Dracula cerita fixi (fiction) yang dibuat film entertaiment, koq dianggap 
masalah  serius. Tetapi, yang serius misalnya Suni di Arab Saudia melrang orang 
Siah beribadah tidak dibicarakan.

  ----- Original Message ----- 
  From: Yudi Yuliyadi 
  To: al-ikh...@yahoogroups.com ; wanita-muslimah@yahoogroups.com ; 
keadilan4...@yahoogroups.com ; eramus...@yahoogroups.com ; 
sab...@yahoogroups.com ; muhammadiyah_soci...@yahoogroups.com ; 
milis-ka...@yahoogroups.com 
  Sent: Thursday, May 06, 2010 10:11 AM
  Subject: [wanita-muslimah] Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib


    
  Dari milis sebelah

  Membongkar Sebuah Kebohongan 

  Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah
  yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu
  fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat,
  maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi
  fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula,
  sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula's
  Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu
  (1922)-yang dibuat ulang pada tahun 1979-dan film-film sejenis yang
  terus-menerus diproduksi. 

  Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?
  Dalam buku berjudul "Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib" karya
  Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini
  dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia , keturunan Vlad
  Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan
  dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika
  peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman-sebagai wakil Islam-dan Kerajaan
  Honggaria-sebagai wakil Kristen-semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut
  berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa
  dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia . 

  Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel- benteng
  Kristen-ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman. Dalam babakan Perang
  Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam
  peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam.
  Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu
  umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara-yang
  cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab-yaitu dibakar hidup-hidup,
  dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan
  cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus
  dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan.
  Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus
  hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi
  ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia: 

  "Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera
  dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah
  robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan
  jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat
  Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu
  mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang
  pernah mereka alami." 

  Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi.
  Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai
  berikut:
  "Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung
  sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban
  itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal."
  Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini
  disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab.

  Pertama, 
  pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan
  dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi
  pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol
  mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok
  mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang
  sendiri. 
  Kedua, 
  Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula
  maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di
  Rumania , Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah
  pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala
  kejelekan, kejahatan dan kelemahannya. 

  Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan
  siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik
  lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok
  Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk
  mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran
  keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat-khususnya
  umat Islam sendiri-yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila
  jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka
  mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan
  tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula
  merupakan vampir yang haus darah. 

  Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya
  Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah
  umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak
  bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya
  dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut
  Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus
  pahlawan dari musuh mereka-pahlawan dari pihak Islam-dan sekaligus untuk
  menunjukkan superioritas mereka. 

  Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain
  Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan
  merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah
  yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov.
  Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar
  merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi
  bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain
  hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan
  bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus
  Darah. 

  Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.
  Selain yang telah dipaparkan di atas, buku "Dracula, Pembantai Umat Islam
  Dalam Perang Salib" karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang
  selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara
  luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap
  dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak
  terjang Dracula yang lainnya. 

  Kesimpulan
  suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan
  yang lain-politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan
  secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan
  terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah
  merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan
  sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini-walaupun masih merupakan langkah
  awal-bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah
  karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.
  Wikipedia pun mengkonfirmasikan eksistensi historis Dracula yang membantai
  ribuan Muslim dengan cara menusuk/mensula (impale)
  Referensi :
  <http://en.wikipedia.org/wiki/Dracula#Allusions_to_actual_history_and_geo>
  http://en.wikipedia.org/wiki/Dracula#Allusions_to_actual_history_and_geo
  graphy
  Sumber : Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib
  Ditulis pada Maret 1, 2008 oleh agungsulistyo (Makalah ini disampaikan
  dalam bedah buku Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib" di
  auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM Oleh: Ragil Nugroho) 

  [Non-text portions of this message have been removed]



  




  =======
  Wiadomosc przeskanowana przez Spyware Doctor - nie znaleziono wirusów ani 
spyware.
  (Email Guard: 7.0.0.18, baza wirusów/spyware: 6.14930)
  http://www.pctools.com
  ======= 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke