Republika OnLine <http://www.republika.co.id/>  > Dunia Islam
<http://www.republika.co.id/kanal/dunia-islam>  > Islam
<http://www.republika.co.id/kanal/dunia-islam/islam-nusantara>  Nusantara 


Mereka
<http://www.republika.co.id/dunia-islam/islam-nusantara/10/05/07/114709-mere
ka-yang-rela-menjual-diri-kepada-allah>  yang Rela 'Menjual Diri' Kepada
Allah


Jumat, 07 Mei 2010, 07:26 WIB

 
<http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/05/07/1147
09-mereka-yang-rela-menjual-diri-kepada-allah> Smaller
<http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/05/07/1147
09-mereka-yang-rela-menjual-diri-kepada-allah> Reset
<http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/05/07/1147
09-mereka-yang-rela-menjual-diri-kepada-allah> Larger

Mereka yang Rela 'Menjual Diri' Kepada Allah

Dengan keterbatasan mendidik generasi Muslim

Hidupnya jauh dari sederhana. Tapi, sepetak lahan 200 meter persegi yang ia
punyai diwakafkan untuk mushala dan madrasah. Mudasir pemilik tanah itu,
mengikhlaskannya untuk sarana pendidikan di bawah Gunung Linggo, Trenggalek,
Jawa Timur. Sebagai pengganti lahan untuk bercocok tanam, ia menggarap
sebidang tanah perhutani di lereng Gunung Abimanyu yang ditanami singkong
sebagai makanan pokok.

Dai desa yang lugu itu, hanya berniat menyelamatkan tunas desa agar dapat
pendidikan lebih baik. Kini, dibantu dai desa yang lain, Mudasir mengurus
300 santri. Madrasah itu juga dilengkapi playgroup ala kampung, TPA, dan
majelis taklim. Semuanya gratis, agar anak-anak tak takut belajar karena
orang tuanya tak mampu membayar.

Di bilangan Rawa Kalong, Gunungsindur, Bogor, sebuah keluarga bersahaja juga
memberikan lahannya untuk fasilitas pendidikan. Di kampung dekat Ibukota
itu, keluarga Nurbaiti memfasilitasi warga untuk menyekolahkan anak-anak di
jenjang playgroup, TPQ, MI, juga majelis taklim.

Rumahnya yang sederhana, bahkan nyaris tak pernah dikunci. Satu ruang
pribadi pun hampir tak ada. Semua, bebas menggunakan fasilitas yang ada di
dalam rumah. Meski di belakang rumah sudah dibangun dua lokal kelas, tapi
para wali santri hingga anak-anak, masih menggunakan bagian dalam rumah. Tak
sekadar mereka menggunakan fasilitas belajar, meja makan pun, isinya juga
boleh disantap siapa saja.

Kisah hebat serupa juga dijalani La Ode Ardin bersama istrinya di Kendari
Sulawesi Tenggara. Dia membeli lahan cukup luas dari penghasilannya sebagai
guru ngaji. Di atas tanah dekat Bandara Kendari itu, ia mendirikan Madrasah
Tsanawiah. Murid asuhnya dari warga jauh dan dekat yang terbelakang kondisi
ekonominya. Sebagian, bahkan anak-anak yang bekerja sebagai pembuat bata
merah.

Di sekolah yang tiga tahun lalu terbuat dari papan rapuh itu, tak ada busana
formal. Anak-anak bebas memakai sandal jepit, bahkan ada yang jarang mandi.
Tapi, kondisi buruk itulah yang bertahap diubah Ardin. Anak-anak yang lahir
berpeluh derita, harus mendapatkan pengetahuan yang layak dan adil. Mereka
perlu diselamatkan, tidak oleh kritik melulu ke negara, tapi dengan tindakan
nyata.

Sulit mengucapkan kata sanjung untuk orang-orang hebat itu. Tapi mereka tak
butuh. Meski dipandang umum sebagai bukan siapa-siapa, tapi mereka telah
melakukan pengabdian hebat lebih dari orang yang dianggap hebat oleh umum.
Diukur dari kekayaan, mereka golongan dhuafa yang untuk makan saja sulit.
Tapi, nyatanya amat kaya. Mereka mampu menyelamatkan sebuah generasi, tidak
dengan pajak atau amunisi yang diperoleh dari korupsi.

Serba sederhana kehidupan mereka bukan berarti tak punya sikap. Dua pekan
lalu, salah satu dari mereka menolak bantuan Rp 100 juta dari sebuah
perusahaan minyak asing. Alasannya sederhana, dana itu diperoleh dari perut
bumi yang tak menyejahterakan rakyat tapi menciptakan kemiskinan yang
turun-temurun. Bahkan, mengorbankan kehidupan masyarakat yang ada di sekitar
area produksi minyak. Lebih khusus lagi, minyak yang disuplai ke negeri
asing itu, digunakan untuk perang memusuhi dan membunuh umat muslim di
belahan negara lain.

Tak hanya perusahaan minyak asing, bahkan seorang pejabat juga ditolak
bantuannya, karena ia ragu sumber uangnya. Niat mereka sederhana, dari bibit
dan pupuk yang baik akan tumbuh tunas baik dan buah yang bermanfaat. Tugas
mulia ini telah mereka pasrahkan ke Allah SWT. "Saya menjual diri untuk
Allah, insya Allah ini perniagaan yang halal," tutur Mudasir. Kejujuran yang
mestinya mencabik nurani kemanusiaan kita.

Red: irf
Sumber: Baznas





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke