http://www.gatra.com/artikel.php?id=137940


Pendapat Christine Hakim
Indonesia Kehilangan Akar Budaya


Jakarta, 22 Mei 2010 16:16
Aktris senior Christine Hakim menilai, Indonesia semakin kehilangan akar 
budayanya, karena cenderung mudah tergerus oleh kebudayaan asing, dan 
mengakibatkan kehilangan jati diri sebagai satu bangsa.

"Memang berat untuk dikatakan, dan berat pula untuk diakui bahwa Indonesia 
kehilangan akar budaya. Namun, inilah hal yang semakin terasakan," ujar 
perempuan kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, pada 25 December 1956 itu, dalam 
sebuah diskusi, di Jakarta, Jum`at (21/5) petang.

Dalam diskusi itu Christine mengemukakan, jika sejumlah bangsa lain di Asia 
Tenggara semakin mengukuhkan kebudayaan nasionalnya, maka Indonesia justru 
terasa kian gamang.

"Kita bisa saksikan bila ada seorang perempuan berbalut kain sari, maka 
pastilah dia dari India. Namun, orang asing bisa menilai saya sebagai orang 
Eropa atau Amerika Latin sekalipun saya menggunakan pakaian adat satu wilayah 
di Indonesia. Dalam hal ini beruntung ada batik yang agak dikenal masyarakat 
dunia sebagai khas Indonesia," kata salah seorang tokoh pahlawan versi majalah 
Time pada tahun 2002.

Perempuan bernama lengkap Herlina Christine Natalia Hakim itu mengemukakan, 
kebudayaan Indonesia ibarat ingin bangkit atau bangun, tetapi belum melek 
karena tingkat kesadaran bangsanya belum terbentuk secara tegas. "Seperti lakon 
Hantu Keramas," katanya sambil tersenyum.

Pemeran utama dan peraih Piala Citra Festival Film Indonesia dalam film Tjoet 
Nja` Dhien (1988) tersebut menyatakan, akar budaya Indonesia tidak kokoh 
sebagai wujud gagalnya sistem pendidikan Indonesia, selain belum terbentuknya 
kebijakan politik mengenai kebudayaan.

"Selama ini kebijakan politik baru sebatas politik itu sendiri. Sementara itu, 
kebijakan politik terhadap pendidikan, dan kebudayaan, masih rapuh," katanya.

Oleh karena itu, Christine mengusulkan dibentuknya kebijakan pendidikan dan 
kebudayaan yang lebih melindungi kearifan masyarakat lokal Indonesia. 
"Keberagaman budaya, dan daya tahan masyarakat lokal inilah yang di masa lalu 
memperlihatkan akar budaya dan jati diri bangsa kita," demikian Christine. [EL, 
Ant] 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke