http://indonesian.irib.ir/index.php/politik/perspektif/21395-syiah-di-arab-saudi-dan-ketertindasan.html

            Tuesday, 04 May 2010 15:13           
     
      Syiah di Arab Saudi dan Ketertindasan
     
      Kelompok minoritas adalah di antara masalah sensitif di dunia. Sangat 
disayangkan, sejumlah negara tidak menjaga hak-hak minoritas agama, dan malah 
mendorong ke arah diskiriminasi. Kondisi Syiah di Arab Saudi dapat disebut 
sebagai contoh jelas pengabaian hak-hak kelompok minoritas. 
      Di Arab Saudi, kelompok Syiah tidak mendapat hak-hak mendasar. Akan 
tetapi pemerintah negara ini tidak melakukan tindakan apapun untuk kelompok 
tertindas di negara ini. Padahal mereka adalah warga negara ini yang semestinya 
mendapatkan hak-hak seperti warga lainnya. 

      Meski jumlah populasi Syiah di Arab Saudi tidak terdata secara detail, 
tapi sekitar 10 hingga 15 persen penduduk negara ini bermadzhab Syiah. Pada 
umumnya, komunitas Syiah di Arab Saudi berada di timur negara ini. Sebagian 
lainnya juga berada di kota suci Madinah.

      Dari sisi sejarah, Syiah di Arab Saudi mempunyai sejarah penjang di 
negara ini dan dunia Arab. Meski sepanjang sejarah, komunitas Syiah hidup di 
bawah pemerintah Sunni, namun mereka biasanya mempunyai posisi terhormat di 
tengah masyarakat. Akan tetapi kondisi ini tidak bertahan lama setelah 
berkuasanya keluarga Arab Saudi di awal abad ke-20. 

      Komunitas Syiah di negara ini ditindas di masa keluarga Saudi. Keluarga 
Saudi berkeyakinan Wahabi. Menurut keyakinan ini, sejumlah ajaran Syiah 
dianggap syirik yang harus ditentang. Yang lebih ekstrim lagi, sejumlah ulama 
Wahabi mengeluarkan fatwa menghalalkan darah Syiah.

      Satu Abad Penindasan Syiah 

      Masa penindasan terhadap kelompok Syiah di Arab Saudi sudah memasuki satu 
abad. Selama itu, kelompok Syiah di negara ini benar-benar dimarginalkan, 
bahkan hak-hak mereka diabaikan. Kondisi itu terus berlanjut hingga kini, 
bahkan kelompok Syiah sekarang ini tidak boleh menggelar shalat jamaah di rumah 
mereka. Seorang tokoh Syiah di Arab Saudi, Hasan Ali Al-Maliki ditangkap karena 
tudingan menggelar shalat jamaah di rumahnya. 

      Ternyata Hasan Ali Al-Maliki bukan orang pertama yang ditangkap karena 
menggelar shalat jamaaah di rumahnya. Sebelumnya, ada beberapa warga Syiah di 
Arab Saudi yang dijebloskan ke penjara dengan tudingan menggelar shalat jamaah 
di rumah mereka.


      Sikap pemerintah Arab Saudi ini tentunya mendapat reaksi keras dari 
berbagai pihak. Direktur Arabic Network for Human Rights, Gamal Eid menilai 
tindakan Arab Saudi yang melarang warga Syiah menggelar shalat jamaah di rumah 
mereka, sebagai sikap rasis dan arogan.

      Hal yang harus menjadi catatan bahwa larangan menggelar shalat jamaah di 
rumah bukan berarti memperbolehkan warga Syiah melakukan shalat di masjid. 
Ibrahim Al-Muqaithib yang juga anggota Organisasi Hak Asasi Manusia di Arab 
Saudi mengatakan, "Warga Syiah di Arab Saudi tidak boleh melakukan shalat di 
masjid dan juga tidak boleh berpartisipasi dalam peringatan-peringatan agama. 
Mereka juga tidak diizinkan untuk mengerjakan shalat di masjid-masjid."

      Hujjatul Islam Mohammad Bagir Al-Naser, imam jamaah di wilayah Khobar, 
mengeluarkan statemen keras mengenai pelarangan pelaksanaan shalat jamaah di 
masjid. Dalam statemen itu, ia menyatakan, "Setelah pemerintah melarang shalat 
jamaah di masjid-masjid, warga Syiah ingin bergabung dengan kelompok Sunni dan 
bersedia menjadi makmum imam masjid setempat. Akan tetapi upaya ini tetap 
dilarang oleh pemerintah Arab Saudi." Bagian lain statemen itu juga 
menambahkan, " Untuk itu, kita baru bisa melakukan shalat jamaah di 
masjid-masjid dengan syarat meninggalkan hukum fikih Syiah."

      Ketika komunitas Syiah tidak diizinkan menggelar shalat jamaah dan acara 
keagamaan di masjid dan rumah-rumah mereka, maka peringatan Asyura atau Hari 
Kesyahidan Cucu Rasulullah Saww, Imam Husein as, juga tidak dapat dilaksanakan 
di negara ini. Padahal acara Asyura mendapat perhatian tersendiri dari kalangan 
Syiah di dunia. Acara semulia peringatan mengenang kesyahidan cucu kesayangan 
Rasulullah Saww pun dilarang di negara ini. Lantaran memperingati kesyahidan 
Imam Husein as, sekitar 30 warga Syiah ditangkap.

      Selain itu, para pejabat Arab Saudi juga berupaya menghalangi warga Syiah 
memiliki tempat untuk menyelenggarakan acara-acara keagamaan. Karena kebijakan 
ini, sejumlah masjid dan huseiniyah ditutup di negara ini. Belum lama ini, 
Menteri Dalam Negeri Arab Saudi, Nayef bin Abdul Aziz mengeluarkan perintah 
menutup sembilan masjid Syiah. Penutupan ini mendorong kelompok Syiah di negara 
ini mengumpulkan tanda tangan yang kemudian dikirimkan ke Raja Abdullah bin 
Abdul Aziz. 

      Dengan pengumpulan tanda tangan itu, komunitas Syiah di Arab Saudi 
meminta Raja Abdul Aziz supaya kembali membuka masjid-masjid Syiah dan menyetop 
larangan bagi warga Syiah untuk beraktivitas. Selain itu, mereka juga meminta 
pembebasan warga Syiah yang ditahan karena menggelar shalat jamaah di rumah 
mereka. Apalagi para tahanan Syiah yang ditahan mempunyai umur di atas 50 
tahun. Sebagian besar pengikut madzhab Ahlul Bait di Arab Saudi dipenjara 
karena masalah agama dan politik.

      Protes dan reaksi atas sikap diskriminasi terus berlanjut, dan Komite 
Kebebasan Beragama di AS akhirnya melayangkan surat protes terhadap pemerintah 
Arab Saudi. Komite itu juga meminta pembebasan terhadap tahanan terlama di Arab 
Saudi yang bernama Hadi Al-Mathif.

      Larangan Bekerja di Instansi

      Tak diragukan lagi, selama diskriminasi terhadap warga Syiah terus 
berlanjut, pemerintah Arab Saudi tidak akan mengizinkan warga Syiah terlibat 
aktif dalam kegiatan sosial dan politik di negara ini. Warga Syiah di negara 
ini tidak boleh bekerja di instansi resmi pemerintah seperti militer dan 
kepolisian. Dengan demikian, warga Syiah tidak akan mendapatkan posisi penting 
di negara ini. 

      Selain itu, kondisi warga Syiah terus menghadapi penghinaan, bahkan 
anak-anak Syiah mendapat cemoooh di lingkungan-lingkungan pendidikan dan 
akademi. Yang lebih ekstrim lagi, buku-buku pendidikan di negara ini sarat 
dengan doktrinasi anti-Syiah. Para guru Syiah juga tidak berhak menonjolkan 
keyakinan mereka. Jika tetap membangkang, mereka akan dijebloskan ke penjara. 
Para ulama Syiah juga dilarang menyampaikan ajaran-ajaran Ahlul Bait kepada 
para pengikut madzhab ini. Kondisi Syiah benar-benar terisolir di Arab Saudi.

      Berbagai penghinaan anti-Syiah juga mewarnai kampus-kampus di negara ini. 
Mahasiswa yang ketahuan bermadzhab Syiah akan mendapatkan kendala serius untuk 
mendapat prestasi. Sementara itu, mahasiswa yang menulis skripsi anti-Syiah 
akan mendapat poin istimewa. Bahkan, pemerintah juga akan mencetak hasil 
skripsi tersebut. Sebaliknya, warga Syiah sama sekali tidak berhak mencetak 
karya-karya mereka. Pada saat yang sama, pemerintah Arab Saudi mengeluarkan 
dana besar hingga jutaan dolar untuk mencetak buku-buku anti-Syiah di negara 
ini. Lebih dari itu, situs dan media-media anti-Syiah di dalam dan luar Arab 
Saudi seperti Televisi Al-Arabiah, juga mendapat dukungan penuh dari Arab Saudi.

      Komunitas Syiah di Arab Saudi berada di sumber-sumber minyak. 40 persen 
pekerja perusahaan minyak Amerika, Aramco Services Company (ASC) yang juga 
perusahaan utama eksplorasi minyak di Araba Saudi, adalah warga Syiah. Dengan 
demikian, kondisi ekonomi komunitas Syiah tidak ideal. Pemerintah Arab Saudi 
menutup pintu niaga bagi para pengusaha Syiah. Dengan demikian, Arab Saudi 
menerapkan diskriminasi terhadap komunitas Syiah di bidang politik, sosial dan 
ekonomi. 

      Faktor Anti-Syiah di Arab Saudi

      Pada intinya, ada dua faktor yang menyebabkan pemerintah Arab Saudi 
bersikap sentimen terhadap kelompok Syiah. Pertama, keyakinan radikal Wahabi 
yang bertolak belakang dengan Syiah.

      Adapun faktor kedua adalah unsur politik. Fenomena Revolusi Islam Iran 
dianggap sebagai ancaman bagi kerajaan keluarga Saudi yang kini berkuasa di 
Arab Saudi. Munculnya gerakan-gerakan perjuangan Syiah di Irak, Lebanon dan 
Yaman kian mengkhawatirkan para penguasa Arab Saudi. Kondisi inilah yang 
membuat pemerintah Arab Saudi kian menekan warga Syiah di dalam negeri.

      Pandangan sempit dan radikal pemerintah Arab Saudi menyebabkan para 
pejabat negara ini memasukkan diskriminasi dan pelecehan terhadap Syiah dalam 
program kerja pemerintah. Pada mulanya, warga Syiah berharap Raja Abdullah bin 
Abdul Aziz yang menggantikan kakaknya, Fahd bin Abdul Aziz, dapat mengubah 
kondisi yan ada. Akan tetapi hingga kini, tidak ada perubahan akan kondisi yang 
ada. Syiah tetap dimarginalkan di negara ini. Padahal keterlibatan Syiah di 
berbagai kancah malah justru menguntungkan pemerintah Arab Saudi.
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke