BIOGRAFI  SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB 1/9
(1115 - 1206 H/1701 - 1793 M)

 
Nama Lengkapnya 
Beliau adalah Syaikh Al-Islam Al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab bin Sulaiman 
bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin 
Al-Masyarif At-Tamimi Al-Hambali An-Najdi. 

 

Tempat dan Tanggal Lahirnya 
Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di 
kampung `Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, 
ibukota Arab Saudi sekarang. Beliau meninggal dunia pada 29 Syawal 1206 H (1793 
M) dalam usia 92 tahun, setelah mengabdikan diri selama lebih 46 tahun dalam 
memangku jabatan sebagai menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi . 

 

Pendidikan dan Pengalamannya 
Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahab berkembang dan dibesarkan dalam kalangan 
keluarga terpelajar. Ayahnya adalah ketua jabatan agama setempat. Sedangkan 
kakeknya adalah seorang qadhi (mufti besar), tempat di mana masyarakat Najd 
menanyakan segala sesuatu masalah yang bersangkutan dengan agama. Oleh karena 
itu, tidaklah heran apabila kelak beliau juga menjadi seorang ulama besar 
seperti kakeknya. 

Sebagaimana lazimnya keluarga ulama, maka Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahab 
sejak masih kanak-kanak telah dididik dan ditempa jiwanya dengan pendidikan 
agama, yang diajar sendiri oleh ayahnya,  Syaikh `Abdul Wahab. 

Sejak kecil, Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahab sudah kelihatan tanda-tanda 
kecerdasannya. Beliau tidak suka membuang waktu dengan sia-sia seperti 
kebiasaan tingkahlaku kebanyakan anak-anak lain yang sebaya dengannya. 

Berkat bimbingan kedua ibu bapaknya, ditambah dengan kecerdasan otak dan 
kerajinannya, Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah berhasil menghafal 
Al-Qur'an 30 juz sebelum berusia sepuluh tahun. 

Setelah beliau belajar pada ibu bapaknya tentang beberapa bidang pengajian 
dasar yang meliputi bahasa dan agama, beliau diserahkan oleh ibu bapaknya 
kepada para ulama setempat sebelum dikirim ke luar daerah. 

Tentang ketajaman fikirannya, saudaranya Sulaiman bin `Abdul Wahab pernah 
menceritakan : 

"Bahwa ayah mereka, Syaikh `Abdul Wahab merasa sangat kagum atas kecerdasan 
Muhammad, padahal ia masih di bawah umur. Beliau berkata: `Sungguh aku telah 
banyak mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan anakku Muhammad, terutama di 
bidang ilmu Fiqh.' " 

Syaikh Muhammad mempunyai daya kecerdasan dan ingatan yang kuat, sehingga apa 
saja yang dipelajarinya dapat difahaminya dengan cepat sekali, kemudian apa 
yang telah dihafalnya tidak mudah pula hilang dalam ingatannya. 

Demikianlah keadaannya, sehingga kawan-kawan sepersekolahannya kagum dan heran 
kepadanya. 

 

Belajar di Makkah, Madinah dan Basrah 
Setelah mencapai usia dewasa, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab diajak oleh 
ayahnya untuk bersama-sama pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun 
Islam yang kelima - mengerjakan haji di Baitullah. Setelah selesai menunaikan 
ibadah haji, ayahnya terus kembali ke kampung halamannya. Adapun Muhammad, ia 
tidak pulang, tetapi terus tinggal di Mekah selama beberapa waktu, kemudian 
berpindah pula ke Madinah untuk melanjutkan pengajiannya di sana. 

Di Madinah, beliau berguru pada dua orang ulama besar dan termasyhur di waktu 
itu. Kedua-dua ulama tersebut sangat berjasa dalam membentuk pemikirannya, 
yaitu Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syaikh Muhammad Hayah 
al-Sindi. 

Selama berada di Madinah, beliau sangat prihatin menyaksikan banyak umat Islam 
setempat maupun pendatang dari luar kota Madinah yang telah melakukan 
perbuatan-perbuatan tidak sesuai dan tidak sepatutnya dilakukan oleh orang yang 
mengaku dirinya Muslim. Beliau melihat banyak umat yang berziarah ke makam Nabi 
maupun ke makam-makam lainnya untuk memohon syafaat, bahkan meminta sesuatu 
hajat pada kuburan maupun penghuninya, yang mana hal ini sama sekali tidak 
dibenarkan oleh agama Islam. Apa yang disaksikannya itu menurut Syaikh Muhammad 
adalah sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. 

Kesemua inilah yang semakin mendorong Syaikh Muhammad untuk lebih mendalami 
pengkajiannya tentang ilmu ketauhidan yang murni, yakni, aqidah salafiyah. 
Bersamaan dengan itu beliau berjanji pada dirinya sendiri, bahwa pada suatu 
ketika nanti, beliau akan mengadakan perbaikan (ishlah) dan pembaharuan 
(tajdid) dalam masalah yang berkaitan dengan ketauhidan, yaitu mengembalikan 
aqidah umat kepada sebersih-bersihnya tauhid yang jauh dari khurafat, tahayul 
dan bid'ah. Untuk itu, beliau harus mendalami benar-benar tentang aqidah ini 
melalui kitab-kitab hasil karya ulama-ulama besar di abad-abad yang silam. 

Di antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah 
karya-karya Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau adalah mujaddid besar abad ke 
7 Hijriyah yang sangat terkenal. 

Demikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga 
Syaikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat(salinan) Ibnu Taimiyah. 
Khususnya dalam aspek ketauhidan, seakan-akan semua yang diidam-idamkan oleh 
Ibnu Taimiyah semasa hidupnya yang penuh ranjau dan tekanan dari pihak 
berkuasa, semuanya telah ditebus dengan kejayaan Ibnu `Abdul Wahab yang hidup 
pada abad ke 12 Hijriyah itu. 

Setelah beberapa lama menetap di Makkah dan Madinah, kemudian beliau berpindah 
ke Bashrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang 
diperolehinya, terutaman di bidang hadith dan musthalahnya, fiqh dan usul 
fiqhnya, gramatika (ilmu qawa'id) dan tidak ketinggalan pula lughatnya semua. 

Lengkaplah sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang 'alim yang kemudian 
dikembangkan sendiri melalui self-study(belajar sendiri) sebagaimana lazimnya 
para ulama besar Islam mengembangkan ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru 
hanyalah sebagai modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan 
digali sendiri oleh yang bersangkutan.

(bersambung ke 2/9)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke