Bicara tentang domestifikasi wanita ...  eh, kok kayak kucing.
domestifikasi.  kayaknya salah istilah nih.  bentar, hehehe ..  buka tulisan
mas dwi dulu, ok, ketemu, istilah yang benar, obyektifikasi perempuan.

Saya kan beberapa waktu ini belajar motret.  ceritanya sejak 2007 beli
pocket canon A630 buat motretin anak istri, akhirnya kepingin juga upgrade
ke dslr, pingin supaya bisa bikin potret yang bisa kayak belakangnya kabur,
terus obyek fotonya jelas banget kayak yang loncat keluar (ternyata
istilahnya bokeh dalam fotografi).

Dilema batin mulai terjadi ketika mulai melihat beberapa milis penggemas
fotografi, ternyata banyak sekali acara hunting.  dari hunting tempat
bersejarah (kota tua), hunting alam terbuka (nature) buat foto foto
lanscape, foto makro (itu tuh jepret mata serangga), motret hewan, birding,
dll, tapi yang paling laris dan banyak penggemarnya ternyata hunting model.
apalagi kalau motretnya yang di kolam renang atau motret privat session yg
kategori KT (cari tahu sendiri deh apa singkatannya hehehe ...).  Malah
orang filipin, Spore dan Malay banyak yg ke Indoensia khusus buat hunting
model rame rame ini, soalnya di indonesia marak sekali dan modelnya cantik
cantik ....  wah, daya tarik turisme jenis baru nih ....   tapi ketika
pertama kali ikutan motret, gratisan, yg ngadain sebuah sekolah model,
dilemanya jadi muncul.  pakaian sih ndak aneh aneh ya, casual, kebaya, dan
gaun.  motetnya pun siang hari, di tempat terbuka, siang hari di pabrik gula
eks belanda.  saya dilemanya, kan modelnya ada yang remaja dan anak anak.
kepikir aja, kok dari kecil sudah di eksplotasi ama ortunya yak ?  lha kalau
yg anak gede (remaja dan mahasiswi) mereka ikutan model modelan karena apa
yah ?

pas hunting sih sistemnya simbiosisi mutualisme.  fotografer dapat
kesempatan gratis belajar motret model, sementara si model dapat portofolio,
sementara sekolah modellingnya dapat cara bagus untuk mereview kelebihan dan
kekurangan modelnya dalam bergaya di depan kamera.  kebetulan yg jadi obyek
foto saya ternyata adik kelas kuliah saya di salah satu perguruan tinggi di
sby. anak s1 nya.  dia bilang sih dari ikutan model (dia jadi instruktur),
dia bisa ngebantuin ibunya - dia broken home, lumayan buat tabungan
kuliahnya.  meskipun pacarnya ndak setuju dia jadi model, dan ngelarang
dia.  tapi dia masih lanjut sih jadi instruktur, meski diam diam.  errr,
sampai di sini sih, pandangan saya positif, ada manfaatnya sih jadi model.

belakangan, saya jadi tertarik memberdayakan adik adik kelas alumni sma yg
cewek buat ikutan hunting foto.  Kalau yang motret adik adik kelas sih, fun
fun aja. cuman suka bete malah, ternyata bedanya model dengan yg bukan model
adalah kemampuannya bergaya di depan kamera.  mati gaya .... hehehe ... :))

balik ke dilema yang ada, dari sisi si model sendiri, memang ada sih
dorongan untuk show of force, ini lho saya cantik.  dan kalau portofolio
fotonya bagus bagus, dia bangga, fotografer bangga. foto foto bisa jadi
jalan untuk dapat order baru, baik sebagai model, maupun buat di foto foto,
di satu sisi di sisi pribadi, dia juga suka kalau orang kagum dengan
penampilannya.  tapi ini ternyata juga terjadi di model pakaian muslimah kok
... (kan sekarang industri pakaian muslimah juga lagi booming, model yg
terlibat juga booming dong, dan perasaaan yang terlibat yah sami mawon seh,
apalagi kalau orangnya ternyata itu itu saja).

balik ke mis usa yang muslim, jeng rima fakih, dilema terbesar obyektifikasi
perempuan adalah ketika keinginan untuk tampil itu dieksploitasi oleh sebuah
industri (industri fashion, kecantikan, kosmetik) untuk shape sebuah
worlview, ini lho cantik, ini lho yang namanya keren, kudunya wanita tuh
kayak gini, kalau gak kayak gini, berarti kamu ndak normal.

nah, kalau sudah di level begini, kelasnya ternyata beda je.  yang satu
adalah hal yang privat dan personal, sementara di sisi lain skalanya sebuah
industri.  jadi kalau si personal ingin menafikkan skenario yang dibuat
sebuah industri, gimana caranya yah ?  paling paling sebatas pilihan, gue
ikut sebatas ini dan itu, atau kalau ndak, gue out aja deh.

kayak sri mulyani, huh ?  kalau ndak nyaman lagi dengan dpr dan kpk, yah,
udah saatnya cari lahan lain ? personal vs sistem, berat euy.  kudu jadi
iron man 2 dulu biar bisa, hehehe :))


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke