Maria Eva dan Demokrasi Postmodernisme

Kamis, 20/05/2010 09:05 WIB | email | print | share
MARIA EVA DAN DEMOKRASI POSTMODERNISME :
MENCERMATI ARGUMEN RELATIVITAS DALAM DIMENSI MORALITAS


Tampaknya tidak hanya Jakarta yang akhir-akhir ini ketiban suhu panas 38
derajat celcius. Namun baru-baru ini rakyat Sidoarjo yang sebelumnya
bermandi Lumpur pun ikut-ikutan memanas. Apa karena hawa panas Lumpur yang
kembali memancur? Ternyata bukan, pasalnya ada di Maria Eva. Lho hanya untuk
seorang perempuan? Ya apalagi.

Seperti diberitakan Vivanews.com, setelah Ayu Azhari dan Julia Perez,
penyanyi dangdut, Maria Eva juga akan mencoba peruntungannya di dunia
politik. Maria Eva pun membenarkan dirinya siap maju dalam pilkada. Dia
mengaku sudah dilamar partai politik.

Salah satunya adalah partai berlambang banteng gemuk dengan background
merah.
Karir politik Maria Eva memang bukan seumur jagung. Ia berbeda dengan Julia
Perez atau Inul Daratista. Maria memang sedikit lebih ³terdidik² dengan
tampilan gelar master di ekor namanya. Karir politiknya pun tidak disulap
cepat seperti ayu Azahari. Setidaknya Maria sudah pernah ikut dalam pusara
pemilihan legislatif pada basis konstituennya di Malang medio 2004 silam.
Sayangnya, urutan nomor sepatu belum mengizinkannya melenggang ke Senayan.


Peraturan Mendagri

Isu naiknya Maria Eva sontak menimbulkan pro kontra. Artis yang familiar
dengan goyangan dangdut vulgar itu, digadang-gadang akan merusak basis
akhlak dan moral masyarakat. Terlebih Jawa Timur dan Sidoarjo adalah
sendimentasi basis santri yang lekat pada dinamika kultural kedaerahan.

Menurut khalayak, Maria tidak hanya dinilai cacat moral, namun stigma seksis
akan terus melekat padanya. Ini bukan dogma atau sekedar stigma sepihak,
namun setidaknya lakon artis panas memang masih kerap diumbar olehnya saat
pesta-pesta musik dangdut yang sering dibawakan dengan tampilan panas. Jadi
alangkah wajar apabila rakyat Sidoarjo, terlebih Indonesia amat geram
melihat Maria Eva sendiri yang belum ada niatan pensiun dari wilayah
remang-remang itu.

Menangkap gelagat tidak baik ini dan berpihak pada kegelisahan masyarakat
atas pelbagai kasus seksis pada kontestasi Politik Daerah, Mendagri Gamawan
Fauzi kemudian mengusulkan penambahan syarat tidak cacat moral pada
ketentuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Tidak hanya itu, selain usulan tidak cacat moral, Gamawan juga mengajukan
usulan perbaikan kualitas calon kepala daerah dengan mengacu keharusan
memiliki pengalaman di partai politik atau paling tidak organisasi
kemasyarakatan.

Ternyata kedua usulan yang diajukan Gamawan bukan tanpa sebab. Seperti
dikutip Kompas 23 April 2010 lalu, pada kenyatannya Gamawan berpandangan
bahwa pemerintah perlu melakukan "intervensi" karena rakyat Indonesia
dipandang belum cukup matang dalam memilih pemimpinnya.

Tentu saja bergulirnya niat tulus revisi itu menimbulkan kegeraman bagi
Maria dan artis-artis lakon panas lainnya. Artis bergelar Master bidang
Marketing itu lantas menilai bahwa Usulan Pak Menteri itu terlalu naïf,
mengada-ngada, dan sarat muatan politis.

Lalu Maria Eva dengan gaya khas Postmo-nya justru berbalik mendebat Gamawan
uuntuk memperjelas definisi zina. Apakah yang dimaksud Gamawan adalah zina
mata? Zina badan? Kalau seperti itu Eva berani menjamin semua orang pun
pernah berzina.

Termasuk Gamawan Fauzi sendiri mungkin. Ya tutur kata Maria begitu khas
posmo. Mencari kebenaran pada susunan tiang-tiang huruf yang coba dirubuhkan
pada arti dan definisi.


Posmodernisme Kebenaran

Posmodernisme sebenarnya adalah nama gerakan di kebudayaan kapitalis
lanjutan. Istilah Posmodernisme sendiri muncul pertama kali di kalangan
seniman dan kritikus di New York teratnya pada tahun 1960 dan diambil alih
oleh para teoritikus Eropa pada tahun 1970-an. Tokoh yang sering
diasosiasikan dengan Posmodernisme antara lain Derrida, Lyotard, dan
Baudrillard, yang kesemuanya bernaung atas paying filsafat.

Mengubah realitas menurut Derrida juga berarti mengubah teks, dan teks itu
sendiri adalah realitas kehidupan manusia. Untuk mengubah realitas orang
perlu terlebih dahulu mampu memahami dan menggambarkan realitas. Ada
keterkaitan yang mendalam antara menggambarkan (to describe) dan mengubah
(to transform).

Secara garis besar, yang menjadi konsen dari posmodernisme adalah
membicarakan ulang kembali arti kemapanan. Memperhitungan kembali kebenaran
hakiki. Dalam konstruk Posmo satu tambah satu belum tentu dua. Bisa tiga,
bisa empat, atau bisa juga dua. Namun dua dalam versi yang lain.

Hal-hal semacam itu kita kenal dengan istilah Dekonstruksi. Alih-alih
dekontruksi ingin melakuakn reformasi, anak kandung posmo ini malah semakin
membingungkan. Ia mencoba merusak makna sesuatu yang sebenarnya sudah clear.
Jika ayam berkokok, bagi orang posmo, dia akan berkata, ³Ayam yang mana
dulu?². Ayam Kentucky kenapa tidak berkokok, tapi malah disiram saus. Cantik
memang, tapi hancur. Manis memang tapi sinis. Dekonstruksi mencoba mengajak
anda menari untuk secara bertahap melupakan kebenaran tunggal.

Derrida, misalnya, ia melakukan dekonstruksi tidak hanya bergerak di tataran
filsafat, melainkan juga menyentuh literatur, politik, seni, arsitektur, dan
bahkan ilmu-ilmu alam.

Seperti pada umumnya, dekonstruksi Derrida menggambarkan sebagai suatu
kekuatan untuk mengubah dan membelah kepastian dan pakem-pakem lama yang
tidak lagi dipertanyakan. Di dalam tulisan-tulisannya, Derrida berulang kali
menuliskan bahwa kekuatan untuk mengubah dan membelah itu sebenarnya sudah
terkandung di dalam teks itu sendiri. Yang ia lakukan hanyalah mengaktifkan
kekuatan itu, dan kemudian menyebarkannya ke keseluruhan teks. Derrida mau
melakukan de-sedimentasi terhadap teks, dan membuka kemungkinan-kemungkinan
baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Dalam arti ini ia mau menciptakan gempa di dalam teks.
Hasilnya banyak konteks Dekonstruksi ini coba dicarikan ruangnya dalam
dimensi keislaman. Salah satu hasilnya adalah lahirnya buku Dekonstruksi
Islam Mazhab Ciputat.

Dan diantara penulis-penulisnya tersimpul nama-nama ³beken² seperti Almarhum
Nurcholish Madjid yang dibuku itu menulis tentang ³Menyemarakkan dialog
agama². Lalu ada Kautsar Azhari-Noer yang berkisah dengan judul terang
³Melampaui nama-nama Islam dan postmodernisme². Ada pula Komaruddin Hidayat
yang hasil tulisannya bertajuk ³Dari tahapan moral ke periode sejarah
pemikiran neo-modernisme Islam di Indonesia². Tentu itu hanya sedikit nama.

Hasilnya apa? Salah satu bentuk dekonstruksi itu dengan sembrono dilakukan
Nurcholish Madjid yang mengubah konsep dasar makna Islam menjadi sekedar
³sikap pasrah². Islam mengalami reduksi dari artian sebagai konsep, sistem
kehidupan, menjadi hanya sebuah sikap menyerahkan diri. Jadi apapun
agamanya, jika ia menyerahkan diri kepada Tuhan, sudah termasuk bgaian dari
amar ma¹ruf, bahkan jihad. Kendati orang itu masih suka berselingkuh dengan
Tuhan-tuhan yang lain.


Posmodernisme Demokrasi

Jika Kita coba kembali ke Maria Eva akan kita temukan sesuatu yang unik.
Dimana perseteruan Eva-Gamawan lantas dengan sigap diberi ruang oleh media.
Televisi-televisi pun berusaha mengundang Eva dalam suasana yang lebih
santai dan terbuka. Salah satunya di program Mata Najwa Metro TV kemarin
malam.

Setelah mengundang Musdah Mulia pekan lalu, acara yang dipandu Host Najwa
Shihab itu kini menghadirkan banyak pembicara. Setidaknya Julia Perez, Maria
Eva sendiri, Gamawan Fauzi, dan Syaiful Mujani melakukan wawancara silih
berganti.

Pada sesi wawancara untuknya, Maria terangan-terangan mempertanyakan perihal
keabsahan makna moralitas itu sendiri. Maria berkata setengah bingung dan
skeptik tentang bagaimana ukuran sebenarnya dari standar moralitas. Apa
tapal batas dari kriteria moralitas? Dimana ujungnya? Sekilas, Maria Eva
bertanya lebih sebagai Albert Camus berkisah tentang Tuhan yang tiada ujung
dan pasti tidak memuaskan.

Hingga tiba di penghujung acara, Najwa Shihab akhirnya menyimpulkan bahwa ia
menyadari kegelisahan masyarakat tapi tidak juga menutup mata atas hegemoni
artis panas pada persaingan politik. Akhirnya, dengan nada pasti Najwa
mencoba mengambil jalan tengah dengan mengatakan bahwa pilihan itu akan
berpulang kepada diri kita sendiri. Kalau tidak setuju dengan para artis
panas ini, ya jangan dipilih. Tapi kita pun juga tidak boleh membatasi hak
politik mereka, begitu kira-kira asumsi putri kandung Prof Quraish Shihab
tersebut.

Kita yang tidak setuju memang boleh geram, namun khususnya saya menyadari
bahwa beginilah pahitnya hidup pada negara dengan asas dimana standar
kebenaran ada di tangan rakyat, bukan Allah. Atau mungkin asas demokrasi
bangsa kita sekarang bergeser menjadi tema demokrasi tubuh, demokrasi posmo,
atau mungkin demokrasi ³tergantung pilihan anda².

Dalam analisa lebih jauh, kebenaran dalam sistem posmo inipun bisa
dikompromikan. Sebagai contoh, jika ada kebenaran yang merugikan rakyat,
maka pihak yang dirugikan bisa mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi
untuk membatalkan peraturan tersebut. Kasus ini terjadi saat Jaringan Islam
Liberal meminta pencabutan UU Penodaan Agama yang baru-baru heboh dikalangan
umat Islam. Padahal jika kita menilik dalam kerangka Islam, yang haqq pasti
tidak akan bisa dikompromikan, apalagi dijual. Terlebih-lebih dengan harga
murah.

Oleh karena itu, kita harus mampu melihat secara jernih bahwa relativisme
kini pada dasarnya tidak hanya lahir pada bahasan Pluralisme agama. Namun ia
masuk ke tema-tema yang terbilang sederhana. Seperti sebuah moto yang
terselip pada koran Jakarta "Kebenaran tidak pernah memihak".

Kalau kita memperhatikan dengan seksama, bahasa Najwa Shihab pun sekilas
akan terlihat cantik "Tidak perlu membatasi politik mereka (Baca: Jupe or
Maria Eva)" Jadi seakan kita adalah orang yang tidak bijak dalam kasus ini.
Dalam tradisi Posmo sebisa mungkin kebenaran teologis memang harus mengalami
redusir. Jangankan itu, kebenaran akan timbul dalam varian. Versi-versi yang
antara satu dan yang lainnya saling bertentangan.

Bahkan jangan kaget jika kemudian hari kita pun akan dirigirng untuk
berbenturan pada opini-opini "Jadi yang milih Jupe tidak bermoral dong?²


Tauhid vis a vis Posmodernisme dan Moralisme.

Kita memang perlu mengapresiasi itikad baik yang dikeluarkan Menteri Gamawan
Fauzi. Bagaimanapun beliau punya rasa simpatik terhadap keselamatan moral
bangsa. Namun karena kita menyandarkan moralitas pada standar-standar nilai
kemanusiaan. Kita pun akan khawatir kasus Maria Eva hanya akan tertutup
sejenak dan akan kembali muncul tapi dalam rupa berbeda. Ia seakan lenyap
dari peredaran tapi hakikat dan ruhnya tetap tidak tersentuh. Bukankah ini
serupa dengan adagium menutup satu lobang, lalu tersingkaplah lubang yang
lain?

Sebenarnya, kasus relativitas moral hanya dapat luluh dengan sentuhan tauhid
sebagai pilar asasinya. Islam tidak hanya mengajarkan hambanya untuk
kemudian stabil dalam segi moral, namun labil pada akhlak yang lain. Islam
pun selalu mengaitkan standar kebaikan yang langsung on line kepada
ketetapan Allahuta¹ala. Hamba dalam sistem tauhid hanya mau diatur kepada
ketentuan Allah yang pasti adil dan mengerti kebutuhan hambanya.

Selanjutnya, berbeda dengan moralisme pada standar kemanusiaan dan
postmodernisme, Islam mempunyai batas moralisme yang jelas, tidak sumir
apalagi memberi ruang untuk ditafsirkan sendiri-sendiri. Islam sudah
sempurna dan tidak butuh standar kebenaran kompromistis.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (Q.s.
al-Maidah 3)
Di ayat lain Allah juga mengatakan secara tegas.

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu.
(An-Nahl: 89)
Kita pun dapat memetik pelajaran pada catatan shirah nabawiyah bagaimana
Rasulullah lebih mendahulukan panji tauhid tinimbang acuan moralisme. Oleh
karenanya, Asy Syahid Sayyid Quthb dalam kitab Ma¹alim Fiath-thariqnya,
seperti pernah dibahas pula oleh Ustadz Ihsan Tanjung, dengan cantik
menjelaskan perihal mengapa Allah mengharuskan Nabi Muhammad shollallahu
¹alaih wa sallammengibarkan benderaLa ilaha ill-Allah bukan bendera lainnya.
Bendera tauhid dan bukan bendera moralisme, padahal dengan mengibarkan
benderaLa ilaha ill-Allah bangsa Arab bukan saja enggan menerima seruan
tersebut, tetapi bahkan menentang dengan keras sampai ke tingkat mengusir
dan memerangi Nabishollallahu ¹alaih wa sallamdan para sahabat.

Sayyid Quthb menceritakan bahwa pada waktu Rasulullah s.a.w. diutus, tingkat
kesusilaan di Semenanjung Arab berada dalam titik yang amat rendah dalam
banyak seginya, di samping hal-hal yang mulia yang asli baduwi (di
perkampungan dan bukan di kota, pent) yang masih ada dalam masyarakat.
Ketidakadilan merajalela dalam masyarakat, tergambar dalam kata-kata penyair
Zuhair bin Abi Salma :

"Siapa yang tidak mempertahankan kolam airnya dengan senjatanya akan
diruntuhkan dan siapa yang tidak menganiaya manusia akan dianiaya."

Hal itu digambarkan juga oleh perkataan yang terkenal di zaman jahiliyah:
"Tolonglah saudaramu baik ia menganiaya atau dianiaya."

Minuman yang memabukkan dan perjudian telah menjaditradisi masyarakat yang
tersebar luas. Dan menjadi suatu hal yang dibangga-banggakan.

Pelacuran dengan segala bentuknya telah menjadi tanda dari masyarakat ini,
sebagaimana keadaannya dalam setiap masyarakat jahiliyah, baik yang kuno
maupun yang modern. Barangkali ada yang mengatakan : Sesungguhnya adalah
dalam kekuasaan Muhammad s.a.w. untuk mengumumkan suatu da'wah reforrnasi
yang menyangkut dengan perbaikan budi pekerti, pembersihan masyararakat dan
pensucian diri.Barangkali ada yang mengatakan : Sesungguhnya Muhammad
shollollahu alaihi wa sallampada waktu itu dapat menjumpai jiwa-jiwa yang
baik yang merasa sakit melihat kekotoran ini, sebagaimana dijumpai oleh
setiap reformis susila di setiap lingkungan.

Jiwa-jiwa ini dipengaruhi oleh keluhuran dan keinginan untuk memperkenankan
seruan reformasi dan pembersihan. Barangkali ada orang yang berkata :
Seandainya hal itu diperbuat oleh Rasulullah s.a.w. semenjak dari pertama
kali tentulah ia akan diperkenankan oleh sejumlah orang yang baik, yang
bersih budi pekertinya, yang suci jiwa mereka, sehingga mereka itu lebih
dekat untuk menerima dan memikul aqidah, dan tidak perlu lagi mengobarkan
seruan La ilaha illa-llah yang menimbulkan opposisi yang kuat semenjak
permulaan jalan.

Karena itu amat wajar jika istri nabi Aisyah sampai-sampai harus mengatakan:
³Andaikan awal yang diturunkan dari Al-Qur¹an adalah jangan minum khamr,
niscaya mereka berkata ³Demi Allah kami takkan meninggalkan khamr². Andaikan
awal yang diturunkan dari Al-Qur¹an adalah jangan berzina, niscaya mereka
berkata ³Demi Allah kami takkan meninggalkan zina². Akan tetapi awal yang
diturunkan ialah surah-2 detail mengenai surga dan neraka, sehingga hati
menjadi teguh mengingat Allah. Barulah kemudian (lambat-laun) diturunkan
(daftar perkara) halal dan haram.²

Sayyid Quthb-pun mempertegas itu pula dalam kitab Fiqhud da¹wah-nya bahwa
ketertundukkan kepada Allah membebaskan manusia dari ketertundukkan kepada
yang lainnya dan menyelamatkannya dari menyembah sesama hamba kepada
menyembah kepada Allah. Kehidupan manusia akan baik, lurus, meningkat, atau
menjadi kehidupan yang layak dnegan manusia kecuali dengan tauhid.

Disitu jelas, bahwa hamba Allah sudah memiliki kebenaran moral versi
tersendiri yang pasti kokoh, karena ia turun langsung dari Sang
penciptanNya. Yang mengerti betul siapa hambaNya dan Bagaimana cara
mengaturnya.

Kita sebagai umat Islam akhirnya harus jeli melihat banyaknya permainan
kata-kata yang dilontarkan kaum postmo yang pada hakikatnya adalah menipu.
Permainan yang mudah sekali ditebak dan sudah jelas tujuannya karena selalu
berkutat pada problem mengincar tahta-tahta duniawi. Semoga kita selalu
dilindungi oleh Allah dari tipu daya dunia fana ini.
Allahua¹lam



Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi, Konselor Muslim; Aktif di Kajian Zionisme
Internasional

http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/muhammad-pizaro-novelan
-tauhidi-konselor-muslim-maria-eva-dan-demokrasi-postmodernisme.htm





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke