BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM 
 
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU 
[Kolom Tetap Harian Fajar]
924. Merespons Analisis Aswar Hasan dan HM Sirajuddin Berjudul: "Penanganan 
Terroris Mencurigakan"

Dalam Harian Fajar edisi Sabtu 15 Mei 2010 dimuat analisis tsb. Respons dalam 
kolom ini berupa cuplikan kumpulan berita.

Saya telah dianiaya
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2010&dt=0517&pub=Utusan_Malaysia&sec=Luar_Negara&pg=lu_02.htm

JAKARTA 16 Mei - Seorang ulama Indonesia yang didakwa berperanan sebagai ketua 
kumpulan pengganas, menafikan penglibatannya dengan sekumpulan suspek militan 
yang ditahan dalam beberapa serbuan oleh pihak berkuasa Indonesia pada bulan 
ini. Media tempatan melaporkan, suspek itu telah ditahan pada 6 Mei dalam satu 
serbuan antikeganasan di sebuah bangunan di selatan Jakarta yang digunakan 
sebagai pangkalan kumpulan Jemaah Anshorut Tauhid (JAT), kumpulan yang 
diasaskan oleh Abu Bakar Ba'shir pada 2008.

Bagaimanapun, Abu Bakar memberitahu akhbar Indopos bahawa beliau tidak 
mempunyai kaitan dengan kumpulan militan seperti yang didakwa. "Saya telah 
dianiaya. Saya tidak tahu dan tidak terlibat dengan sebarang pergerakan serta 
latihan di Aceh. Dari segi organisasi dan aktiviti, JAT berbeza dengan 
kumpulan-kumpulan pengganas di Aceh. Tetapi JAT masih dikaitkan dengan 
pergerakan militan," katanya seperti yang dipetik akhbar terbabit.- AFP

Penangkapan Jamaah Ba'asyir Tak Terkait Dengan JAT
May 11th, 2010
JAKARTA (Berita SuaraMedia) - Ahmad Michdan dari Tim Pembela Muslim (TPM) usai 
bertemu perwakilan Densus 88 di Bareskrim Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel 
menjelaskan, Densus 88 mengatakan bahwa penangkapan tersebut tidak terkait 
dengan JAT. Padahal sebelumnya penyidik Densus 88 telah melakukan rekonstruksi 
di markas JAT, di mana penyidik menggunakan pameran figuran yang dikalungi tag 
name bertuliskan Abu Bakar Ba'asyir. 

***

Densus Salah Tangkap 13 Aktivis Pengajian Dilepas Diam-Diam
JAKARTA (voa-islam.com) - Penangkapan 16 orang aktivis Islam di lokasi 
pengajian JAT, 6 Mei 2010 lalu ternyata salah tangkap. Polisi sudah melepaskan 
korban salah tangkap secara diam-diam. Mereka dibebaskan karena tidak terbukti 
terlibat dalam pendanaan aktivitas kelompok teroris di Aceh yang dikatakan oleh 
Mabes Polri sebagai tim supporting. Pembebasan didampingi oleh TPM dan pihak 
keluarga sekira pukul 21.00 WIB, Kamis (13/5/2010). Ketua Pengurus TPM Guntur 
Fatahilah menjelaskan, proses pembebasan tidak serentak tapi dilakukan secara 
diam-diam. Satu per satu dikeluarkan dengan kendaraan pribadi dari Rutan 
Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (13/5/2010) malam. Buntut salah tangkap Densus 
88 terhadap para aktivis pengajian itu, TPM akan melayangkan gugatan 
praperadilan terhadap Mabes Polri.

***
 
Penggerebegan Teroris di Solo
http://fb.me/yuVc2IAe
Kesaksian seorang produser berita sebuah stasiun televisi indonesia.
Oleh : Hanibal Wijayanta
Hari ini, Kamis (13/5) polisi langsung bergerak ke Solo, di mana komandan 
lapangan Densus 88 Kombes Muhammad Syafei sempat memberikan clue kepada tim 
liputan kami bahwa, "Akan ada gunung meletus di Solo." Kemarin di Solo Densus 
88 menangkap tiga orang tersangka, dan hari ini menyerbu sebuah rumah bengkel.

Namun ada yang menarik dalam penggerebegan teroris di Solo kali ini. Sebab, 
sebelum penggerebegan itu, polisi sempat menggelar briefing secara terbuka 
terlebih dahulu dan persiapan-persiapan seperlunya di sebuah rumah makan. Di 
tempat itu pula -di pinggir jalan- mereka baru memakai rompi anti peluru, 
memasang sabuk, penutup kepala, senjata api dan persiapan-persiapan lain. Acara 
persiapan pra penyerbuan yang sangat terbuka seperti ini jarang terlihat pada 
penggerebegan sebelumnya, yang biasanya polisi sudah memakai pakaian tempur 
lengkap dan masuk ke lokasi di malam hari atau pagi buta. 

Setelah bergerak hanya sebentar, tiba-tiba mobil-mobil Densus 88 itu berhenti 
dan mengepung sekitar lokasi dan kemudian memasuki rumah yang dipakai menjadi 
bengkel. Para wartawan yang mengikuti mereka sampai tergopoh-gopoh. Mereka 
tidak mengira rumah sasaran sedekat itu, yang hanya 200 meter, dan terlihat 
jelas dari restoran tadi!

Maka drama penggerebegan yang tidak lucu itu pun terjadi. Para wartawan bisa 
mendekat ke TKP bahkan sampai ke pintu rumah bengkel tadi. Para anggota Densus 
88 itu pun bisa diambil gambarnya dalam jarak dekat. Meskipun demikian mereka 
juga sempat disuruh keluar terlebih dahulu, "Nanti dulu-nanti dulu, belum 
siap," kata seorang anggota Densus 88. Para wartawan sempat bertanya-tanya, 
apanya yang belum siap. Namun ketika boleh masuk, para wartawan melihat bahwa 
barang bukti berupa sepucuk M-16, pistol, peluru, dan buku-buku jihad(!) sudah 
tersusun rapi di lantai. Hmmm. Sigap nian polisi kita. 

Perilaku yang aneh tampak ketika para perwira Densus 88 termasuk komandan 
lapangan mereka, Kombes Muhammad Syafei datang ke rumah bengkel itu dan mau 
diambil gambarnya oleh para wartawan, bahkan dalam posisi close-up. Padahal 
selama ini dia dikenal paling alergi dengan kamera wartawan. Tak segan-segan ia 
menyuruh wartawan mematikan kamera atau menghapus gambar yang ada dirinya.

***

Kita tutup tulisan ini dengan Firman Allah:
-- YAYHA ALDzYN  aAMNWA AJTNBWA KTsYRA MN ALZhN AN B'ADh ALZhN ATsM WLA TJSSWA 
(S. ALhJRAT, 49:12), dibaca: ya-ayyhuhal ladzi-na a-manuj tanibu- katsi-ram 
minazh zhannni inna ba'dhazh zhanni ismun wala- tajassasu-, artinya:
-- Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, 
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah mengintip di 
belakang mereka (spy not behind their backs). WaLlahu a'lamu bisshawab.

*** Makassar, 23 Mei 2010
 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2010/05/924-merespons-analisis-aswar-hasan-dan.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke