Refleksi : Tak ada perbedaan besar antara Ba'asyir dan SBY, karena tidak ada 
perbedaan substanstif yang antagonistis  diantara mereka, tujuan kedua-duanya 
mau membangun negara Islam di Indonesia. Jadi tak mungkin Ba'ashir ditangkap, 
kalau pun ditahan, itu hanya diistirahatkan sebentar. 

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=9bc5c26507941657a80e4ffa2ed018e3&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c&PHPSESSID=d77b1a09cb3f69846cd2429281f9ef8a

Ba'asyir Tidak Takut Ditangkap Lagi 
Minggu, 9 Mei 2010 | 12:30 WIB 



JAKARTA-Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Ustadz Abu Bakar Ba'asyir tidak 
khawatir dengan adanya penangkapan tujuh orang yang diduga teroris di markas 
JAT, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Bahkan dia menyatakan tidak takut jika ditangkap kembali. Padahal, beberapa 
ulama dan habaib mengkhawatirkan jika selanjutnya dirinya akan ditangkap 
kembali.

"Oh nggak. Saya nggak khawatir. Mereka itu terdorong oleh rasa ukhuwah karena 
ada satu saudaranya yang diancam dan dimusuhi. Pasti akan membela. Itu bukan 
masalah khawatir," kata  pegasuh Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, 
Sabtu (8/5).

Selanjutnya, dia mengaku jika kondisi ini dilihat secara dhohir memang 
tampaknya akan terjadi penangkapan kembali seperti dulu. "Orang bilang memang 
akan terjadi seperti itu. Tetapi bagi saya itu tidak masalah," tuturnya.

Sebagai seorang Amir Jamaah Anshorut Tauhid, Ustadz Ba'asyir mengaku akan 
bertanggung jawab. Meskipun begitu, dirinya akan tetap melakukan dakwah seperti 
biasanya. "Ya, dakwah tetap akan jalan terus. Tujuan juga jalan terus. Memang 
Menegakkan Islam itu sunatullah dan banyak halangan," kata dia.

Dia mengakui ada kemungkinan penangkapan tujuh orang itu adalah upaya menyeret 
nama dirinya. "Jelas-jelas itu akan menyeret saya. Mereka itu selalu sentimen 
dengan saya. Terutama Amerika. Bagaimana supaya saya tidak di masyarakat lagi," 
kata Ba'asyir.

Bahkan, Ustadz Ba'syir menyebut intelejen Amerika, CIA , menasehati televisi 
agar tidak memberitakan dirinya setelah lepas dari penjara.  "Mereka maunya 
jangan banyak televisi  yang memanggil saya supaya tidak kenal lagi. Memang 
maunya Amerika itu saya ditahan sampai  tidak ada di masyarakat atau mati," 
tegasnya.

Mengenai langkah antisipasi apa yang dilakukan oleh JAT, dia mengatakan, "JAT 
itu apa adanya dan terang-terangan. Bahkan, setiap ada pengajian yang isinya 
selalu diketahui oleh Polisi.

Sementara Tim Detasemen Khusus 88 tidak menemukan bukti kuat terkait jaringan 
teroris  dari empat orang  yang ditangkap di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, 
Jawa Barat. Penangkapan ini setelah penggerebekan 12 orang di Cikarang.

"Saat penggerebekan yang berlangsung pada tanggal 6 Mei 2010 di Kecamatan Setu, 
tim Densus 88 hanya membawa satu kendaraan jenis Honda Jazz berwarna hitam 
milik tersangka. Tidak ada barang bukti apa pun yang dibawa dari rumah para 
tersangka," ujar Kapolsek Setu, AKP Ipik Gandamanah,  di Cikarang, Sabtu (8/5).

Berdasarkan keterangan Ipik, penangkapan berlangsung sekitar pukul 17.00. Tim 
Densus 88 menangkap empat orang Haryadi Usman, Haris Alfalah, Hendro Sulthon 
dan Lulu yang merupakan istri dari tersangka Haryadi Usman. 

Kronologis penyergapan, kata dia, dilakukan Densus 88 ketika keempat tersangka 
tengah makan sore di salah satu rumah makan bernama Minano yang berlokasi di 
Kampung Cijengkol RT03 RW09, Desa Cijengkol, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi.

"Tim Densus 88 yang berjumlah empat orang dipimpin oleh AKP Shodiq langsung 
menyergap mereka di rumah makan itu tanpa adanya perlawanan apa pun," kata Ipik.

Setelah keempat tersangka diamankan, kata dia, Densus 88 langsung membawa 
mereka ke dalam sebuah mobil untuk dibawa ke Mabes Polri, sedangkan mobil milik 
salah satu tersangka jenis Honda Jazz berwarna hitam diamankan petugas. 

Satu unit sepeda motor milik tersangka lainnya jenis Honda Vario berwarna merah 
dengan nomor polisi B 6358 SNF ditinggal di lokasi kejadian. "Tersangka suami 
istri, yakni Haryadi Usman dan Lulu sebelumnya sudah diintai Densus 88 di rumah 
lamanya Perumahan Narogong Indah, Jalan Gema 9 nomor 12-13, Kecamatan Rawa 
Lumbu, Kota Bekasi," ujarnya.

Ipik menambahkan, penangkapan terhadap kedua pasangan suami istri itu di 
wilayah setu bekasi, karena yang bersangkutan telah berencana pindah pada pekan 
ini ke Perumahan Grand Residence di Blok RR, nomor 238, Kecamatan Setu, 
Kabupaten Bekasi.

Dijelaskan Ipik, Densus 88 pada tanggal 7 Mei 2010 sekitar pukul 19.00, tim 
Densus kembali melanjutkan pencarian barang bukti dengan menggeledah rumah yang 
berada di Grand Residence yang hasilnya tidak diketemukan barang-barang ataupun 
benda yang mencurigakan terkait teroris.

"Sementara rumah lama tersangka Lulu yang berlokasi di Narogong, Kota Bekasi, 
tim Densus 88 sempat membawa bukti-bukti untuk dijadikan petunjuk penyelidikan 
lanjutan dalam bentuk sejumlah dokumen keagamaan," ujarnya.

Penggerebekan oleh Densus 88 di wilayah Kecamatan Setu, berlangsung lancar, 
tidak ada kegaduhan apa pun dalam aktifitas tersebut hingga masyarakat sekitar 
tidak mengetahui kegiatan itu. Namun, masyarakat setempat baru menyadari adanya 
penggerebekan tersangka teroris setelah petugas Polsek Setu melakukan 
pengecekan ke lokasi.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke