNA


----- Original Message ----- 
From: "abdul" <latifabdul...@yahoo.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Sunday, April 25, 2010 07:28
Subject: [wanita-muslimah] Tragedi Berdarah Tanjung Priok dari Prospektive 
lain...apa hikmahnya?


Sangat menyedihkan sekali terjadi pertumpahan darah tentara pemerintah dan 
rakyat tanjung Periok yang pada waktu itu di pimpin oleh seorang ulama2 yang 
berhaluan Keras..fundamentalis fanatik.
 
Seperti saya jeladskan dimana ada golongan2 islam fundamentalis disana terjadi 
==kekerasan ===dan kemiskinan==
#############################################################################
HMNA:
Ou la la, vervelende vent, alle joden, dullatip taufik malin(g) fundamentalist 
JIL antek / budak state terrorist American Zionism, yang doyan jual Nama Allah, 
berdirilah di depan cermin, pandang baik-baik sosok yang waang saksikan, di 
situ terpampang tampang the real koppig fundamenalist yang yang tulisannya 
hasil dorongan SETAN dan tidak pernah kembali kejalan yg lurus, yaitu 
fundamentalist pungo dullatip yang infidel MERUSAK ISLAM DARI DALAM, musang 
berbulu ayam, menentang Allah, menganggap hukum Allah, yaitu sanksi cambukan 
itu primitif dan jahiliyah: Pezina perempuan dan pezina laki-laki setiap orang 
dari keduanya mendapatkan dera seratus cambukan (QS 24:2). dul-dullatip taufik 
malin(g) tukang fitnah, dul-dullatip jabrut lebih keji / kejam dari seorang 
pembunuh.

duldullatip taufik malin(g) jabrut ! Itu berawal dari Proyek LB Moerdani yang 
diajukan kepada Soehato saat itu adalah menciptakan stimulus dan prakondisi 
atas segera diberlakukannya asas tunggal Pancasila yang banyak mendapatkan 
tantangan dan penolakan dari kalangan tokoh Islam.

Pancingan dan pematangan oleh intelejen (BAKIN, BAIS, dan BIA) maupun penguasa 
teritori militer terang-terangan menyulut kemarahan ummat melalui sikap kurang 
ajar dan tak terpuji aparat teritori (angota Babinsa Koramil) yang mengguyurkan 
air comberan dan sengaja masuk ke dalam Mushalla tanpa melepas sepatu laras 
kotornya, di samping mengumbar kalimat jorok dan menantang ummat Islam, yang 
mengakibatkan dibakarnya motor aparat teritori tersebut.

Itulah yang berlanjut memicu terjadinya drama pembantaian ummat Islam di 
Tanjung Priok pada 12 September 1984, yang diawali dengan penangkapan beberapa 
jama'ah mushalla, berlanjut dengan munculnya reaksi tokoh-tokoh PTDI (Perguruan 
Tinggi Dakwah Islam) kemudian disusul Amir Biki tokoh masyarakat Priok 
menggelar tabligh akbar yang panas, namun itulah yang diinginkan oleh rezim 
militer pada saat itu.

Semangat dan pekik takbir ummat Islam berdemo menuntut pembebasan anggota 
jama'ah mushalla yang ditahan aparat. Namun mereka dihadapi dengan peluru tajam 
pasukan tempur dan kekuatan penuh rezim militer, langsung di bawah komando 
Pangdam Jaya Try Soetrisno dan Pangab LB Moerdani. Momentum ini dimanfaatkan 
untuk menciduk dan memenjarakan banyak aktivis Islam melalui penyusupan 
informan dalam rangka inventarisasi jaringan aktivis Islam seluruh Indonesia.

#########################################################################

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke