"…..Tapi saya kira tak demikian. Jika kita baca surat yang memuat sajak itu 
(mungkin karya Kartini sendiri), kita akan tahu bahwa kata `terang' itu mengacu 
ke sesuatu yang sama sekali lain: `terang' adalah saat Kartini menemukan 
identitasnya sebagai seorang muslimah. Ia mendapatkan `terang' itu berkat 
bimbingan ibu kandungnya, yang datang dari keluarga santri, bukan seorang 
wanita berpendidikan Barat, tapi `seorang perempuan tua… dari mana aku 
memperoleh pelbagai kembang yang terbit dari hati'".

Pernyataan Goenawan Mohamad di atas, yang saya kutip dari Catatan Pinggir  
TEMPO Senin, 17 Mei 2010 [1] membuat saya "tercengang", karena yang tercitra 
selama ini, putri Bupati Jepara  itu---meminjam trikotomi priayi-abangan-santri 
Geertz---termasuk golongan priyayi yang cenderung ke falsafah sinkretisme 
kejawen. 

Simak misalnya pendapat Pramoedya Ananta Toer seperti dikutip Angku Asvi Warman 
Adam dalam Republika, Sabtu, 23 April 2005 [2] 

"Bagi Kartini semua agama sama, sedangkan nilai manusia terletak pada amalnya 
pada sesamanya yaitu masyarakatnya." Kartini menemukan dan mengutamakan isi 
lebih daripada bentuk-bentuk dan syariat-syariat, yaitu kemuliaan manusia 
dengan amalnya pada sesama manusia seperti dibacanya dalam rumusan Multatuli 
"tugas manusia adalah menjadi Manusia, tidak menjadi dewa dan juga tidak 
menjadi setan". Menurut Kartini, "Tolong menolong dan tunjang menunjang, cintai 
mencintai, itulah nada dasar segala agama. Duh ,kalau saja pengertian ini 
dipahami dan dipenuhi, agama akan menguntungkan kemanusiaan, sebagaimana makna 
asal dan makna ilahiah daripadanya: karunia." (hlm 235). Sebelumnya Kartini 
telah menegaskan bahwa "agama yang sesungguhnya adalah kebatinan dan agama itu 
bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun sebagai Islam dan lain-lain." (hlm 234)


Wassalam, Darwin


Kirim email ke