kalo yg sosialis bukannya yg tergabung dalam kubu LP3ES dan yayasan obor ?
abah rancu yah ?

aku bingung sama paragraf yang bilang csis sebagai orang sosialis.  bukannya
di jaman mbah harto mereka malah disebut sebagai biangnya neo liberalisme ?
terus menurut abah, yang salah dari strategi substitusi import tuh apa ? apa
mau import terus ?  kayak iptn yg bangkrut karena sparepart pesawat terbang
bikinan pakdhe habibie itu kudu beli semua import dari luar negeri
?substitusi import, justru bagus karena mengurangi import dan menggantinya
dengan local content alias produk dalam negeri.  selain itu strategi mereka
promosi eksport, yaitu menggalakkan ekspor besar besaran.  ini malah
strategi sosialis kayak oom prabowo yg sampean puji puji abis abisan.

kalo saya sih, imho, repelitia I sampai III sudah ok, cuma orientasi
pembangunan berwawasan produk industri sekunder dan tertier pertanian (agro
industri - agro komplex)  harusnya dibangun habis habisan kayak thailand.





salam,
Ari


2010/5/13 H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id>

>
>
> Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq,
> meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan
> nafsi-nafsi (individu), maupun kehidupan kolektif dengan substansi yang
> bervariasi seperti keimanan, ibadah ritual (spiritualisme), karakter
> perorangan, akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah
> non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi,
> administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban
> warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum
> yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan
> perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem
> peradilan dan apresiasi hukum serta rasa keadilan yang hidup dalam
> masyarakat yang berakhlaq.
>
> Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan
> Akal - Iman dan Ilmu. Maksudnya Wahyu memayungi akal , dan Iman memayungi
> ilmu.
>
> *******************************************************************
>
> BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
>
> WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
> [Kolom Tetap Harian Fajar]
> 374. Status Quo
>
> Menurut John T. Zadrozny, Professor of Sociology, University of Wisconsin
> dalam bukunya Dictionary of Social Science, dengan imprint Public Affairs
> Press Washington DC., 1959, tercatat da!am Library of Congress Catalog Card
> No.58-13401, status quo berarti conditions as they are, Lalu menurut
> Laurence Urdang, editor in chief dalam buku The Random House Dictionary of
> the English Language, dengan imprint Random House Inc., New York, 1968,
> tercatat dalam Library of Congress Catalog Card No. 68-19699, status quo,
> juga biasa disehut status in quo, berarti the existing state or condition.
> Istilah status quo menurut kedua orang pakar penulis kamus di atas itu
> kurang lebih sama pengertiannya dengan istilah old established forces yang
> diperkenalkan tokoh Orde Lama Bung Karno, sebagai lawan dari kubu new
> emerging forces. Dalam dunia perpolitikan di Indonesia dewasa ini status quo
> dikaitkan dengan Orde Baru. Dan nenurut kelompok yang menepuk dada sebagai
> reformis sejati predikat status quo itu ditujukan kepada partai Golkar.
> Adapun kriterianya ialah: tidak menolak dwifungsi ABRI, terlibat KKN, tidak
> menegakkan supremasi hukum, memposisikan diri sebagai mesin politik Orde
> Baru, tidak menggunakan budaya demokrasi yang egaliter, tidak setuju
> terhadap otonomi daerah yang seluas-luasnya, tidak mendukung amandemen 1945.
> Saya tidak mengerti apa latar belakang pembuat kriteria ini mengapa kriteria
> yang sangat penting tidak dimasukkan, yaitu tidak setuju kepada kebebasan
> pers, dan tidak setuju dengan menjamurnya partai-partai politik. Tak tahulah
> kita apakah cap status quo itu ditujukan pula atau tidak kepada
> mantan-mantan tokoh Golkar yang loncat bajing ke IPKI atau mantan tokoh
> Golkar yang kalah bertarung dengan Akbar Tanjung lalu membentuk partai baru,
> PKP. Yang menarik pernyataan Sambuaga dalam debat dengan Hikam dilayar kaca,
> bahwa partai Golkar tidak tergolong dalam kekuatan status quo. Bahkan dalam
> iklan di Harian FAJAR, edisi Sabtu, 22 Mei 1999, halaman 4, terpampang
> pernyataan tentang visi, missi, platform dan paradigma baru partai Golkar
> sebagai pelopor reformasi dan anti status quo. Lehih rancu lagi selagi
> maraknya demonstrasi mahasiswa dunia pers selalu memberikan gelar atas
> Arifin Panigoro sehagai pengusaha pro-reformasi. Ternyata Arifin Panigoro
> ini diproses Kejaksaan Agung karena masalah korupsi, jadi sama keadaannya
> dengan HM Soeharto yang juga sementara diproses oleh Kejaksaan Agung.
> Artinya Arifin Panigoro ini termasuk ke dalam golongan penganut status quo,
> karena kena oleh salah satu kriteria status quo yang telah dib├ęberkan di
> atas itu.
>
> Karena demikian rancunya penggunaan istilah status quo dalam dunia poltik
> tersebut, maka lebih balk kita coba mengaitkan istilah status quo kepada
> orde sehelum Orde Baru, yaitu Orde Lama. Saya masih ingat tahun lima puluhan
> di Bandung. Aksi coret-coretan di dinding-dinding, di pagar-pagar yang
> temanya tentang konsep Bung Karno, yaitu Nasakom dan Marxisme yang
> diterapkan di indonesia. Pada mulanya ada coretan: dukung konsep Bung Karno.
> Besoknya coretan itu ditambah dengan kata jangan di depannya, mnenjadilah ia
> jangan dukung konsep Bung Karno. Besoknya ada terselip kata ragu-ragn
> sehingga coretan itu menjadi jangan ragu-ragu dukung konsep BungKarno.
> Besoknya coretan ditambah lagi dengan tanda tanya disertai kata no,
> nienjadilah jangan ragu-ragu dukung konsep Bung Karno? No.
>
> Firman Allah SWT:
> -- YAYHA ALDZYN AMNWA ATQWAALLH WALTNZHR NFS MA QDMT LGHD (S.ALHSYR,18),
> dibaca: ya-ayyuhal ladzi-na a-manu- ittaqutLla-ha waltandzur nafsum ma-
> qaddamat lighadin, artinya:
> -- Hai orang-orang bermnian, taqwalah kepada Allah dan mestilah setiap diri
> manusia itu mengkaji masa lalu untuk orientasi masa depan (59:18).
>
> Dalam konteks status quo Orde Lama perlu dikaji konsep ideologis Bung Karno
> tentang Nasakom, nasionalisme, agama, komunisme dan marxisme yang diterapkan
> di Indonesia. Dalam Seri 37O dan 372 lalu telah dikemukakan Tap
> No.XXV/MPRS/1966 dan Tap No. MPR/1973 yang masih berlaku hingga sekarang,
> yang melarang faham marxisme di Indonesia. Historishe materialisme yang
> atheis dengan metode dialektika atau pertentangan kelas adalah doktrin dari
> Karl Marx yang menganggap bahwa agama itu adalah candu bagi rakyat. Penganut
> marxisme masih tetap eksis di Indonesia, yaitu dengan munculnya marxis gaya
> baru dalam kalangan pemuda, yang radikal, yang menyusup di tengah-tengah
> masyarakat, di tengah-tengah organisasi sosial politik, ibarat
> Carbon-radikal (C.) yang ganas yang menyusup ke dalam inti sel menularkan
> keganasan itu pada DNA yang ditempelinya, sehingga DNA menjadi ganas pula.
> Bahkan Abd Latif nara pidana Gerakan 30 September yang baru dibebaskan mulai
> mempengaruhi generasi muda yang kurang memahami liku-liku pemherontakan PKI
> tahun 1965, dengan mencoba menegakkan benang basah, membangun opini
> menyalahkan pak Harto yang menindas pemberontakan itu. Memang harus diakui
> bahwa Pak Harto telab melakukan kesalahan yang menterapkan strategi
> pembangunan konsep orang-orang sosialis dalam CSIS yang dikenal dengan
> strategi akselerasi modernisasi yang membuahkan KKN. Akan tetapi kesalahan
> Pak Harto tidak boleh membutakan mata kita akan jasa beliau secara ideologis
> yang telah menghancurkan pemberontakan PKI pada 30 September 1965. Itu
> adalah MA QDMT, dibaca ma- qaddamt, mengkaji masa lalu dalam konteks status
> quo Orde Lama yang bersifat ideologis.
>
> Kemudian LGHD, dibaca lighadin, untuk orientasi masa depan, terutama sekali
> masa pasca Pemilu. Rakyat Indonesia yang akan menggunakan hak pilihnya perlu
> berhati-hati, jangan sampai memilih partai-partai politik yang telah
> disusupi oleh para penganut status quo Orde Lama. Sebaiknya dalam kampanye,
> jurkam parpol di samping mengemukakan program-program partainya, tidak pula
> kurang pentingnya untuk menunjukkan bahwa partainya itu bersih dari status
> quo Orde Lama. Ada lagi sebuah ciri khas sikap para penganut status quo Orde
> Lama, yaitu kultus individu, sangat membesarkan bahkan memuja orang yang
> ditokohkannya, seperti urang-orang komunis memuja Lenin, Stalin dan anggota
> Partai Ba'ats yang mengkultuskan Saddam Husein. Salah satu ekspresi
> pengkultusan itu dengan memajang potret tokoh pujaannya itu dalam ukuran
> besar secara menyolok. WaLlahu a'lamu bisshawab.
>
> *** Makassar, 23 Mei 1999
> [H. Muh.Nur Abdurrahman]
> http://waii-hmna.blogspot.com/1999/05/374-status-quo.html
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelism...@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    wanita-muslimah-dig...@yahoogroups.com 
    wanita-muslimah-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke